Mengakali Waktu

January 29, 2008

Dua hari terakhir saya berjalan kaki dari rumah menuju kantor. Entah angin apa yang menghembuskan keinginan itu. Dan ternyata memang ada banyak sekali yang bisa dilihat jika kita melewatinya lebih pelan. Apa yang saya lewati setiap hari, tidak akan tertangkap jika saya naik motor atau mobil. Karena semuanya berlalu secara cepat.

Jika difikirkan ulang, percepatan atau instanisasi  proses yang ada di dunia ini membuat orang kehilangan sesuatu. Yakni nilai yang diperoleh saat menjalani proses itu. Bayangkan jika di suatu masa, Anda ingin kopi, tiba-tiba kopi ada di depan meja. Anda ingin tempe goreng dan sambal terasi masih hangat, tiba-tiba muncul dan siap disantap. Mungkin dalam seminggu Anda akan mati kebosanan.

Konon diam berarti mati. Tapi semua serba instan juga mematikan. Beberapa efek yang muncul saat semua berjalan cepat, salah satunya mungkin waktu berlalu terasa begitu cepat. Tahu-tahu muncul uban. Tahu-tahu anak sudah sekolah. Tidak terasa. Saya selalu menikmati pulang ke Salatiga, karena di sana waktu berjalan lebih lambat. Sudah mandi pagi. Sudah jalan-jalan. Sudah sarapan bubur sambel tumpang koyor. Eh kok masih jam setengah delapan. Kalau di Depok, bangun tidur beres-beres ke kantor, tahu-tahu sudah jam 8. Belum lagi di Jakarta. Mungkin putaran jamnya lebih cepat. Kata Einstein, waktu tidak sama bagi setiap orang.

Efek lain dari percepatan adalah hilangnya kedalaman, dan merajalelanya kedangkalan. Semua serba instan. Menjadi kaya dalam 24 jam. Mahir korupsi dalam 15 menit. Cara cepat dapat utangan dalam 10 detik. Semua serba pragmatis dan nilai menjadi hilang. Orang malas membaca buku yang berat-berat. Nonton tivi juga maunya ganti-ganti. Apalagi ada remote. Mie instan rasa soto ayam tapi esensinya adalah mie (gandum) lebih disukai daripada soto ayam betulan. Repot bikinnya. Kelamaan.

Efek berikutnya, menipisnya empati. Orang yang menjalani proses betulan untuk mendapatkan SIM akan lebih menghargai peraturan lalu lintas daripada orang yang dapat SIM-nya nembak. Atau masih ingat Laskar Pelangi? Untuk menuju sekolahnya ia harus menyeberang rawa yang banyak buayanya. Dia saraf empatinya lebih dalam dibandingkan orang lain jika berbicara tentang sulitnya pendidikan dan bersekolah.

Saya pernah dengar ada gerakan memperlambat segala sesuatu. Jika makan dikunyah pelan-pelan. Berjalan juga pelan-pelan. Mungkin pencetus gerakan ini memang merasa ada sesuatu yang hilang dari adanya percepatan terhadap segala sesuatu. Dan yang hilang adalah kenikmatan terhadap waktu, dan kenikmatan menjalani sebuah proses.

Sebetulnya dari percepatan itu apa yang dikejar? Bisa melakukan lebih banyak hal? Atau memperoleh banyak hal? Pernah dengar cerita tentang lembah lolipop? Ada sebuah lembah yang berisi permen lolipop beraneka warna. Dan dua orang berjalan melintasi lembah itu. Satu orang berjalan cepat, mengumpulkan permen lolipop beraneka warna. Begitu sampai di ujung lembah dan kecapean karena mengantongi banyak permen lolipop, dia ditanya oleh penduduk di situ.

‘Wah baru datang ya.. Gimana permen lolipopnya, enak nggak?’

‘Emm.. saya belum ngerasain pak. Tapi semuanya sudah saya kumpulkan di kantong saya beraneka rasa’

Sementara temannya belum sampai. Saat sampai, temannya tampak riang menyapanya

‘Wah kemana aja kamu tadi? Ngapain sih buru-buru? Saya tadi sudah nyobain berbagai permen aneka rasa. Eh di jalan juga ketemu pak tua. Kami ngobrol sambil makan lolipop. Enak deh..’

Banyak orang berambisi mengumpulkan banyak permen lolipop tapi lupa menikmatinya.

Lalu, apa yang didapat dari jalan kaki dari rumah ke kantor setiap hari selama 45 menit itu? Nanti saya ceritain di posting yang lain.

Kerendahan Hati

January 25, 2008

oleh: Taufik Ismail(?) 

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Doa Ayah

(Diambil dari coretan Jenderal Douglas Mc Arthur
di tengah perang pasifik)

attiara21.jpg
Tuhanku,
Jadikanlah anakku seorang yang cukup kuat mengetahui kekurangan dirinya,
Berani menghadapi manakala ia takut
Bangga dan teguh dalam kekalahan
Tulus serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan

Oh Tuhanku,
Jadikanlah anakku seorang yang tahu akan adanya Engkau
Dan mengenal dirinya sebagai dasar segala pengetahuan

Ya Tuhanku,
Bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah
Tetapi di jalan yang penuh desakan, tantangan dan kesukaran
Ajarilah ia, agar sanggup berdiri teguh di tengah badai
Dan belajar mengasihi mereka yang gagal

Ya Tuhanku,
Jadikanlah anakku seorang yang berhati suci dan bercita-cita luhur
Sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain
Mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu

Sesudah semuanya membentuk dirinya, aku mohon Ya Tuhanku,
Rahmatilah ia dengan rasa humor sehingga ia dapat serius tak berlebihan,
Berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran

Jika sudah demikian Tuhanku,
Beranilah aku berkata,”Tak sia-sia aku hidup sebagai Ayahnya.”

Jalan Pedang

January 21, 2008

miyamoto_musashi.jpgMinggu kemarin cukup bersejarah buat saya. Setelah hampir 12 tahun lalu saat pertama kali masuk, baru sekarang saya dan sekitar 150-an teman lainnya diterima menjadi anggota. Meskipun hanya anggota luar biasa yang tidak punya hak pilih ataupun hak dipilih. Juga dengan nomor anggota yang berbeda urutannya dengan anggota biasa. Tapi tetap memiliki nilai yang tinggi buat saya pribadi.

Kadang saya tidak mengerti, bagaimana sebuah aturan bisa ditegakkan sedemikian rupa, sehingga status administratif bisa menjadi begitu penting bagi seseorang. Mungkin karena nomor keanggotaan begitu sulit diperoleh dan harus menempuh perjuangan selama hampir 3 tahun baru seseorang mendapatkannya. Maka nomor anggota ini menjadi begitu penting, sebagai pengakuan yang final atas segenap perjalanan yang telah dilalui.

Saya ceritakan sedikit tentang prosesnya. Gerbang masuknya adalah Pendidikan Dasar. Pendidikan ini dibuka tiap 2 atau 3 tahun sekali. Untuk bisa ikut pendidikan, harus mengikuti 2 seleksi, yakni seleksi fisik dan psikotes. Seleksi fisik mencakup renang, push up, pull up, sprint dan beberapa seleksi lainnya saya lupa. Kemudian psikotes yang dilakukan dengan standar militer (kalau tidak salah, sebab pelaksanaannya di lingkungan militer).

Selesai seleksi yang memakan waktu 2 hingga 3 bulan, masuk pendidikan. Pendidikannya sendiri sebulan. Mulai dari long march, dan materi praktis berkegiatan di alam terbuka. Dilanjutkan dengan pendidikan di hutan berkelanjutan (flying camp) selama 2 minggu. Lalu diteruskan dengan panjat tebing dan olah raga arus deras (ORAD). Kemudian ke rawa selama 3 hari, dan long march 2 hari. Pelatihan ditutup dengan jungle survival 2 hari dan pelantikan menjadi anggota muda.

