Kenapa Kita Berdoa?

May 5, 2008

Kapan Anda mulai berdoa? Jika kemungkinan berhasil di bawah 10%? Jika Anda menginginkan mujizat? Misalnya ujian negara nggak pernah belajar nggak pernah masuk kuliah, lalu berdoa supaya lulus. Berdoanya khusyu. Siang dan malam. Apakah akan lulus? Misalkan jika Anda 100% pasrah dan 100% percaya bahwa doa Anda akan dikabulkan, apakah akan lulus?

Dalam pandangan tertentu, nasib manusia ditentukan oleh usaha manusia sendiri. Sang Pencipta tidak akan ikut campur. Ia hanya seperti bapak yang mengawasi anaknya. Menyentilnya jika perlu. Bahkan seolah-olah Dia berada di atas sana, seperti nonton ikan di akuarium.

Dalam pandangan lain, nasib manusia sudah tertulis dan tulisan itu sudah tersimpan di sana, manusia tinggal menjalaninya. Seperti di film the Matrix. Anda seolah-olah punya ‘free will‘ alias kebebasan berkehendak. Tapi apa lacur, kebebasan berkehendak Anda masih dalam frame the Matrix. Tunduk pada aturan-aturan baku yang sudah diprogram sebelumnya. Tulang-tulang Anda akan semakin keropos. Kulit semakin keriput. Dan free will Anda tidak bisa menghindar dari kematian. Banyak orang menyebutnya sebagai hukum alam. Bahkan pencetus ‘law of attraction‘ sampai menekankan bahwa alamlah yang menyambut ‘will‘ Anda.

Ada pandangan baru yang menarik. Doa adalah salah satu cara Tuhan memperkenalkan diri-Nya. Sebetulnya pada saat Anda menginginkan sesuatu, misalnya henpon dengan kamera 3 mega piksel dan bisa video, siapa yang pertama kali menghembuskan keinginan itu? Apakah Anda sendiri? Emangnya siapa Anda? Lalu kenapa keinginan itu tidak muncul pada orang lain. Kenapa Anda yang terpilih untuk punya keinginan itu? Apa yang membuat keinginan itu muncul dalam kepala Anda dan bukan kepala saya?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada pertanyaan dasar. Siapa Anda? Emang penting gitu? Anda terdiri dari ruh, dan nafs. Fisik adalah wadag. Tempat mampir. Meat puppet. Boneka berdaging. Ruh-lah yang membuat segala sesuatu menjadi ada. Misalnya pada saat Anda tidur pulas, lalu mata dibuka, kenapa Anda nggak melihat apa-apa? Padahal fungsi retina berjalan dengan baik. Sinar juga datang. Kenapa Anda nggak menangkap keberadaan senter yang menyorot mata Anda saat tidur?

Jadi kembali ke leptop, saat Anda ingin sesuatu, coba ingat kembali, yang menginginkan itu ruh atau nafs? Caranya gimana supaya tahu? Ya berdoa saja supaya dikasih tahu caranya 🙂 Saya juga tidak tahu. Makanya waktu berdoa secara normatif (dalam islam, sholat), saya diperintahkan untuk meminta sebanyak 17x setiap hari, untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Jalan yang selalu berada pada bisikan ruh. Merupakan cermin dari cahaya ilahiah. Bukan keinginan nafs. Pada saat Anda misalnya, ingin menikah lagi, nafs atau ruhkah yang membisikkan keinginan itu? Sebab jika yang membisikkan itu nafs, maka Anda menjauhkan diri dari bisikan ruh.

Kembali ke doa (lagi), keinginan itu berhembus dalam diri kita, entah dari ruh atau dari nafs. Dari keinginan itu muncullah harapan, untuk mewujudkannya disertai dengan doa, sebagai wujud penghambaan setelah keinginan itu ditiupkan dalam ruh.

Mumet? Sama.