Lapar itu Merah

September 11, 2007

Selamat sore tuan. Sore yang indah ya. Tuan baru datang? Oh baru sampai. Kelihatan ceria sekali. Kalau saya boleh tebak pasti tuan habis mengunjungi istri ketiga tuan yang paling cantik itu. Apa? Dia sudah terlambat bulan? Wah tuan memang hebat. Ya, ya, memang dalam kondisi begitu manjanya jadi bertambah. Anak-anak tuan yang lain? Oo yang kuliah di London akan pulang minggu depan? Senangnya ya bisa berkumpul kembali.

Laporan tuan? oh laporan.. iya saya sampai lupa. Saya juga baru saja pulang dari Nusa Tenggara Timur Tengah. Ya betul tuan, yang kemaren baru dilaporkan ada busung lapar. Tuan tahu bagaimana bayi busung lapar? Perutnya buncit. Mulutnya agak susah tertutup. Lalu matanya berputar-putar ke kanan dan ke kiri. Tangannya hanya sebesar tulangnya. em.. apa, jangan diterusin? Oh saya pikir tuan ingin tahu kondisi mereka. Oh salah mereka ya? Apa tuan? Ya menurut tuan orang tua mereka malas, bisa jadi. Bisa jadi juga alamnya memang tandus. Tapi apa hubungannya alam dengan kelaparan? Pernahkah tuan berpikir mereka tidak punya uang untuk kebutuhan hidup? Mungkin uang yang seharusnya berputar diantara mereka, tidak pernah mereka terima karena tuan pakai untuk membelikan rumah untuk istri ketiga tuan? Gimana tuan? Ooh itu sudah jadi hak tuan ya? Sebagai pejabat, tuan berhak atas hal itu?

Jadi gimana tuan nasib para busung lapar ini? Biarkan mereka mati? Emm sebentar? Oh begitu. Jadi dengan membiarkan mereka mati, yang hidup tinggal anak keturunan tuan saja? Yang rata-rata kuliah di luar negri itu? Seleksi alam tuan? Tuan penganut ajaran mbah Darwin ya? Mungkin memang tuan keturunan monyet. Oh tidak apa-apa tuan. Saya tidak bergumam sesuatu. Ok, jadi mau diatur supaya berita itu tidak muncul lagi? Biar menjadi rahasia kita saja? Baiklah.

Mari diminum dulu tuan. Iya ini memang spesial. Obat kuat. Dijamin istri ketiga tuan bakal ketagihan. Silakan diminum. Agak aneh? Ya rasanya memang agak aneh, tapi dihabiskan langsung saja. Nah begitu. Ya memang tadi ada campuran racun tikus, potas, racun serangga dan satu sendok arsenik. Mual tuan? Lemas? Bisa merasakan ya? Begitu mungkin rasanya para bayi busung lapar itu menunggu mati. Ya begitu, mata kekanan dan ke kiri. Mulut sulit ditutup kan? Biarkan busa-busa itu keluar. Tak lama lagi perut tuan akan membusung. Selamat tidur tuan. Sampaikan salam saya buat Izrail. Lapar itu merah. Yang akan menuntut balas.

Netral

September 9, 2007

“Jika Anda mendatangi suatu masalah, cobalah untuk netral dan tanpa pretensi. Lalu analisa dengan obyektif”

“Sebagai pelaku media atau jurnalis, kita harus netral..” 

“Dalam hal ini, saya memilih bersikap netral dan tidak berpihak”. 

Seringkali kita dengar ajakan atau seruan untuk bersifat netral. Menurut saya itu nonsense. Nill. Void. Tidak berarti apa-apa. Setiap manusia hidup haruslah berpihak. Setiap subyek punya keberpihakan. Bahkan yang mengaku netralpun pada dasarnya berpihak.

Netral Terhadap Suatu Masalah
Pada saat kita menghadapi suatu masalah, sejak awal kita pasti sudah berpihak. Dalam akademis mungkin dikenal dengan asumsi-asumsi awal. Ataupun kalau kita melepaskan diri dari permasalahan yang bersangkutan dengan tujuan agar dapat melihat masalah lebih jernih, tetap saja cara kita berfikir, cara kita mengambil keputusan, cara otak kita menyimpan mana kata-kata yang digunakan, mana kata-kata yang melekat di otak sangat tergantung pada pengalaman kita, nilai-nilai yang dianut, apa yang dianggap penting dan tidak. Jadi tidak ada yang namanya netral atau obyektif.

Media yang Netral
Kalau ada media yang netral, itu tidak benar. Setiap media haruslah berpihak. Ini contohnya. Perhatikan pilihan kata dalam memuat judul. Pilihan berita mana yang dimuat di depan dan dibelakang. Mana yang dimuat dan mana yang tidak dimuat. Pilihan naratif dalam mendeskripsikan orang atau sebuah berita. Semua pilihan itu menunjukkan bahwa media tetap harus berpihak. Paling tidak berpihak pada misi/visinya. Berpihak pada visi/misi wartawan/editor ataupun stakeholder dari media yang bersangkutan.

Kepada Siapa Kita Berpihak?
Kalau ada yang bilang ‘saya pilih netral aja deh..’ maka kemungkinan besar pihak yang bersangkutan oportunis (paling tidak begitu menurut pengalaman saya). Atau tidak mau memikul tanggung jawab sebuah pilihan. Lalu pada siapa kita berpihak? Nilai-nilai yang umum adalah, berpihak pada rakyat Indonesia. berpihak pada umat muslim, kristen, budha dll. Berpihak pada nilai-nilai yang masuk akal. Berpihak pada kebenaran. Klise? Emang penting gitu?