Instal Revisor di Fedora 9

June 26, 2008

Sekian lama nggak ngotak-atik jeroan. Apalagi sudah pakai Debian, the one-true-linux yang sudah dimanjakan dengan apt-get, lengkaplah sudah kemalasan saya. Tapi karena sesuatu hal, dalam hal ini tuntutan profesi (halah) saya instal Fedora 9. Instalasi lus mulus lah.. hasilnya cakep, ndak ada masalah. Compiz juga langsung ngacir, tanpa harus aktivasi manual. Di Gnome ada panel untuk aktivasinya. Ini memang sudah sedemikian keren apa saya yang norak. Maklum, gaulnya ama console, vim dan mutt.

Tugas pertama selesai instal Fedora, adalah instal revisor.  Sayangnya yang tersedia adalah revisor untuk Fedora 7. Jadi harus rebuild. Jadilah saya download source rpmnya.

http://files.revisor.fedoraunity.org/revisor-2.0.1-1.fc7.src.rpm

Terus langsung rebuild

rpmbuild --rebuild  revisor-2.0.1-1.fc7.src.rpm

Ahh butuh paket instltool. Ok kita jabanin..

yum install intltool

Entah kenapa Perl ikutan diupgrade. Jadilah download 8MB. Selesai download, dan jalan lancar, kita rebuild ulang revisornya. Brrr.. jadi juga. revisor-2.0.1-1.fc9.noarch.rpm.

Waktu dijalanin, butuh pungi, pungi comps-extras livecd-tools. Ok kita instal lewat yum, dan jalanin lagi.

yum install pungi comps-extras livecd-tools

Hmm, masih komplain progress_meter. Search lagi, ternyata progress_meter ada di paket yum-arch.

yum install yum-arch

Ok kita jalanin lagi. Wah masih komplen juga, progress_meter nggak ketemu. hmm, penasaran saya buka /usr/lib/python2.5/site-packages/revisor/revisorcli.py. Ternyata dia mikirnya progress_meter ada di paket yum-cli. Lah, ini dia:

sys.path.append("/usr/share/yum-cli")

Saya ganti aja ke path benerannya, soalnya progress_meter ada di bawah yum-arch:

sys.path.append("/usr/share/yum-arch")

Ok, berikutnya kita jalankan, masih komplen paket pirut. Pirut not found katanya. Dan ternyata, di Fedora9 ini, pirut sudah almarhum. Banyak juga yang misuh. Jadi gimana dong, pirut.py nggak ada di gnome-packagekit, pengganti pirut. Ya sudah kita uninstall aja gnome-packagekit-nya, dan download pirut-nya.. Kita ganti pirut.

yum remove gnome-packagekit
rpm -ivh pirut-1.3.31-1.fc8.noarch.rpm

Lalu kita jalankan revisor. Rupanya belum kelar juga. Komplen kalau hardwareList.py nggak ada. Dicari sana-sini, ternyata masuk paket system-config-kickstart

yum install system-config-kickstart
revisor

revisor.pngvoila! Jadi berepot-repot untuk apa sih? emm ini, revisor bisa bantu saya bikin comps.xml, dan grouping paket, tanpa harus repot mikirin dependensi. Ujungnya? Untuk remaster Fedora.

Similar Minds

June 18, 2008

Iseng-iseng ambil tes di similar minds, ini hasilnya:

secretive, reclusive, messy, disorganized, introverted, unassertive, rarely worries, dislikes large parties, does not like to fit in, does not need to control others, solitary, ambivalent about chaos, tough, leisurely, does not respect authority, not aggressive, observer, abstract, impractical, dislikes leadership, daydreamer, bizarre, does not make friends easily, not a perfectionist, suspicious, rarely irritated, strong physical instincts, unsympathetic at times, risk taker, submissive, weird, sarcastic, strange

Lalu ini:


What Famous Leader Are You?
personality tests by similarminds.com


What Classic Movie Are You?
personality tests by similarminds.com

Dan ini:

Right Brain |||||||||||||||| 64%

Left Brain |||||| 24%

Left brain dominant individuals are more orderly, literal, articulate, and to the point. They are good at understanding directions and anything that is explicit and logical. They can have trouble comprehending emotions and abstract concepts, they can feel lost when things are not clear, doubting anything that is not stated and proven.
Right brain dominant individuals are more visual and intuitive. They are better at summarizing multiple points, picking up on what’s not said, visualizing things, and making things up. They can lack attention to detail, directness, organization, and the ability to explain their ideas verbally, leaving them unable to communicate effectively.

