Pram oh Pram

November 20, 2002

Membaca tulisan Pramudya selalu mencabutku dari kasur tempat aku membaca, ke alam tulisannya. Ceritanya begitu hidup. Semangatnya begitu terasa. Sinikalnya begitu menusuk. Pragmatis. Humanis. Bau anti tuhannya yang mewarna. Lengkap dengan cibirannya tentang agama. Bukunya yang pernah aku baca baru dua bagian dari tetralogi, yakni bumi manusia dan jejak langkah, terus cerita dari blora (kumpulan cerpen tapi oke bangettt), dan mereka yang dilumpuhkan. Kesemuanya sudah aku baca sekitar tiga tahun lalu, namun sekarang tak bosan aku baca lagi. Terlepas dari pandangan politik dan ideologinya, karya-karyanya patut dibaca oleh setiap anak bangsa. Biar tahu apa itu sastra. hehehe.. satu karangan mochtar lubis, senja di jakarta, juga rada-rada mirip. realisme kali ya alirannya..kalau ada aliran itu juga hehehe.. Yang aku heran, keduanya kok bisa bermusuhan yaaa? Dulu gara-gara Pram dapat Ramon Magsaysay Award, Mochtar Lubis ngebalikin award yang sama yang pernah diterimanya. Juga mungkin buat yang doyan buku, masih inget dengan heboh buku \’Prahara Budaya\’ itu..

Btw, lumayan bisa jadi obat pusing ditengah semua permasalahan yang ada di program yang sekarang lagi aku bikin. Mo nerusin \’titik balik peradaban\’ lagi males. Yang berat-berat lagi susah masuk ke otak, paling malah pikiran lari kemana-mana. Besok pengen beli perburuan sama keluarga gerilya. Kemaren sempet gue liat di gramedia. Jadi cerita tentang fisika yang baru aja dibaca, pending dulu…hihihi..enaknya punya media catetan pojok..bisa nulis semaunya.

Bila dulu jaman bisa mencetak sastrawan-sastrawan humanis yang sangat dekat dengan hidup sehari-hari, kenapa sekarang nggak ada yaaa (Atau aku yang kurang nyari?) Aku pernah baca kuntowijoyo. Datar. Putu Wijaya. Ngebosenin. Umar Kayam. Nggak ada yang istimewa. Paling baru Saman, Ayu Utami yang rada menggigit. Tapi itupun masih realisme yang eksklusif terlepas dari kehebatannya bertutur dan menyusun plot.

Titik Balik Peradaban 2

November 10, 2002

Melanjutkan buku fritzof capra, setelah descartes, Francis Bacon, Isaac Newton, dibawa kemudian ke Niels Bohr dan Einstein. Jika dalam pandangan newtonian atau cartesian, dunia adalah mesin mekanik raksasa, yang terdiri dari balok-balok mati dan bergerak secara mekanik, maka dalam pandangan fisika baru, alam semesta adalah gerak. Dimana gerak itu tidak bisa digeometrikan dalam hitungan matematis, namun mengandung probabilitas.

Unsur terkecil dari atom, bukanlah partikel yang berwujud, dan terus bergerak seperti gelombang. Gerak ini terus menerus, dengan kecepatan yang berubah. Disini paradigma manusia tentang alam menjadi berubah..Bagaimana perubahannya? Gue terusin bacanya dulu..nanti diceritain lagi..

Idealisme

November 9, 2002

Abis ketemu pak py adi prasaja, ngobrol idealisme dan hiruk pikuk. Kesimpulanku sendiri, idealisme itu memang bisa kaku atau fleksibel (pragmatis?). Kalau mau kaku harus keras sekalian dan konsisten.. serperti RMS (duh gue bayangin capek juga kalau hidup seperti dia yaa.. capek dengan idealismenya).. Kalau mau pragmatis dan fleksibel, tokoh yang tepat mungkin Linus. Tetap hidup normal tanpa menghilangkan idealisme yang dimilikinya.

Kesimpulan yang lain, ada banyak hal yang memang untuk dipikirkan. Tapi lebih banyak hal lagi yang memang untuk dijalani..bukan untuk dibayangkan. Trims untuk estelernya..hehe