Forking dan Partisipasi Penuh

February 15, 2002

Forking, dalam pengembangan perangkat lunak, terjadi jika terbentuk beberapa cabang proyek baru yang saling berkompetisi, dan masing-masing sulit untuk bertukar kode. Forking lazim terjadi di dalam pengembangan UNIX versi BSD, menjadi FreeBSD, OpenBSD, dan BSDI. Mengapa sampai terjadi forking hingga tiga cabang dalam pengembangan BSD sedangkan di relatif Linux tidak ada?

Percabangan di Linux yang sering terjadi biasanya berupa pseudo forking. Fenomena ini seolah-olah terjadi percabangan dalam pengembangan perangkat lunak padahal tidak. Jika dalam forking, masing-masing fihak tidak dapat saling bertukar kode, maka pada pesudo-forking, masing-masing pihak sebetulnya menggunakan kode-kode dasar yang sama, dan pengembangan masing-masing saling melengkapi. Contoh pseudo-forking ini adalah berkembangnya banyak distribusi Linux.

Lalu, kembali kepada pertanyaan semula, kenapa forking terjadi sangat signifikan pada pengembangan BSD, sementara relatif tidak ada di Linux? Padahal dalam struktur pengembangan perangkat lunak BSD, cenderung terpusat, dan ada otoritas yang mengontrol terjadinya forking. Sedangkan di Linux nyaris tidak ada otoritas (pure Bazaar – meminjam istilah Eric S Raymond).

Harry Spencer, mengemukakan bahwa dalam demokrasi terbuka, revolusionaris yang potensial lebih mudah bekerja di dalam sistem dalam mencapai tujuannya, daripada menyerangnya. Atau jika dianalogikan dengan pasar terbuka, barang yang sampai di konsumen adalah barang yang terbaik. Dan bagi perusahaan besar yang sudah mapan, relatif sulit untuk membuat entri pasar baru. Proses yang terbuka dengan barrier entry yang rendah, akan mendorong partisipasi.

Jadi dalam budaya open source yang bersifat bazaar, semakin sedikit pihak yang memegang otoritas, maka akan semakin dinamis perkembangannya, tanpa ada friksi yang berarti. Perkembangan yang tidak terkontrol telah menemukan bentuknya. Mungkin itu sebabnya mengapa di Linux tidak ada forking yang berarti.

Lifebook

February 9, 2002

Perasaan mulai penat aja.. bawaan bayi, suka bosen. Alhamdulillah bisa ngumpulin duit buat beli Lifebook kecil yang nemenin begadang tiap malem. Lifebook Fujitsu Siemens ini mang rada istimewa, kerna kecil (10″), enteng pisan. Trus, Prosesornya Transmeta Crusoe 600-an MHz apa yah. Lupa gue. Hardisknya 15 Giga, 3 Giga untuk Windows, bawaan pabrik. Sisanya disikat untuk Slackware 7.0, 5 Giga (sambil nostalgia layar item putih, atau kalau bosen pake fvwm95 yang enteng), sisanya buat ngoprek Rimbalinux cuman lom sampe kompel.

Peripheralnya gak banyak, cuma ada USB dua biji, Output monitor, output sound, slot PCMCIA satu biji, sama klitoris mouse. :). Bulan depan mo beli PCMCIA ethernet, udah ngetekin yang bekas harganya £32-Xircom. Ntar kalau hardware&peripheralnya dah dikenal semua ma slackie.. windowsnya gue gusur juga bakalan.

Lifebook ni, rencana mo dipake buat ngoprek Rimbalinux (terutama buat nyari bug, kalo buat ngompel..ah sayang dong yah..), terus mo dibuat nulis. Makanya pengen buru instal lyx. Dan terakhir tentu buat mrogram. Pengen bikin aplikasi untuk ke depan, proyek ndiri hehe. Sekarang masih bikin SRS-nya. Ehm.. terus waktu buat main kapan yah? *pengen banget pulang, jalan ke semeru sambil ngisep mild*

Mahalnya Konsistensi

February 2, 2002

KPLI, kelompok pengguna linux Indonesia.. organisasi mandiri terbitan masyarakat komunitas linux di Indonesia. Bentukannya spontan, dan dari bawah, sebuah hal yang jarang di nesia. Namun bentukan komunitas yang mandiri, dan cenderung merupakan simbol pemberontakan terhadap kemapanan, bisa jadi menggejala di komunitas IT. KPLI, dengan tujuan utama mewadahi pengguna Linux di Indonesia, secara nggak sadar juga merupakan manifestasi pemberontakan terhadap kemapanan Micros()ft, perlawanan simbolis terhadap pembajakan. Barusan juga denger tentang IndoWLI – www.indowli.or.id, Indonesian Wirelesslan Community Information Source, bentuk pemberontakan terhadap kesewenangan pengaturan bandwith 2.4G. Eh aduh.. bahasa gue kok jadi provokatif gini yah hehe

Balik ke KPLI, saat ini gue rasa rada melempem (tapi ini tentu subyektif, sebab indikator yang dipakai cuman keberadaan website mereka, dan intensitas posting di milis-milis). Padahal KPLI ini punya potensi penggerakan komunitas yang tinggi mengingat pihak-pihak yang aktif di dalamnya termasuk militan, dan memiliki \’idealisme\’ dalam bentuk perbaikan Informasi dan Teknologi di Indonesia. Cuman mungkin karena sifatnya yang voluntary, jadi rada angin-anginan. Kalau nggak sibuk, ya aktif, cuman kalau banyak proyek, ya dibiarin aja dulu non aktif.

Ehmm.. jadi tambah serius nih.. lebih baik gue tunda dulu heheh.. Nanti bikin lagi tulisan yang agak terstruktur tentang KPLI ini. Tujuan gue nulis ini adalah biar aktvis-aktivis di KPLI bangkit lagi kepeduliannya terhadap organisasi ini. Paling nggak ini sebagai pengantar.

Point yang pengen gue garis bawahi adalah, bahwa di KPLI, sebagaimana kebanyakan organisasi-organisasi di Indonesia lainnya, terlalu banyak ide-ide besar. Rancangan kegiatan yang diusulkan selalu berskala besar, dan sekali tembak langsung selesai. Padahal, yang KPLI butuhkan adalah kegiatan-kegiatan kecil namun konsisten. Kegiatan yang terencana dan nggak sekali jalan. Kegiatan yang mengikat para komporer, suhu, pengguna simpatisan dan semua pihak ke dalam satu komunitas yang kuat dengan komunikasi yang sehat. Udah dulu ah..gaya bahasa gue udah kayak birokrat. *nyruput kopi asem yang mulai dingin*