Tidak sulit?

August 6, 2007

Berikut cuplikan tulisan Gunawan Muhamad, saya dapat dari milis..

Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di
Jakarta , dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa mega-kilowatt listrik dikerahkan untuk membangun kenikmatan yang tersaji buat saya hari itu. Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo , di tepi jalan yang meriah di Ginza , teman saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang
menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang.

“Tahukah Tuan,” tanyanya, “jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?

Saya menggeleng, dan ia menjawab, Jumlahnya lebih besar ketimbang
jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.

Tahukah Anda paradoks lainnya? Berikut data tahun 1998

Consider the global priorities in spending in 1998

Global Priority $U.S. Billions Cosmetics in the United States 8
Ice cream in Europe 11
Perfumes in Europe and the United States 12
Pet foods in Europe and the United States 17
Business entertainment in Japan 35
Cigarettes in Europe 50
Alcoholic drinks in Europe 105
Narcotics drugs in the world 400
Military spending in the world 780

Bandingkan dengan yang ini:

Global Priority $U.S. Billions Basic education for all 6
Water and sanitation for all 9
Reproductive health for all women 12
Basic health and nutrition 13

Silakan rujuk di Poverty Facts and Stats

Apa yang bisa kita lakukan terhadap semua itu? Terlalu sulit kata Goenawan. Tapi saya pikir kita bisa mulai dengan apa yang ada di sekitar kita. Bagaimana? Tentang hal itu saya selalu terngiang oleh nasehat Pramoedya Ananta Toer dalam buku wawancara terakhirnya. Meskipun ndak relevan dengan paragraf di atas, tapi saya selalu terngiang kata-kata itu setiap kali ada yang berkeluh kesah tentang dunia yang semakin hancur, penguasa yang lupa, hukum yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, bencana dan banyak kejadian lain yang membuat kita jadi resah. Ingin melakukan sesuatu, tapi semua terlalu jauh untuk dijangkau.

Oh ya, kira-kira berikut nasehat Pramoedya. Untuk mengembalikan harga diri kita kuncinya adalah produksi. Berkaryalah sebanyak yang kamu mampu. Jurnalis buatlah tulisan sebanyak-banyaknya. Pengrajin, buatlah kerajinan sebanyak mungkin. Programmer, buatlah software sebanyak mungkin. Produksi, produksi dan produksi. Buat sesuatu.

Kalau ada yang bilang, ngapain reinvent the wheel tidak perlu gundah. Jika kita bisa membuat wheel yang lebih cocok dengan kebutuhan kita, kenapa tidak?

Itulah cuplikan nggak nyambung hari ini. Usia kepala 3 memang membutuhkan banyak neuron untuk bisa menulis yang komprehensif (ngeles.com)