Setelah itu dilanjutkan dengan pendalaman keilmuan selama 1 tahun. Berbagai sekolah harus diikuti seperti sekolah gunung hutan, sekolah tebing, sekolah ORAD dan sekolah SAR (Search and Rescue) gunung. Selesai masa sekolah, masuk masa pengembaraan. Kami harus mengembara di gunung dan susur pantai. Jika berhasil melewati ini, dilanjutkan dengan ekspedisi besar yang melibatkan seluruh angkatan. Dulu semua proses telah saya ikuti, kecuali ekspedisi yang makan waktu hingga 3 bulan. Saat itu saya sudah bekerja sehingga tidak mungkin ditinggalkan. Jika ekspedisi selesai, maka dilantik dan mendapatkan nomor anggota.

Dari rangkaian proses itu, semua dari kita memperoleh nilai-nilai dan pengalaman yang sulit disampaikan dengan kata-kata. Tapi kami yang pernah menempuh jalan itu, saling tahu satu sama lain. Jalan yang terjal dan tidak semua orang mau memilihnya.

Pertanyaan yang sering saya terima adalah jika sudah memperoleh nomor anggota lalu apa? Apakah dapat gaji? Apakah dapat sertifikat? Apakah dapat tunjangan seumur hidup? Tidak ada. Yang saya dapatkan adalah nilai-nilai yang tertanam yang terbawa seumur hidup. Sebagaimana jalan pedang yang telah ditempuh oleh Musashi. Itu pilihan. Itu sukarela. Dan itu membawa tanggung jawab diri sendiri buat sekitarnya.

Begitu dalamnya pengalaman itu saya peroleh (dan mungkin juga teman-teman lainnya), meskipun berpisah selama hampir 9-10 tahun, namun rasanya baru seperti kemarin dan semua terekam begitu jelas di lubuk hati. Seperti jalan sufi, jalan pedang adalah jalan yang akan dimengerti oleh orang-orang yang melaluinya. Bukan karena pengertian olah fikir atau olah rasa.

Nama organisasi itu Wanadri. Dan jalan yang ditempuh adalah jalan Wanadri. Tertarik ikut? Sekitar bulan Juni-Juli nanti akan dibuka Pendidikan Dasar Wanadri (PDW), yang hanya ada 2 atau 3 tahun sekali. Kalau mau, bisa tanya langsung. Saya sendiri ikut pendidikan dasar ini di tahun 96, dengan nama angkatan Elang Rawa.

Laporan Basi Nonton Megadeth

January 18, 2008

Ini mau nulis laporan nonton megadeth berbulan-bulan lalu. Males mau nginget bulannya.

Pertama tentang teman nonton. Nggak ada satu temanpun yang saya kenal, mau nonton megadeth. Mungkin kenalan saya sekarang bukanlah penikmat aa Mustaine. Ada satu orang, Diung, teman Wanadri yang kerja di Female radio. Tapi dia mau nunggu tiket gratis dari kantornya. Dan tiket biasanya datang beberapa hari atau jam menjelang hari H. Saya nggak mau beresiko, beli sendiri saja. Resiko lainnya, nonton sendiri.

Kedua tentang tiket tempat nonton. Mau pilih festival atau VVIP? Yang VIP nggak enak. Nontonnya miring. Akhirnya milih yang VVIP. Titip adik ipar ke ibu Dibyo. Mau pesan ke Raja Karcis, suruh dateng sendiri dan tempatnya di Manggarai deket rel. Agak aneh untuk sebuah ticket box. Menjelang hari H, Diung ngabarin kalau dia sudah dapat 2 tiket festival. Apa daya saya sudah pegang tiket sendiri, yang saya pelototin melulu pas bengong. Akhirnya, Megadeth.

Hari H, datang sendiri. Janjian ma Diung tapi masih di kantor dan belum selesai. Setelah menunggu habisnya 3in1 di Al Azhar sambil makan somay, saya cari tempat konser. Muter-muter. Tempatnya di Tenis outdoor. Ternyata masuknya dari jalan Asia Afrika atau sebelah barat Senayan yang menuju plasa Senayan (pintu barat). Eh koreksi, masuknya pintu selatan agak barat. Dari lampu merah kira-kira 10 meter. Udah lah, nggak penting. Yang penting konsernya.

