Manajemen Pengembangan Perangkat Lunak Bebas

March 11, 2007

  officiallogo-nd-75.jpgPengembangan Perangkat Lunak Bebas (PLB/Free Software) yang berbasis komunitas, memiliki bentuk meritokrasi. Dalam arti, siapa yang berkontribusi paling banyak, akan memiliki pengaruh yang paling kuat dalam komunitas. Namun dalam prakteknya, seringkali tidak semudah itu. Kadang dalam pengembangan PLB yang di danai oleh sebuah perusahaan, lebih mendahulukan kepentingan perusahaan daripada meritokrasi yang lazim berjalan. Untuk itu, beberapa sistem telah dibuat agar meritokrasi ini berjalan baik, dan setiap kontributor memperoleh kredit yang layak. Sistem yang telah teruji adalah Tujuh Langkah Debian. Sedangkan Fedora sendiri, saat ini sedang mencoba menyusun birokrasinya. Seperti apakah?

Tujuh Langkah Debian

1. Pendaftaran
Para pengembang yang mendaftar ke Debian, harus menyetujui sebuah Kontrak Sosial, memiliki identitas yang jelas, kemampuan teknis yang cukup, waktu luang yang cukup, dan syarat untuk menjadi advokat (menjawab jika ada pertanyaan seputar Debian/juru bicara).

2. Identifikasi
Mempersiapkan kunci publik sebagai bahan untuk identitas dalam komunikasi. Debian menggunakan OpenPGP dalam mengatur kunci publik/privat.

3. Filosofi dan Prosedur
Memahami Kontrak Sosial, dan memahami prosedur yang ada dalam komunitas Debian. Prosedur tersebut mencakup Sistem Penanganan Bug, Mekanisme Mengeluarkan Produk (Release Process), dan internasionalisasi/lokalisasi.

4. Tugas dan Kemampuan
Mampu mengatur paket program, dokumentasi, debug, pengujian dan menambal program (patching)

5. Rekomendasi
Setelah semua proses tersebut bisa dibuktikan, dengan cara bekerja sama dengan seorang Application Manager, pelamar harus membuat laporan yang ditujukan kepada Debian Account Manager, dengan terlampir surat rekomendasi dari Application Manager yang menyatakan pelamar tersebut diterima atau tidak.

6. Pengecekan
Account Manager akan mengecek laporan dan rekomendasi pelamar dengan menggunakan standar cek list. Jika ada masalah atau kekurangan data, maka akan dikembalikan kepada Application Manager.

7. Keputusan Akhir
Debian Account Manager akan membuat keputusan akhir dan membuat account bagi pelamar yang bersangkutan.

Mekanisme tersebut telah berjalan bertahun-tahun dan menjadi bukti berjalan sistem meritokrasi dalam komunitas pengembangan PLB.

Sistem Fedora

Fedora merupakan sebuah komunitas yang dibentuk oleh RedHat untuk meneruskan pengambangan distro RedHat (yang dipecah ke dalam beberapa sub proyek) versi komunitas. Pintu yang terbuka terlalu lebar untuk komunitas ternyata menimbulkan masalah tersendiri bagi Fedora, untuk itu mereka mengajukan sistem level yang akan membatasi para pengembang baru ke dalam beberapa level. Sistem ini diusulkan pertama kali oleh Warren Togami.

FD0, Tahap Percobaan/Pelatihan
FD1, Pemelihara Paket, pelanggan fedora-maintainers, bisa memelihara paket yatim (terpisah dari tree aplikasi).
FD2, Memperoleh akses untuk membuat paket sendiri dan masuk ke dalam tree aplikasi.
FD3-FD4, Boleh mengundang siapa saja ke fedora-maintainers, mengambil alih paket yatim,
FD5, Level Sponsor mengatur beberapa paket program, memberikan ijin pengambil-alihan paket program
FD6, Level sponsor lebih tinggi

Apakah eksperimen Fedora dengan sistem meritokrasi baru ini akan berhasil sebagaimana Debian? Kita lihat hasilnya.

Hukum Persepsi

March 9, 2007

Saat membaca salah satu hukum Marketing yang dikemukakan oleh Jack Trout dan Al Ries, saya teringat tentang Linux vs Microsoft.

THE LAW OF PERCEPTION: “Marketing is not a battle of products, it’s a battle of perceptions.”
a. All that exists in the world of marketing are perceptions in the minds of the customers.
b. The perception is the reality. Everything else is an illusion.
c. It is what people think about the brand that makes it a winner or a loser. They believe what they want to believe.

Saat menjelaskan Linux kepada masyarakat, saya banyak menemui betapa para advokator Linux mati-matian menjelaskan fungsi dan keunggulan Linux, baik dalam harga, keamanan, kemandirian dan sebagainya yang menyangkut fungsionalitas ataupun hal-hal lain.

Tapi pernahkah dipikirkan apa yang sebetulnya menjadi persepsi masyarakat terhadap Linux. Bagaimana mengubah persepsi yang negatif dan memperkuat persepsi yang positif.

Persepsi positif: stabil (jarang restart), aman (hampir tidak pernah kena virus).

persepsi negatif: sulit, banyak hardware yang belum didukung.

persepsi yang bisa positif dan bisa negatif: hanya untuk hobbyist/para ahli, gratis.

Jika sudah dipetakan persepsi tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah memperkuat yang positif . Untuk kestabilan, perlu diadakan kontes paling lama uptime mesin Linux. Untuk keamanan, perlu diadakan sayembara membuat virus Linux. Atau sebaliknya (ini bukan saran. Efek diluar tanggung jawab penulis), tips and trick membuat virus di Windows dalam 5 menit.

Untuk persepsi negatif, bisa diatasi dengan informasi atau panduan. Misalnya panduan resmi bagaimana menginstal berbagai macam printer di berbagai macam Linux. Atau informasi, jika ada vendor yang menyatakan dukungan driver terhadap Linux harus diekspos habis-habisan.

Untuk persepsi tengah-tengah, harus diplot sedemikian rupa sehingga menjadi positif. Misalnya bahwa Linux untuk para hobbyist, digetoktularkan kalau sudah memakai Linux itu berarti jago, dipuji sebagai orang yang memiliki kemampuan IT di atas rata-rata 🙂 Jangan lupa, perception is reality.

Terakhir, jika dari awal sudah ketemu orang yang antipati, lebih baik jangan dilayani. Cari saja orang yang belum pernah mendengar Linux sama sekali, bahkan belum pernah memakai komputer sama sekali. Dan sebarkan ajaran Linux untuk mereka … 🙂