Kerjakan Satu Hal, dalam Satu Waktu

February 19, 2007

Kadang Bedul tidak mengerti dirinya sendiri. Antara nafsu kemaruk, ketidak mampuan berkata tidak, atau ketakutan kehilangan pemasukan, membuat Bedul menerima semua tawaran kerjaan yang mampir padanya. Sebagai seseorang yang disebut sebagai (so called – red) ‘pekerja IT’, Bedul dalam satu bulan bertanggung jawab menyelesaikan 4 proyek sekaligus.

Proyek pertama, sebut saja Proyek Cemplon, adalah kontrak tetap untuk membuat aplikasi berbasis web. Karena tetap, Bedul bersedia mengerjakannya dalam waktu jam kerja, alias jam 7 sampai jam 5 sore.

Proyek kedua, sebut saja Proyek Wahyuni, sebuah aplikasi di sebuah perusahaan. Meskipun duitnya tidak seberapa, tapi aplikasinya menantang. Dan Bedul merasa bisa mengerjakannya di malam atau sore hari setelah selesai Proyek Cemplon.

Ketiga Proyek Tubruk, memperbaiki dan memelihara website modin disebuah kampung yang nggak terkenal. Ini juga atas permintaan senior Bedul saat mengembara di arena karambol profesional tingkat kecamatan. Gara-gara senior inilah Bedul menjadi top karambolers dengan bintang 4, kategori professionally addicted.
Keempat, proyek Bedul pribadi, mengembangkan konten di web sambil dipasangin iklan, siapa tahu dapat cek seratus ribu dolar sebulan seperti ShoeMoney.

Dan apa yang terjadi? Alih-alih mengerjakan proyek-proyeknya, Bedul malah main gundu di dekat jalan lubang-lubang yang memang banyak di kampung Bedul ini. Waktu saya tanya, kenapa nggak kamu kerjain pekerjaan kamu Dul?

Bedul merinci jawabannya panjang dan lebar. Ia jelaskan saat mengantongi gundu hasil permainan pagi ini.

Pertama, gua pusing kalau sudah mulai mengerjakan satu proyek. Karena gua dibayangin proyek kedua dan seterusnya, yang PR-nya masih numpuk. Karena itu lebih baik gua main gundu aja. Meskipun pas mau tidur di malam hari sulit sekali merem karena ngerasa bersalah.

Kedua, setelah gua perhitungkan dengan cermat, ternyata gua ini korupsi. Idealnya memang semua dikerjakan pada waktunya. Waktu ngerjain Proyek Wahyuni, tentu saja harus dikerjakan terus dan nggak boleh ngelirik proyek Cemplon. Tapi ternyata saat Wahyuni dan Cemplon ada kebutuhan mendesak, salah satu harus dikorbankan. Juga kadang mengerjakan proyek Cemplon padahal gua lagi dibayar sama proyek Wahyuni.

Keempat, perpindahan otak dari proyek satu dengan proyek lainnya itu membutuhkan kalibrasi yang tidak sebentar. Kadang untuk kalibrasi perlu didoping ponstan atau panadol. Hm padahal Kang Joel udah bilangin ke Jauhari (siapa ya Jauhari, kok tiba-tiba nongol?), kalau pindah-pindah proyek itu membahayakan otak.

Kelima, karena terganggu Cemplon, Wahyuni, Tubruk dan kawan-kawan, saat memegang komputer, Bedul seperti orang impoten. Ndak bisa napa-napa. Ndak bisa nulis apa-apa. Ndak bisa menghasilkan code satu barispun.

“Jadi nak,” ujar Bedul berfilosofi sambil ngantongin kelereng,

“Inaf is inaf (Enough is enough – red). Kerjakan satu hal saja dalam satu waktu dan kerjakan itu dengan baik. Tadinya saya berfikir untuk mengembalikan semua uang Wahyuni, Cemplon atau siapa lah. Tapi berhubung pantang meludah di mukamu.. maksudnya pantang menjilat ludah sendiri.. maka lebih baik gua main gundu aja.”

Aku menatap Bedul dengan pandangan orang nahan pipis. Maksute ki opo?

Kenapa Aku bisa Aku?

February 15, 2007

Pagi ini sambil bengong nangkring di atas VegaR, lewat hutan karet UI jalan setapak Poltek. Saat berpapasan dengan orang-orang lain yang berangkat kantor, ada pikiran yang mengusik. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku adalah aku? Bagaimana bisa sadar bahwa aku adalah aku? Kenapa aku yang nangkring di atas VegaR ini? yang lagi berangkat ke tempat kerja? Kenapa aku bukan seorang wanita yang misalnya, sudah bukaan 5 dan sedang nahan mules x1000 saat bayi sudah di ujung perut? Kenapa aku bukan bayi yang menunggu mati karena sakit diare dan nangis putus asa terhadap datangnya pertolongan dari aparat yang terhormat?

Kesadaran diri ini membedakan aku dengan kebo betina berkulit bule. Si kebo nggak akan pernah sadar bahwa dirinya ada. Dia nggak akan bilang, “ini lho, aku si kebo bule, makanku rumput. Aku lahir dilepehin sama emak… “. Sebab si kebo nggak sadar keakuannya.

Keakuan ini mengantarkan pada satu kata. Consciousness. Berasal dari bahasa jawa kuno, Constientia, yang kurang lebih artinya suara hati, diperkenalkan oleh Mpu Cicero, kemudian mbah Thomas Aquinas, dan mpu favorit, Mpu Rene Descartes. Wah agak mumet mengurut Trah Consciusness ini.

Intinya Cogito Ergo Sum. Aku punya dengkul maka aku ada. Wah ini topiknya dleweran kemana-mana.. ndledek..(mohon maaf buat polisi EYD kalau bahasa saya bercampur dengan bahasa dewa yang hampir punah..)

Kembali ke lektop, saya kadang heran dengan seleksi aku menjadi aku. Konon jaman waktu mau masuk indung telur saja, aku dulu berenang dan memenangkan pertandingan dari jutaan calon aku yang lain. Jadi aku adalah terbaik dari jutaan sper.. em maaf.. nggak jadi. Ntar disemprit.. Coba kalau waktu itu yang masuk indung telur bukan aku? Maka aku nggak akan dipalak di metro mini (apa coba?), maksudnya aku nggak akan ada. Dan nggak tahu, gimana aku bisa milih sper.. em maaf.. nggak jadi.. maksudnya bisa menjadi aku yang lain? Mungkin terlahir sebagai anak Angelina Jolie dan Brad Pitt? Ask to the dancing grass

Selamat Tuan!

February 6, 2007

Dengan terbitnya blog ini saya telah membuktikan kepada diri sendiri bahwa ternyata yang konsisten di dalam otak saya adalah perubahan. Atau menggunakan istilah bahasa latin kuno blayangan. Jaman dulu kala, pakai http://fade2bl.ac, meskipun jaman itu blog belum dikenal (tahun 2000, kenal blogger di tahun 2002), tapi sudah mulai ngeblog.

Lalu pindah ke http://somay.blogspot.com, kemudian pindah lagi ke http://spawn.rimbalinux.com, dan sekarang pindah lagi kesini. Tapi apa salahnya kalau saya simpan semua catatan perjalanan. Mungkin lain waktu akan saya salin dan tempel disini, arsip-arsip lama.