Dibuka dengan Take No Prisoner.. saya lupa. Tapi daftar lagunya kenal semua. Symphony of Destruction, Hangar 18, Tout Le Monde, Peace Sell but Who’s Buying?. Dan terakhir, Holywars..Punishment Due, lagu favorit saya. Cuplikan liriknya:

Brother will kill brother
Spilling blood across the land
Killing for religion
Something I don’t understand

Fools like me, who cross the sea
And come to foreign lands
Ask the sheep, for their beliefs
Do you kill on God’s command?

A country that’s divided
Surely will not stand
My past erased, no more disgrace
No foolish naive stand

The end is near, it’s crystal clear
Part of the master plan
Don’t look now to Israel
It might be your homeland

Holy wars

Secara keseluruhan, bagus sekali. Mustaine masih belum kehilangan stamina meskipun sudah gaek. Gayanya masih begitu-begitu saj, seperti di videonya (Wake Up Dead), namun justru itu membuktikan konsistensinya. Hehehe. Namanya orang kalau suka terhadap sesuatu, apa aja terlihat bagus.

Cuma sayang yang nonton sedikit. Juga Mustaine lebih pendiam. Coba ngobrol di tengah-tengah konser, tapi kayaknya yang diajak ngobrol nggak ngerti. Ada beberapa penonton bule yang kelihatannya ngintil kemanapun Megadeth konser.

Yang cukup unik, di sebelah saya suami istri. Istrinya lagi hamil tua. Sementara suaminya hampir hafal seluruh lirik. Menyanyi bareng Mustaine sambil mengelus-elus perut istrinya. Entah apa ingin anaknya seperti Mustaine, atau mendoakan anaknya dengan lirik-lirik lagu Megadeth. Setahu saya nggak ada lirik Megadeth yang bisa dibuat doa. Baca aja contohnya di atas. Rata-rata begitu semua. Sinisme. Perang. Kebodohan politikus. Dunia yang absurd. Halah..

Kesimpulannya, puas puas puas dan puas. Masih kurang. Perasaan cepet selesai. Ketemu Diung pas abis konser. Rokoknya saya kasih ke dia. Pulang dengan suara serak dan leher agak pegel (Apa hubungannya konser Megadeth sama leher pegel?).

Jakarta 1998 Lagi

January 16, 2008

Sesampai di Klender, saya mendapati keluarga yang sudah berkumpul. Tapi ibu masih di pasar. Saya menyusulnya dan membantu merapikan dagangan. Anehnya, sepanjang jalan ke pasar, banyak tetangga berlarian mebawa sesuatu.

‘Ada apa sih pak?’

‘Noh lagi pada ngambilin barang di Jogja’

Rupanya mal Jogja lagi dijarah.

Selesai bantu merapikan dagangan dan pulang, saya beranjak ke Jogja. Hari sudah sore. Waktu itu lepas asar. Saya duduk di rel kereta sebelah pasar. Di depan saya, mal Jogja lagi berkobar-kobar. Seperti orang-orang yang menyaksikan BCA terbakar yang baru saja saya temui tadi siang, saya khusuk memperhatikan Jogja dilalap api. Banyak anak kecil, tua muda melihat tanpa ekspresi. Namun yang paling jadi tanda tanya adalah, apakah di dalam ada orang? Tadi sempat terdengar celetukan di dalam masih banyak orang. Saya juga sempat buka bicara dengan orang samping saya berdiri.

‘Kok bisa kebakar?’

‘Tadi siang sih Jogja masih buka. Terus ada yang lemparin batu ke mal. Begimane nggak tau, tau-tau orang-orang udah pade ngambilin barang. Ehh, lampunye mati. Karena gelap, di dalam orang pada nyalain lilin di lorong-lorong biar keliatan. Mungkin ada lilin yang ketendang nyamber dagangan. Nggak tau juga sih. Taunya udah jadi begini.’

Keesokan harinya pertanyaan saya terjawab. Sekitar 150 orang mati terpanggang di mal Jogja. Kata berita, itu korban terbanyak. Yang kedua di Slipi Jaya, 100 an orang korbannya.

