Jakarta 1998 dan Pak Tua

Mendengar Pak Tua yang sekarang terbaring di RSPP mengingatkan saya pada awal kejatuhannya. Dukun bilang, kekuasaannya jatuh karena auranya telah dibawa ke alam kubur oleh sang istri. Sementara politikus bilang ia telah berkuasa terlalu lama. Dan mungkin CIA bilang, kamu harus turun sekarang. Saya bisa atur sebuah huru-hara untuk menurunkanmu secara paksa. Apapun teori konspirasinya, dia memang akhirnya turun dari jabatannya. Krisis moneter, huru-hara di Jakarta dan akhirnya demo besar-besaran oleh mahasiswa.

Siang itu kami bekerja tidak seperti biasa. Di tempat kerja saya, di departemen pertanian Gedung E Ragunan, ada beberapa televisi yang dinyalakan di ruang kerja. Beberapa pegawai tidak bekerja, namun membolak-balik kanal televisi mengikuti berita. Kebakaran di mal-mal dan perusakan bank dan ATM BCA. Mungkin karena di ruang itu tempat uang disimpan, namun banyak masyarakat dijejali mimpi berduit banyak tidak bisa menjangkaunya. Kantor-kantor polisi dirusak. Di Matraman seseorang berseragam polisi dikeroyok massa.

Semakin siang, pegawai yang menghentikan pekerjaannya semakin banyak. Mereka mulai khawatir dengan berita kerusuhan yang semakin meluas. Ada beberapa pegawai yang pulang. Saya masih tenggelam dalam pekerjaan, namun acapkali mendatangi televisi karena penasaran dengan komentar para pegawai yang merubunginya. Akhirnya mendekati dzuhur, semua pegawai diperintahkan pulang. Entah siapa yang memerintah. Di lorong-lorong kantor terdengar teriakan, ‘pulang, ayo pulang. Ada kerusuhan!’. Sayapun menghentikan pekerjaan dan jalan kaki di tempat kost-an saya di mangga dua pasar minggu. Cuma 1 kilometer dari tempat kerja.

Jalanan masih normal, namun terasa hawa buru-buru dan was-was. Mobil jarang berseliweran. Kalaupun ada satu dua, dipacu dengan kencang seolah hendak menyelamatkan anak istrinya dari mara bahaya. Tujuan saya cuma satu, pulang ke kost-an, ganti baju, lalu ke Klender. Tempat ibu dan kakak saya tinggal. Setelah sholat dzuhur saya meninggalkan kamar kost-an saya yang sepi. Sekitarnya nggak ada orang sama sekali. Sebuah keheningan yang aneh di tengah suasana kerusuhan seperti saat itu.

Di jalanan, tidak ada satu angkutanpun lewat. Jika biasanya Jalan Buncit agak macet, hari itu relatif lengang. Lebih lengang daripada saat saya pulang kantor. Toko-toko tutup. Beberapa orang bergerombol di tepi jalan. Satu dua RX King lewat digeber hingga suaranya memecah jalan. Seolah hendak mengusir kekhawatiran yang tersebar di udara. Beruntung ada Kopaja 68 jurusan Ragunan Kampung Melayu melaju dari arah Ragunan. Saya segera menyetop dan menaikinya. Bayarnyapun masih seperti biasa.

Seperti terbawa hawa sekitar, di dalam Kopaja tidak ada satupun yang bicara. Mereka melihat jalanan dengan mata kucing. Waspada dan siap bertindak jika terjadi sesuatu. Bahkan kondektur juga tidak menawarkan trayeknya. Dia di dalam sambil menoleh ke kanan dan kiri. Menaksir keadaan. Apakah aman? Sopirnya, seperti hendak menebus kesalahannya karena menjalankan Kopaja dalam kondisi demikian, tancap gas habis. Toh jalanan sepi, meskipun di pinggir jalan banyak orang bergerombol. Meskipun demikian beberapa penumpang yang menyetop masih ia angkut juga.

