Ada Sesuatu yang Bau dari Kode

April 22, 2008

Dalam pemrograman dikenal code smells. Artinya saat Anda menulis atau membaca, hmm.. rasanya ada yang keliru. Ada yang berasep dari program ini. Begitu kira-kira. Beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh saya (ingat, jangan menghakimi orang lain, diri sendiri aja 🙂 ).

Mungkin itu dulu. Ada yang mau nambahin. Anyone?

Menulis Kode Tanpa Mbayangin

April 16, 2008

Buat sedherek, sedulur dan sodara sekalian yang sehari-harinya mencari seupil berlian dengan menulis kode (code for food), ada berapa kode program yang Anda buat tapi nggak bisa dipakai lagi? Apakah semua program Anda dibuat dari nol? Apakah program-program lama Anda ndak bisa dipake lagi (reused)? (non programmer bacanya sambil merem aja..- red)

Mungkin catatan kecil ini bisa membantu. Bahasa jowonya, The Dependency Inversion Principle (DIP). Mungkin sebelum ke DIP, perlu dipahami dulu, bagaimana program itu jelek secara desain (bad design). Ada 3 komponen:

  1. Rigidity, susah untuk diganti, sebab memiliki ketergantungan dengan yang lainnya. Artinya harus mengecek banyak hal sebelum mengganti perilaku suatu komponen atau fungsi.
  2. Fragility, artinya rentan.Ini berarti bila satu komponen diganti, makan akan merusak komponen lainnya.
  3. Immobility (duh ini yang paling jamak), tidak bisa digunakan kembali karena terikat erat dengan sistem dimana program itu dijalankan.

Memang konsep di atas terutama ditujukan dalam pemrograman berbasis obyek (OOP). Tapi bahasa prosedural mungkin bisa mengadopsi konsepnya (kumpulan fungsi yang menjadi library). Lalu bagaimana menghindari 3 komponen bad design di atas. Ada banyak cara dan prinsip, terutama jika kita sering melakukan refactoring (bayangin seperti normalisasi data saat ingin membuat database, ini adalah ‘normalisasi modul dan fungsi’).

Prinsip dari DIP adalah:

1. Modul level yang lebih tinggi, tidak boleh tergantung dengan modul level lebih rendah. Keduanya harus bergantung pada abstraksi.

2. Abstraksi tidak boleh bergantung pada detail. Detail yang harus bergantung pada abstraksi.

Apa ya maksudnya? PR buat Anda (ini memang penulis agak kurang ajar, ngasih PR ke pembacanya). Abis nulisnya kemaleman, mau pulang (ngeles.com).

Mau Kemana Pak?

April 8, 2008

Akhir-akhir ini Indonesia berjalan ke arah yang salah (atau dari dulu?)

  1. Penggembokan celana dalam
  2. Pemblokiran situs-situs
  3. Pengantrian minyak tanah
  4. Pemburukan gizi banyak bayi
  5. Perebutan penerbit sertifikat halal
  6. Peributan hal-hal yang tidak penting oleh orang-orang pinter
  7. Anda bisa isi sendiri …

Apakah ini realitas atau persepsi terhadap realitas? Sekarang, berita media adalah realitas. Kabar burung kuntul adalah realitas. Televisi adalah realitas. Dan itu dibenamkan ke otak sehingga menjadi bagian dari dunia saya. Menjadi kenyataan saya. Ah kalau gitu saya ganti saja paragraf awalnya: ‘akhir-akhir ini, menurut kabar yang saya dengar, Indonesia berjalan ke arah yang salah’.

Saya merindukan Pram menuliskan novelnya. Saya merindukan Rendra membacakan sajaknya. Saya merindukan Hatta menyebarkan integritasnya. Dan saya merindukan Muhammad atas kezuhudan dan kasih sayangnya.

Dengan begitu banyak orang yang saya rindu, kesimpulannya adalah, saya menjadi terasing di ruang dan waktu ini.

Dapat apa Jalan Kaki dari Rumah ke Kantor?

April 4, 2008

Sebagaimana janji sebelumnya  berikut saya tulis dan tampilkan apa yang saya dapat saat berjalan kaki dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Foto ini kadang dibuat saat berangkat, kadang dibuat saat pulang. Yang pasti, saat berjalan kaki, beberapa hal menjadi lebih kelihatan.

Kadang saya melihat bapak-bapak tua yang lagi memarut kelapa dengan pandangan kosong. Apa yang ia pikirkan? Hidup setelah mati? Anak-anak yang melupakannya? Kesunyian di usia senja? Hal yang tidak terlihat atau terpikir jika saya naik motor atau mobil.

cahayatitis.jpg

Ini jalan masuk menuju rumah. Masih tanah dan batu-batu

tanahbaru.jpg

Di jalan tanah baru yang masih seperti suasana di kampung saya Salatiga. Padahal gak jauh dari hiruk-pikuk Margonda. Pejalan kaki agak sengsara karena tidak ada trotoar, sedangkan jalannya sempit, berlubang tapi ramai. Jalan kecil ini menampung banyak komuter dari sekitar mampang (depok), sawangan yang menuju ke kantor atau pulang. Kalau jalan harus melompati genangan air. Kalau di aspal, ngeri kesamber motor, atau diklaksonin terus.

 

jembatan.jpg

 

Ini jembatan yang memperpendek jarak rumah ke kantor. Satu mobil cukup kok.

gangkecil.jpg

Ini komplek kontrakan. Sebetulnya agak aneh, di suasana yang masih seperti pedesaaan, banyak rumah-rumah petak yang sempit. Mungkin mereka pendatang, yang mendatangi Jakarta bersama mimpi-mimpi seperti laron yang mendekati lampu pijar. Entah apa yang ditemukan. Di sini cuma bisa jalan kaki, karena ada tangga.

kuburan.jpg

Mengingat tanah kuburan semakin mahal, mungkin bisa dipertimbangkan untuk membuat kuburan sendiri di halaman rumah. Banyak juga manfaatnya, selain tidak perlu pusing dengan biaya perawatan atau sewa kapling kuburan, makam di halaman juga bisa menjadi pengingat bahwa tempat kita kelak disitu. Sukur-sukur kalau Anda siapin dulu nisannya :-), dan setiap hari dilewatin.

kuburan-wujud-beji.jpg

 Saya dari dulu memang penasaran dengan pohon tua ini. Kalau naik motor hanya kelihatan dari jauh. Saat jalan kaki baru bisa melongok dengan jelas. Di bawahnya ada bangunan, ada beberapa kamar kecil, mengesankan tempat ini tempat ziarah. Ternyata benar, ini adalah makam Mbah Raden Wujud Beji. Ini mungkin menjelaskan kenapa nama kelurahan dan kecamatan sekitar sini adalah Beji.

Itulah sekelumit skrinsut, dan pandangan mata dari jalan kaki rumah-kantor sekitar 45 menit. Apalagi yang didapat? Selain punya waktu untuk memikirkan banyak hal sepanjang perjalanan, juga membuat badan jadi bugar. Efeknya jadi lebih produktif. Mau? Siapa saja bisa melakukan asal masih punya kedua kaki yang sehat. Tapi kalau rumah depok, kantornya di Mangga dua jangan dicoba yaaa.. 🙂