Pagi-pagi saya ke sana untuk melihat. Di parkiran mal mayat-mayat gosong dipajang kayak ikan asin baru diasepin. Tapi semuanya sudah ditutup plastik. Saya nggak berani membukanya. Banyak orang menangis mencari saudaranya yang belum pulang. Ada yang melihat-lihat. Ada yang mengorek-orek celana, dan berharap menemukan KTP di dalamnya. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin mengenal kondisi mayat? Namun ada juga yang menemukan. Entah memang menemukan atau asal ambil. Beberapa plastik mayat dimasukin ke dalam bajay. Dianya sendiri berdiri di pintu bajay, menuju ke arah Kebon Singkong.

Saya pulang, dan lupa, apa yang saya rasakan saat itu. Yang saya ingat, di malam harinya banyak diadakan pengajian. Ada anak tetangga yang nggak balik, tapi mayatnya nggak ditemukan. Kata ibunya udah sempet ambil barang, dan ditarok di rumah, tapi balik lagi kesana. Setelah itu dia nggak kembali. Dan saya memang lupa apa yang saya rasakan saat itu.

Jakarta 1998 dan Pak Tua

January 15, 2008

Mendengar Pak Tua yang sekarang terbaring di RSPP mengingatkan saya pada awal kejatuhannya. Dukun bilang, kekuasaannya jatuh karena auranya telah dibawa ke alam kubur oleh sang istri. Sementara politikus bilang ia telah berkuasa terlalu lama. Dan mungkin CIA bilang, kamu harus turun sekarang. Saya bisa atur sebuah huru-hara untuk menurunkanmu secara paksa. Apapun teori konspirasinya, dia memang akhirnya turun dari jabatannya. Krisis moneter, huru-hara di Jakarta dan akhirnya demo besar-besaran oleh mahasiswa.

Siang itu kami bekerja tidak seperti biasa. Di tempat kerja saya, di departemen pertanian Gedung E Ragunan, ada beberapa televisi yang dinyalakan di ruang kerja. Beberapa pegawai tidak bekerja, namun membolak-balik kanal televisi mengikuti berita. Kebakaran di mal-mal dan perusakan bank dan ATM BCA. Mungkin karena di ruang itu tempat uang disimpan, namun banyak masyarakat dijejali mimpi berduit banyak tidak bisa menjangkaunya. Kantor-kantor polisi dirusak. Di Matraman seseorang berseragam polisi dikeroyok massa.

Semakin siang, pegawai yang menghentikan pekerjaannya semakin banyak. Mereka mulai khawatir dengan berita kerusuhan yang semakin meluas. Ada beberapa pegawai yang pulang. Saya masih tenggelam dalam pekerjaan, namun acapkali mendatangi televisi karena penasaran dengan komentar para pegawai yang merubunginya. Akhirnya mendekati dzuhur, semua pegawai diperintahkan pulang. Entah siapa yang memerintah. Di lorong-lorong kantor terdengar teriakan, ‘pulang, ayo pulang. Ada kerusuhan!’. Sayapun menghentikan pekerjaan dan jalan kaki di tempat kost-an saya di mangga dua pasar minggu. Cuma 1 kilometer dari tempat kerja.

Jalanan masih normal, namun terasa hawa buru-buru dan was-was. Mobil jarang berseliweran. Kalaupun ada satu dua, dipacu dengan kencang seolah hendak menyelamatkan anak istrinya dari mara bahaya. Tujuan saya cuma satu, pulang ke kost-an, ganti baju, lalu ke Klender. Tempat ibu dan kakak saya tinggal. Setelah sholat dzuhur saya meninggalkan kamar kost-an saya yang sepi. Sekitarnya nggak ada orang sama sekali. Sebuah keheningan yang aneh di tengah suasana kerusuhan seperti saat itu.

Di jalanan, tidak ada satu angkutanpun lewat. Jika biasanya Jalan Buncit agak macet, hari itu relatif lengang. Lebih lengang daripada saat saya pulang kantor. Toko-toko tutup. Beberapa orang bergerombol di tepi jalan. Satu dua RX King lewat digeber hingga suaranya memecah jalan. Seolah hendak mengusir kekhawatiran yang tersebar di udara. Beruntung ada Kopaja 68 jurusan Ragunan Kampung Melayu melaju dari arah Ragunan. Saya segera menyetop dan menaikinya. Bayarnyapun masih seperti biasa.

Seperti terbawa hawa sekitar, di dalam Kopaja tidak ada satupun yang bicara. Mereka melihat jalanan dengan mata kucing. Waspada dan siap bertindak jika terjadi sesuatu. Bahkan kondektur juga tidak menawarkan trayeknya. Dia di dalam sambil menoleh ke kanan dan kiri. Menaksir keadaan. Apakah aman? Sopirnya, seperti hendak menebus kesalahannya karena menjalankan Kopaja dalam kondisi demikian, tancap gas habis. Toh jalanan sepi, meskipun di pinggir jalan banyak orang bergerombol. Meskipun demikian beberapa penumpang yang menyetop masih ia angkut juga.

Sepanjang Warung Buncit dan Mampang toko-toko tutup. Gedung-gedung dikunci rapat. Pagarnya semua tertutup dan satpam bersiaga penuh. Kumpulan orang di pinggir jalan lebih banyak dari biasanya. Mereka bergerombol di pojok-pojok jalan. Melewati puteran menuju Gatot Subroto yang jalanannya agak di atas, memberi kesempatan pada saya untuk melihat kejauhan. Asap mengepul di mana-mana. Mengingatkan saya pada kota-kota di Palestina saat dihujani roket oleh Israel. Memang sih bukan perang, dan mungkin tidak sebuas perang.

Memasuki tebet setelah melewati Gelael dan Pasar Tebet, beberapa penumpang seperti terlihat lega. Mungkin sepanjang perjalanan tadi ngeri jika Kopajanya dihentikan orang dan dibakar. Pak sopir berinisiatif membelokkan Kopaja melewati dalam Tebet hingga tembus di belakang stasiun Tebet. ‘Abis di sini’, kondekturnya teriak. Kalau biasanya kami protes karena diturunkan seenaknya, kali ini kami memakluminya. Saya sendiri bingung. Klender masih jauh dari Tebet.

Dengan berjalan kaki saya menyusuri jalan antara Tebet dan Kampung Melayu. Waktu itu belum ada jalan layang. Orang-orang telanjang dada berlarian. Ada yang mengangkut komputer. Tipi. Rupanya Fuji Film di kiri jalan berhasil didobrak dan barangnya dijarah. Meja dan kursinya dibakar di tengah jalan. Seseorang berseragam SMA tampak tergeletak dengan kening berdarah. Ia dipangku sebayanya yang juga berseragam. Ia mengusap-usap luka temannya untuk membersihkan debu. Beberapa orang mendobrak BCA yang tertutup rapat. Ada juga yang membawa karpet. Semua berlarian dengan wajah beringas seolah-olah akan kiamat. Tidak ada anak-anak di jalan.

Sampai di terminal Kampung Melayu, ada beberapa Metro Mini, tapi semuanya ngetem. Jalanan banyak sekali orang. Ada yang berjalan gontai, buru-buru atau berlari membawa jarahan. Saya berjalan menuju jatinegara. Setiap beberapa menit terlihat helikopter melintas. Seumur-umur baru sekali itu mengalami suasana seperti perang. Dan yang terlewatkan, dari banyaknya manusia yang berada di jalan, tak ada satupun polisi.

Di pertigaan Kebon Pala – Jatinegara, puluhan orang bergerombol. Mereka menyaksikan kantor BCA yang dilalap api. Apinya masih besar. Saya ikut merasakan panasnya saat melintas. Bunyi berdenting kaca berjatuhan dilahap api sesekali terdengar. Ada dua orang berseragam satpam di situ. Semuanya khusuk menyaksikan kantor cabang bank terbesar di Indonesia itu tenggelam di tengah kobaran api.

Mendekati stasiun Jatinegara, ratusan orang memadati jalan. Tujuannya satu. Kantor Polisi di depan stasiun. Mereka melempari kantor itu dengan apa saja yang bisa dilempar. Batu. Sepatu. Seseorang berusaha naik ke pagar menenangkan. Namun hasilnya timpukan batu. Ia akhirnya turun. Saya mencoba menerobos barisan orang itu namun sempat tertahan ditengah-tengah. Teriakan dan sumpah serapah mencaci Polisi mewarnai udara. Seperti gelombang saya terseret ke kanan dan ke kiri. Tapi tetap berusaha jalan, menerobos. Setelah kira-kira 10 menit, akhirnya bisa keluar dari kerumunan itu. Entah apa yang terjadi berikutnya di situ. Saya tetap berjalan ke arah Klender. Beruntung mendekati penjara Cipinang, ada mikrolet 27 jurusan Pulogadung yang narik. Nekad juga ini sopir. Tapi saya patut berterima kasih, karena bisa cepat sampai di rumah kontrakan ibu.

Resolusi Bedul

January 9, 2008

Karena latah ingin seperti para blogger lain yang membuat resolusi, Bedul juga ingin menggerakkan revolusi, eh menyampaikan resolusi. Saat ingin membuat resolusi, Bedul tentu saja menggunakan tolok ukur Muhammad Nabi, manusia istimewa yang telah mancapai batas terluar yang pernah dicapai oleh manusia. Berikut resolusi Bedul yang telah disebarkan wartawan melalui press release di kediaman mewah-nya (mewah = mepet sawah).

Resolusi Bedul
dikeluarkan di
Pos Ronda Sehat Akal,
Jalan Akherat no 666
Kelurahan Korupsi Jaya Kecamatan Ogah Nyambi

Di tahun 1429H ini, saya, Bedul, atas nama perut dan mulut menyampaikan tiga resolusi berikut:

Resolusi 1
Tahun ini saya ingin lebih lapar. Jika di tahun sebelumnya saya selalu kenyang, terus menerus mengisi perut meskipun belum waktunya di isi, baik dengan lontong sayur, nasi uduk, cumi asam manis, pepes tahu dan makanan ‘slurpss’ lainnya, maka tahun ini saya ingin lebih lapar. Saya merasa lebih cepat ngantuk, lebih malas bekerja, baru membaca satu paragraf sudah ketiduran, egois, ignoran dengan sekitar karena banyaknya timbunan di pencernaan. Maksud hati ingin berhenti makan, apa daya lontong sayur selalu menggoda. Cukuplah pengisi perut agar badan ini tetap tegak.

Hint: nabi dulu mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar.

Resolusi 2
Tahun ini saya ingin lebih melek alias mengurangi tidur. Lenyapkan prinsip pelor (begitu nempel langsung molor) atau borok lirsing (yen tibo ngorok yen nglilir ngising -maap). Tidur membuat umur saya lebih pendek karena saat tidur tidak ingat apa-apa seperti orang mati. Jika dalam setahun umur saya 6144 jam dan setiap hari saya tidur 8 jam, maka umur saya berkurang 2048 jam pertahun atau sekitar 170 hari. Diharapkan dengan mengurangi tidur hingga setengahnya (4 jam per hari) akan memanjangkan umur saya hingga 1024 jam atau 85 hari per tahunnya.

Hint: nabi menggunakan malam-malamnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Rahman.

Resolusi 3
Tahun ini saya ingin lebih pasrah. Jika tahun sebelumnya saya merasa punya kuasa terhadap diri saya sendiri, maka tahun ini saya ingin lebih pasrah. Mengalir tapi tidak hanyut. Biarlah saya dicap orang sebagai orang fatalis atau eskapis alias kecanduan kambing hitam. Pasrah bukan berarti kehilangan persistence. Pasrah bukan berarti kehilangan target atau tujuan. Pasrah berarti sumeleh. Melepaskan diri dari ikatan kekinian. Hail to struggle to surrender! Hail..

Hint: kenapa resolusi harus pakai hint?

Demikian resolusi ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat saya pergunakan sebagaimana mestinya. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat mungkin. Sekaligus, Bedul mengucapkan Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah bagi yang menggunakan kalender Hijriah.

Blogosfer, 1 Muharram 1429

tertanda, Bedul.