Kulitku Lebih Putih

November 28, 2007

Beberapa hari yang lalu, saat menggenjot sepeda menuju tempat kerja, saya berpapasan dengan seorang perempuan yang berbedak tebal dan baunya wangi sekali sampai puyeng, meskipun hanya sekelebat. Kenapa perempuan suka sekali dengan bedak, kosmetik dan parfum? Menurut kajian para evolusionis (Halo Mr Dawkins), itu merupakan strategi perempuan untuk menjaring pasangan, naluri alamiah sebagai bagian dari pertahanan hidup dan meneruskan keturunan.

Jika orang kaukasia (bule) ingin berkulit coklat supaya seksi, maka orang Asia ingin berkulit putih supaya seksi. Disimpulkan, keseksian seorang perempuan diukur sejauh mana dia berbeda dengan perempuan-perempuan di lingkungannya. Jika ada segerombolan semut (maaf ya tadinya mau pake analogi sapi, ingat purple cow-nya Seth Godin) yang semuanya berwarna hitam, maka seekor semut merah akan menarik perhatian. Jadi intinya adalah menarik perhatian pejantan 🙂 Ujungnya adalah meneruskan keturunan/bertahan hidup.

Lain lagi dengan lelaki. Dia bisa menarik perhatian perempuan, dengan kekuasaan. Ujungnya adalah bisa memberikan rasa aman bagi anak keturunannya. Jadi seorang laki-laki yang ganteng dan gagah, belum bisa menjadi penarik perhatian perempuan jika tidak bisa memberikan rasa aman. Perempuan lebih suka laki-laki yang pas pasan. Pas mau beli rumah, pas ada duitnya. Pas mau beli mobil, pas ada dananya. Ini sama juga, sebagai bagian dari strategi bertahan hidup/meneruskan keturunan.

Terlepas dari perseteruan ideologis antara kaum evolusionis dengan kaum agamis, saya melihat tidak ada pertentangan di sini. Itu semua adalah blue print yang sudah dipersiapkan secara matang. Semua polanya mirip-mirip. Manusia bisa belajar (baca: membaca) dari alam sekitar. Justru seharusnya menambah tebal kepercayaan terhadap Sang Pembuat Blueprint, meskipun konsep evolusionis tersebut rata-rata didukung oleh para kaum Atheis.

Jadi kembali ke parfum tadi, moral of the storynya adalah, jangan pakai parfum terlalu banyak. Ada sekian persen laki-laki di dunia ini yang puyeng membaui parfum 🙂 Garing forever. Biarin.

Apa yang Penting?

November 22, 2007

Tidak ada yang penting. Semuanya main-main belaka. Tapi janji itu penting. Komitmen itu penting. Lilin penting. Anthurium nggak penting. Nasibnya akan sama seperti VCO. Atau sama seperti ikan yang benjol di jidatnya (anehnya, saya lupa namanya). Bekerja itu penting. Ah tidak penting. Memakmurkan bumi lebih penting. Kekuasaan tidak penting. Uang tidak penting. Tapi pokok ((c) Srimulat).

Buat sebagian orang, sarapan pagi artis terkenal itu penting. Kekalahan Inggris dari Kroasia juga penting. Tapi itu tidak penting. Jadi apa yang penting? Jika saya ingin melakukan hal yang penting, apa yang harus saya lakukan di saat dunia ini nggak penting? Mati sekarang? Ah nggak boleh. Itu juga nggak penting. Nanti akan datang waktunya sendiri. Jadi yang terpenting sekarang adalah, memutuskan di antara dunia yang nggak penting ini, mana yang cukup penting untuk dikerjakan.

Angan dan Ingin

November 20, 2007

Hari ini ingin tahu. Besok pengen tempe. Hari ini pengen jaguar, besok pengen jablay, eh bajay (saya selalu menahan senyum saat Attar, anak saya yang berusia 3 tahun menyebut bajay dengan jablay). Angan-angan dan keinginan selalu saja berganti tiap hari. Kata bang Iwan, angan dan ingin berlalu seperti angin.

Apa yang Anda inginkan? Menurut teori LoA (Law of Attraction), keinginan harus didefinisikan dengan jelas. Saya ingin punya rumah di Pondok Indah, sebelahnya Inul. Saya ingin punya penghasilan tetap Rp. 35 juta sebulan, dan saya ingin istri yang agak kurus, tinggi. Tidak perlu cantik. Cukuplah manis, asal pintar. Anak-anak saya 5, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Biar yang perempuan cukup aman dijaga sama abang atau adiknya. Saya ingin mobil saya dua, satu VW beetle warna merah, dan satu lagi Alphard warna item. Hmm.. apakah keinginan di atas sudah detail? Mungkin rumahnya perlu diperdetail. Dan menurut teori LoA, jika terdefinisi dengan jelas, punya keinginan kuat, maka alam semesta akan membantu untuk mewujudkannya.

Tapi sayangnya tidak ada kamus cukup dalam angan dan ingin. Seluruh duniapun nggak akan cukup. Seperti dahaga, saat angan satu terwujud, maka akan digantikan angan yang lain. Ingin satu terwujud, akan dikudeta oleh ingin yang lain. Setiap hari selalu saja muncul itu. Meskipun kadar inginnya berbeda-beda. Itulah awal segala cerita di dunia ini. Dan dalam merengkuh angan ingin tersebut, seringkali terlalu larut. Dunianya hanya terisi itu saja.

Nggak apa kan? Kalau nggak gitu nggak menikmati hidup, betul? Ya mungkin jika dari awal kita menyadari bahwa itu romantika permainan belaka, tidak akan menjadi masalah. Bayangin kita ada dalam the matrix yang sudah diprogram lika-likunya. Sementara sang pengatur duduk seperti menonton tivi, sampai ia di datangi oleh Mr. Anderson. Maaf ngelantur filem matrix.

Jadi, saya mengundang Anda pembaca yang budiman, untuk menggusur angan dan ingin seperti itu dengan angan dan ingin yang lebih permanen. Apa itu? Sebagaimana cangkir, memenuhi angan dan ingin itu seperti mengisinya terus menerus, tapi nggak penuh-penuh. Bagaimana kalau cangkirnya kita kosongkan saja? Sehingga kita punya ruang yang kosong. Seperti toples yang kita butuhkan adalah ruang kosong di dalamnya. Jika kekosongan sudah penuh, kita biarkan saja kosong. Sampai ada yang mengisinya. Apa itu? Apa maksudnya? Silakan temukan sendiri. Garing yah? Udah capek-capek baca sampe sini, ujungnya gitu doang.

Ilham dan Gerakan Bawah Sadar

November 19, 2007

Mayoritas orang hidup ini digerakkan oleh gerakan bawah sadar. Kita bisa mandi, sambil menyanyi, sementara otak mikirin hutang yang nggak lunas-lunas. Pada saat garuk-garuk, juga pas dengan lokasi gatal, tanpa harus dilingkari dulu seperti mau main dart. Atau saat naik motor, juga mobil, seringkali pakai mode auto pilot. Jika setiap hari rutenya depok, buncit, kuningan, dan sore hari di rute yang sama. Maka di hari ke 5 mungkin, bisa nyetir sambil memikirkan kode-kode, tahu-tahu sampai di rumah. Itu satu.

Kedua tentang ilham. Ini bukan nama orang, bukan juga penceramah cilik yang atraktif di pildacil. Saat kita hendak memutuskan sesuatu, saraf akan bekerja. Neuron-neuron akan mengumpulkan fakta-fakta dari pengalaman sebelumnya, sebelum memberikan usulan kesimpulan. Kadang pula, sebelum neuron bekerja, keputusan sudah diambil oleh amigdala sebagai bagian dari bertahan hidup. Saat ada harimau di depan mata misalnya, otak nggak perlu mengolah dulu, langsung amigdala mengirimkan sinyal bahaya, lalu dalam sepersekian detik, memerintahkan kaki untuk mengambil langkah seribu.

Tapi seringkali, keputusan yang ada bukan dari hasil olahan neuron. Bukan pula hasil gerak reflek yang diperintahkan oleh amigdala. Dia seolah-olah muncul begitu saja. Tanpa dibungkus oleh frame-frame pengalaman pendukung. Bahkan ada seorang guru yang mengatakan, semua keputusan manusia berasal dari ilham. Meskipun neuron di otak menyimpan pengalaman-pengalaman sebagai pembanding dalam mengambil keputusan, tapi tetap saja keputusan yang diambil adalah ilham. Ia merupakan sesuatu yang misterius, yang seolah dibisikkan. Seperti ada yang mengajari.

Masalahnya siapa yang membisikkan? Apakah seperti malaikat yang terbang di pundak kanan kiri kita? Seperti film-film itu?

Jika gerakan bawah sadar muncul tanpa kita sanggup mengaturnya, ilham bisa kita pola. Bisikan bisa difilter. Metode pengambilan keputusan bisa diframe ulang. Menurut guru yang bukunya saya baca, hanya ada dua bisikan yang berdesir di hati kita. Bisikan dari Tuhan, dan bisikan dari setan. Selalu saja hanya ada dua itu. Dari mana kita membedakannya? Menurut guru itu lagi, kita bisa mengetahuinya dengan latihan. Jika saat ilham itu datang kita ingat akan Tuhan (dzikrullah), maka kemungkinan besar itu bisikan Tuhan. Jika dalam keadaan lena (bisa jadi dalam konsentrasi kerjaan), maka itu bukanlah bisikan Tuhan.

Lalu? Artikel ini memang bukan artikel ilmiah. Ia hanyalah artikel. Biarlah kata-kata mengelana. Segala sesuatu tidak harus saling berhubungan (credit untuk Yanmarshus untuk quote terakhir).