Hoax akan Abadi

December 14, 2007

Pernah lihat mirip-mirip ini:

Jika di messenger Anda ada yang bernama Panjul dan minta sebagai teman, tolong jangan diterima. Panjul itu orang paling sesat sedunia, jika bergaul dengannya, komputer Anda akan meledug dan berasap. Tolong sebarkan ini ke teman, sanak saudara, tetangga, tukang sate, tukang fotokopi dan siapapun yang Anda kenal

Atau yang begini:

Pada hari minggu jam 3 pagi (kalau bisa bangun) jangan nonton tipi (terutama bagi yang nggak punya tipi), karena acaranya akan menghipnotis Anda sehingga setiap hari Anda linglung mencari-cari otak Anda. Jika Anda sayang dengan kenalan Anda, sebarkan ini, dalam 3 hari Anda akan mendapat rejeki yang berlimpah.

Kenapa pesan seperti itu cepat sekali menyebar. Bahkan orang yang paling rasional sekalipun kadang kala tanpa pikir panjang akan meneruskannya. Pesan ini dikategorikan sebagai meme, sebuah pesan yang memiliki kemampuan untuk mereplikasikan dirinya sendiri. Menurut buku virus of mind, salah satu pesan yang mengandung meme adalah pesan yang menyangkut keamanan. Jaman dulu, jika sebuah jalan setapak ada macan, maka berita tersebut akan cepat sekali menyebar sehingga orang hati-hati lewat situ. Ini adalah bagian dari mekanisme pertahanan diri secara komunal. Kedua pesan di atas, meskipun formatnya berbeda, tapi mengandung nilai sama, yakni mengirim sinyal ‘ada bahaya’. Sehingga orang yang membacanya akan menerima sinyal tersebut, dan meneruskannya kepada orang lain.

Pesan lain yang mengandung meme, sejauh yang saya ingat adalah pesan tentang ‘resiko kecil untung besar’. Pada contoh di atas, selain berita ‘bahaya’ tentang sebuah acara televisi, pesan itu ditambahkan ‘jika Anda mengirimkan berita ini, dalam 3 hari akan ada rejeki tak terduga’. Pesan itu memberi insentif, bahwa hanya dengan menekan tombol forward (tidak rugi apa-apa, cuma 1 menit kerja), akan memperoleh rejeki tak terduga.

Contoh resiko kecil untung besar ini juga ada dalam spam yang mengatakan seseorang punya warisan sekian puluh juta dolar, tapi butuh rekening sementara dan harus mentransfer sekian ratus dolar saja. Meskipun pesan ini tidak masuk akal, tapi meme yang dibawa dalam pesan tersebut terlalu kuat untuk seseorang bisa berfikir jernih. Atau cerita tentang penggandaan uang yang dimasukkan ke dalam kotak. Atau cerita tentang bekerja dari rumah yang menghasilkan jutaan dolar tanpa mengganggu waktu kerja Anda. Atau skema Ponzi (arisan berantai) yang selalu hidup selama hampir seratus tahun.

Semua pesan-pesan tersebut mengandung meme, yang jika ditularkan, otomatis memiliki kemampuan untuk menggandakan diri, sehingga orang tidak tahan untuk meneruskannya. Dan buat yang sudah tahu, karakter bawaan manusia yang seperti ini, bisa dimanipulasi dengan mudah. Kadang meskipun kita sudah tahu, saya sudah tahu, Anda sudah tahu dengan membaca tulisan ini, saat menerima pesan yang mengandung meme, secara tidak sadar kita akan meneruskannya. Dan hoax akan selalu menyebar. Serta berita penipuan-penipuan terus selalu berulang (bahkan pernah menimpa rektor sebuah perguruan tinggi, yang notabene kemampuan berfikir rasionalnya sudah tidak diragukan lagi).

Anda bisa menyimpulkan sendiri kenapa surat kabar selalu mengabarkan berita buruk daripada berita baik. Dan berita buruk selalu menarik untuk dibaca tanpa kita sadari. Efek lain yang mungkin ada hubungannya, manusia senang sekali membicarakan keburukan manusia lain. Seperti memberikan pesan ‘jangan dekat-dekat dengan dia, dia kalau minjem nggak pernah ngembaliin’, sinyal bahaya ini akan terus menular. Dannn.. ini juga menjelaskan kenapa berita gosip laris manis di pasaran.

Ada yang keberatan?

Persimpangan Nasib

December 4, 2007

Nasib selalu menjadi bulan-bulanan. Dapat cipratan korupsi, nasib. Dapat kursi jabatan, nasib. Jadi presiden, nasib. Hebat bener nasib ini.

Saya ingat filem berjudul Butterfly Effect. Mengisahkan seseorang yang hanya dengan melihat atau membaca diarynya, rohnya bisa terbawa ke saat itu. Ruang dan waktu saat diary itu ditulis di tulis. Dan di situ dia bisa mengubah nasibnya. Dan hebatnya, nasib dia 180 derajat berbeda, jika pada suatu kejadian, dia melakukan hal A, atau hal B.

Contoh dalam film itu, karena iseng, mereka membuat petasan yang dipasang di kotak surat. Ada 4anak disitu. Saat kejadian pertama, petasan meledak dan menewaskan bayi yang digendong ibunya saat membuka kotak surat tersebut. Satu anak masuk penjara. Yang anak perempuan jadi pelayan yang dibayangi trauma masa kecil karena pernah diperkosa ayahnya. Anak ketiga sakit jiwa dibayangi rasa bersalah.

Lalu dia membaca diary sebelum kejadian, dan mencoba beberapa alternatif. Pertama ia berlari menyelamatkan anak itu, dan akhirnya meledakkan kakinya sehingga dia lumpuh. Seumur hidup dia lumpuh. Lalu dia meloncat lagi ke kejadian sebelumnya, sebelum teman perempuannya diperkosa ayahnya, dan mencoba menghalangi. Teman satu masuk penjara, sementara dia dan teman perempuannya jadi anak gedongan. Begitu ujicoba terus, sampai akhirnya dia menemukan skenario yang menurutnya ‘terbaik’.

Kita tidak akan tahu, bahwa kejadian yang menghampiri kita setiap harinya, jika kita sikapi berbeda, ujung belakangnya sangat berbeda sama sekali. Misalnya dulu waktu SMA saya ngotot masuk A3, sehingga di kemudian hari saya tidak bisa sekolah teknik. Coba kalau masuk A1, mungkin sama sekali berbeda. Atau memutuskan untuk merantau. Jika di tempat, apa yang sebenarnya terjadi kemudian.

Jadi, setiap hari kita melewati persimpangan nasib. Masalahnya adalah bagaimana dalam persimpangan itu, kita sudah memilih yang terbaik? Itu memang misteri ilahiah. Kalau orang islam, sehari minimal dibaca 17 kali, ihdinash shiratal mustaqim, Wahai Penentu Jalan, tunjukkanlah padaku jalan yang lurus.. begitu? Atau enggak?

Entah kenapa saat menulis ini, saya ingat guru virtual saya, Emha Ainun Nasib. 🙂