Sepanjang Warung Buncit dan Mampang toko-toko tutup. Gedung-gedung dikunci rapat. Pagarnya semua tertutup dan satpam bersiaga penuh. Kumpulan orang di pinggir jalan lebih banyak dari biasanya. Mereka bergerombol di pojok-pojok jalan. Melewati puteran menuju Gatot Subroto yang jalanannya agak di atas, memberi kesempatan pada saya untuk melihat kejauhan. Asap mengepul di mana-mana. Mengingatkan saya pada kota-kota di Palestina saat dihujani roket oleh Israel. Memang sih bukan perang, dan mungkin tidak sebuas perang.

Memasuki tebet setelah melewati Gelael dan Pasar Tebet, beberapa penumpang seperti terlihat lega. Mungkin sepanjang perjalanan tadi ngeri jika Kopajanya dihentikan orang dan dibakar. Pak sopir berinisiatif membelokkan Kopaja melewati dalam Tebet hingga tembus di belakang stasiun Tebet. ‘Abis di sini’, kondekturnya teriak. Kalau biasanya kami protes karena diturunkan seenaknya, kali ini kami memakluminya. Saya sendiri bingung. Klender masih jauh dari Tebet.

Dengan berjalan kaki saya menyusuri jalan antara Tebet dan Kampung Melayu. Waktu itu belum ada jalan layang. Orang-orang telanjang dada berlarian. Ada yang mengangkut komputer. Tipi. Rupanya Fuji Film di kiri jalan berhasil didobrak dan barangnya dijarah. Meja dan kursinya dibakar di tengah jalan. Seseorang berseragam SMA tampak tergeletak dengan kening berdarah. Ia dipangku sebayanya yang juga berseragam. Ia mengusap-usap luka temannya untuk membersihkan debu. Beberapa orang mendobrak BCA yang tertutup rapat. Ada juga yang membawa karpet. Semua berlarian dengan wajah beringas seolah-olah akan kiamat. Tidak ada anak-anak di jalan.

Sampai di terminal Kampung Melayu, ada beberapa Metro Mini, tapi semuanya ngetem. Jalanan banyak sekali orang. Ada yang berjalan gontai, buru-buru atau berlari membawa jarahan. Saya berjalan menuju jatinegara. Setiap beberapa menit terlihat helikopter melintas. Seumur-umur baru sekali itu mengalami suasana seperti perang. Dan yang terlewatkan, dari banyaknya manusia yang berada di jalan, tak ada satupun polisi.

Di pertigaan Kebon Pala – Jatinegara, puluhan orang bergerombol. Mereka menyaksikan kantor BCA yang dilalap api. Apinya masih besar. Saya ikut merasakan panasnya saat melintas. Bunyi berdenting kaca berjatuhan dilahap api sesekali terdengar. Ada dua orang berseragam satpam di situ. Semuanya khusuk menyaksikan kantor cabang bank terbesar di Indonesia itu tenggelam di tengah kobaran api.

Mendekati stasiun Jatinegara, ratusan orang memadati jalan. Tujuannya satu. Kantor Polisi di depan stasiun. Mereka melempari kantor itu dengan apa saja yang bisa dilempar. Batu. Sepatu. Seseorang berusaha naik ke pagar menenangkan. Namun hasilnya timpukan batu. Ia akhirnya turun. Saya mencoba menerobos barisan orang itu namun sempat tertahan ditengah-tengah. Teriakan dan sumpah serapah mencaci Polisi mewarnai udara. Seperti gelombang saya terseret ke kanan dan ke kiri. Tapi tetap berusaha jalan, menerobos. Setelah kira-kira 10 menit, akhirnya bisa keluar dari kerumunan itu. Entah apa yang terjadi berikutnya di situ. Saya tetap berjalan ke arah Klender. Beruntung mendekati penjara Cipinang, ada mikrolet 27 jurusan Pulogadung yang narik. Nekad juga ini sopir. Tapi saya patut berterima kasih, karena bisa cepat sampai di rumah kontrakan ibu.

One thought on “Jakarta 1998 dan Pak Tua”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *