Lapar itu Merah

Selamat sore tuan. Sore yang indah ya. Tuan baru datang? Oh baru sampai. Kelihatan ceria sekali. Kalau saya boleh tebak pasti tuan habis mengunjungi istri ketiga tuan yang paling cantik itu. Apa? Dia sudah terlambat bulan? Wah tuan memang hebat. Ya, ya, memang dalam kondisi begitu manjanya jadi bertambah. Anak-anak tuan yang lain? Oo yang kuliah di London akan pulang minggu depan? Senangnya ya bisa berkumpul kembali.

Laporan tuan? oh laporan.. iya saya sampai lupa. Saya juga baru saja pulang dari Nusa Tenggara Timur Tengah. Ya betul tuan, yang kemaren baru dilaporkan ada busung lapar. Tuan tahu bagaimana bayi busung lapar? Perutnya buncit. Mulutnya agak susah tertutup. Lalu matanya berputar-putar ke kanan dan ke kiri. Tangannya hanya sebesar tulangnya. em.. apa, jangan diterusin? Oh saya pikir tuan ingin tahu kondisi mereka. Oh salah mereka ya? Apa tuan? Ya menurut tuan orang tua mereka malas, bisa jadi. Bisa jadi juga alamnya memang tandus. Tapi apa hubungannya alam dengan kelaparan? Pernahkah tuan berpikir mereka tidak punya uang untuk kebutuhan hidup? Mungkin uang yang seharusnya berputar diantara mereka, tidak pernah mereka terima karena tuan pakai untuk membelikan rumah untuk istri ketiga tuan? Gimana tuan? Ooh itu sudah jadi hak tuan ya? Sebagai pejabat, tuan berhak atas hal itu?

Jadi gimana tuan nasib para busung lapar ini? Biarkan mereka mati? Emm sebentar? Oh begitu. Jadi dengan membiarkan mereka mati, yang hidup tinggal anak keturunan tuan saja? Yang rata-rata kuliah di luar negri itu? Seleksi alam tuan? Tuan penganut ajaran mbah Darwin ya? Mungkin memang tuan keturunan monyet. Oh tidak apa-apa tuan. Saya tidak bergumam sesuatu. Ok, jadi mau diatur supaya berita itu tidak muncul lagi? Biar menjadi rahasia kita saja? Baiklah.

Mari diminum dulu tuan. Iya ini memang spesial. Obat kuat. Dijamin istri ketiga tuan bakal ketagihan. Silakan diminum. Agak aneh? Ya rasanya memang agak aneh, tapi dihabiskan langsung saja. Nah begitu. Ya memang tadi ada campuran racun tikus, potas, racun serangga dan satu sendok arsenik. Mual tuan? Lemas? Bisa merasakan ya? Begitu mungkin rasanya para bayi busung lapar itu menunggu mati. Ya begitu, mata kekanan dan ke kiri. Mulut sulit ditutup kan? Biarkan busa-busa itu keluar. Tak lama lagi perut tuan akan membusung. Selamat tidur tuan. Sampaikan salam saya buat Izrail. Lapar itu merah. Yang akan menuntut balas.

4 tanggapan pada “Lapar itu Merah

  • September 13, 2007 pukul 8:38 pm
    Permalink

    Semoga dibulan puasa ini doa-doa kita dikabulkan ya mas .

    Apa itu? : agar malaikat-malaikat pencabut nyawa yang ngasih minum obat kuat tersebut ke mereka semua.

    Karena selain ‘dosa’ kita juga ngga berhak menyudahi hidup mereka.

  • Oktober 3, 2007 pukul 8:18 pm
    Permalink

    semoga laparnya sampai tenggorokan sahaja,
    tidak sampai hatinya..

    darah itu merah jendral…
    jangan sampai cuci darah.

  • November 5, 2007 pukul 10:02 pm
    Permalink

    Who… saya pikir blog sampeyan discontinued, ternyata diterusin di sini yah. Salam.

    p.s. Sampeyan kenal hasant toh? Sempitnya dunia..

  • November 28, 2007 pukul 1:39 pm
    Permalink

    @chen, nggak kenal sih.. cuman tahu di milis aja hehe. pakabar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *