Berdiri di Atas Kari

July 24, 2002

konsepsi-konsepsi peradaban ternyata sudah diusung Pak Karno. Barusan dengerin orasi-mp3nya. Tentang Pancasila. Tentang berdikari. Mungkin sekarang sudah usang, atau tetap kontekstual. Entah. Yang pasti, kita harus punya itu agar bisa eksis ditengah desakan eksploitasi kapitalis.

Masyarakat madani? mungkin nanti suatu saat pengen baca itu konsepsi kemasyarakatan. Terus ada yang perlu direbut. Teknologi Informasi. Jepang bisa melakukannya dulu di awal kebangkitan industrinya. Bagaimana Ibuka, salah satu pendiri sony, pergi ke amerika dan pulang dengan membawa dokumen transistor technology dari bell laboratory, yang saat itu berada paling depan. Dikembangkannya sendiri.

Dan sekarang saat gegapnya teknologi informasi dengan tulang punggung Internet, kesempatan terbuka luas. Ada beberapa isu yang mencuat. Digital divide. Literasi. Semua gerak kita harus merendahkan barrier entry, memperkecil digital divide. Duh capek juga ya mikir di dunia awang-awang. Setelah gue baca lagi, tulisan gue bebusa busa hehehe..waktunya ngoprek kembali. Sebentar lagi pulang ke tanah air. Insya Allah siap secara mental untuk menuangkan semuaa isi kepala ke dalam rencana. Dan melaksanakannya.

Jangan Bicara

July 16, 2002

jangan bicara soal idealisme
mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
atau berapa dahsyatnya
ancaman yang membuat kita terpaksa onani
jangan bicara soal nasionalisme
mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
atau tentang kita yang buat
bisul tumbuh subur
di ujung hidung yang memang tak mancung

jangan perdebatkan soal keadilan
sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
jangan cerita soal kemakmuran
sebab kemakmuran hanya untuk anjing si Tuan Polan

lihat di sana… di Urip meratap
di teras marmer direktur Mutat
lihat di sana… si Icih sedih
di ranjang empuk waktu majikannya menindih
lihat di sana…. parade penganggur
yang tampak murung di tepi kubur
lihat di sana……. antrian pencuri
yang timbul sebab nasinya dicuri

jangan bicara soal runtuhnya moral
mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
atau tentang tanggung jawab
yang kini dianggap sepi
(ciptaan Iwan Fals)

Baratisme

July 9, 2002

Setelah hampir setahun di negeri \”barat\” ngeliat sendiri bagaimana masa depan menurut \”barat\” itu. Yang menjadi arus utama, adalah kapitalisme (di sisi ekonomi) dan hedonisme (di sisi budaya). Dari sisi politik, machiavellisme? Ya, itu gambar besar yang aku tangkap. Semuanya tidak berdiri sendiri, tapi membentuk peradaban. Peradaban yang timpang (kebetulan tahu angka-angka, dan TIMPANG bener-bener) serta menuju ketidak pastian. Titik nadir yang buram.

Sialnya, banyak masyarakat kita (Indonesia, timur) menganggap bahwa inilah masa depan. Semuanya bergerak menuju ke sana. Di hormat itu Kapitalisme, hedonisme, machiavellisme. Padahal, menurutku pribadi, negara kita kaya akan konsepsi peradaban. Kaya budaya. Kaya raya. Punya potensi untuk menjadi trendsetter. Bergerak menuju ke arah yang dimiliki sendiri, dan kontekstual. Tidak harus membarat. Tidak harus kapitalis. Tidak harus hedonis. Tidak harus machiavellis. Sekali lagi bertanya pada diri, lalu apa bentuknya? Sosialis? Komunis?. Ideologi tanpa ideologi? belum tahu. yang jelas, arah pemikiran kesitu harus dikondisikan. Satu-satunya cara adalah pencerdasan masal. Pendidikan harus murah. Buku-buku harus tersebar. Empowering. Lalu dialog memunculkan pertanyaan baru. Apakah pemerintah ingin rakyatnya berdaya? pintar? ataukah ingin rakyatnya bodoh sehingga gampang disetir, bisa diperintah. Kekuasaan langeng. Liat aja ye?

Kembali tentang kapitalisme dan hedonisme, inget buku lama terbitan mizan, karangan Yasraf Amir Pilliang. Judulnya Sebuah Dunia yang Dilipat. Itu buku bagus menurut gue. Menyoroti tentang dromologi, semua harus bergerak, dan cepat. Diam berarti mati. Juga dasar peradaban yang dibangun sekarang. Ekonomi hawa nafsu. Arah ekonomi adalah pemuasan nafsu sebanyak-banyaknya. Nafsu apa saja.

Tidur dulu. Di temani Iwan Fals..

oh matahari..masih setia..menyinari rumah kita..
tak kan berhenti2x menghangatkan hati kita
Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai luka ini mampu merobek robek hati
Tenang..tenanglah kawan..tenang2x seperti karang..
zz.zz.zzz..z

Arus Utama

July 5, 2002

Kebisaan Microsoft dalam menyetir perkembangan komputasi memang tidak diragukan. Dari sisi framework, dalam menghadapi j2ee, .net framework yang dikeluarkan tidak tanggung-tanggung. Bytecode JVM, diimbangi dengan CLR. Bahkan hampir semua bahasa pemrograman yang dikeluarkan sebelumnya, dibuatkan versi .net-nya ini sehingga bisa saling berbagi komponen lewat CLR.

Konsep web service, dimana komponen dalam software tidak berada di satu mesin, terdistribusi, dan ditukarkan satu sama lain, juga menjadi salah satu feature built in yang dikeluarkan .net. Java tidak kesulitan menyesuaikannya, sebab j2ee yang melayani enterprise, sudah menyediakan featurenya. Yang perlu dilakukan adalah membuat fungsi yang menyambungkannya.

Dalam hal ini, Sun membeli konsep microsoft. Ya begitu, keduanya saling jual beli. Konsep virtual machine, juga dibeli microsoft, meskipun tentu masih diatas platformnya sendiri.

Di luar dua mainstream yang disetir oleh perusahaan itu, tentu ada komunitas alternatif yang relatif tidak bergantung pada perusahaan. Favorit gue. C dan C++ bisa bertukar komponen lewat Corba (Java dan .net juga sudah bikin class API-nya). Web Service dengan SOAP, UDDI, WSDL (logikanya) bisa ditangani oleh python, perl atau bahkan php? Tentu dengan dukungan Apache.

Jika komunitas alternatif ini mengikuti mainstream yang ada, mungkin empot-empotan. Kenapa tidak bikin mainstream sendiri? Komunitas ini perlu visionaris seperti Om Bill dalam hal arah pengembangan teknologi. Kita sudah punya Stallman. Cuma integritasnya, masih belum cukup untuk membentuk mainstream sendiri. Kita buat? Orang Indonesia? mimpi? bukan.. ambisi.. ya bisa jadi..