Overall you appear to be Right Brain Dominant

Tirani Mayoritas

June 11, 2008

Mayoritas memang berkecenderungan untuk menjadi tiran. Seperti tagline blog ini, tyranny of the lowest common denominator. Awalnya adalah ignoran, tidak peduli terhadap minoritas. Kecil-kecil jangan dikasih ati, nanti ngelunjak. Begitu kira-kira mikirnya. Setelah ignoran, lalu merasa benar sendiri. Kebenaran bertumpu pada pikirannya, terjemah-terjemahnya dan juga pendapatnya. Dan karena mayoritas, benar-sendiri menjadi fasis. Fasis adalah memaksakan kebenaran yang menurut dirinya itu, kepada orang lain. Dan ujung-ujungnya adalah tirani.

Manusia memang cenderung mencari keseragaman. Keseragaman menimbulkan rasa aman. Berbeda adalah ancaman. Meskipun sudah dikasih petunjuk bahwa perbedaan itu adalah salah satu limpahan kasih sayang Tuhan kepada ciptaan-Nya, tetap saja tidak nyaman jika ada yang berbeda. Dibutuhkan kedewasaan tersendiri untuk bisa menerima keberagaman dalam lingkungan yang berbeda-beda. Tapi sebagaimana idiom lama, menjadi tua adalah kepastian. Menjadi dewasa adalah pilihan. Apa yang Anda pilih?

Jaman Fosil dan Pengemis Buta

June 9, 2008

Peradaban sekarang digerakkan oleh fosil. Setiap energi perlu bahan bakar. Listrik. Mobil. Pesawat. Televisi. Penerangan. Semuanya dari bahan bakar fosil. Bahan bakar yang sangat terbatas. Diperkirakan akan habis 2030. Berarti peradaban sekarang menghadapi titik nadir. Bakal habis. Tanda-tandanya sudah terlihat. Harga bahan bakar melambung. Produksi makanan nggak akan cukup untuk memberi makan setiap kepala penduduk bumi. Kesenjangan menjadi-jadi.

Lalu bentuk peradaban apakah yang mungkin bisa kita adopsi? Memang alam memutar dirinya menjadi satu siklus yang bisa dikatakan, lepas dari campur tangan manusia. Dia punya hukum sendiri. Tapi saya percaya, hukum itu adalah kausalitas. Kita menabur angin, kita menuai badai. Ronggowarsito punya teori jaman kalasuba, jaman kalabendu dan jaman kalatida. Seorang teman, punya teori keseimbangan. Jika damai terlalu lama, perang akan menemukan jalannya sendiri. Pointnya, bisakah kita merumuskan peradaban baru? Atau membiarkan alam menuntun kita?

Pitirim Sorokin, konon mengutip Hegel, menyatakan bahwa peradaban dibentuk oleh tiga landasan. Yakni landasan inderawi, landasan non indrawi dan landasan idealistik. Inderawi, berarti semuanya harus bisa diindra. Ilmu pengetahuan harus bisa dianalisa. Teori ilmiah lewat pembuktian yang bisa diindra juga menjadi garda depan. Fisika mekanik menjadi nyawa kemajuan. Tidak ada tempat bagi metafisik. Spiritual. Klenik. Mitologi. Sihir. Kebalikannya, landasan non indrawi berdasar pada non fisik. Metafisik tumbuh subur. Spiritualitas diagungkan. Mitologi berkembang. Semua yang bisa diindra dianggap dangkal. Sedangkan yang ketiga adalah yang ideal. Gabungan dari keduanya. Keseimbangan. Nah, peradaban saat ini, yang melahirkan kapitalisme (lengkap dengan hedonisme) adalah anak peradaban inderawi.

Pada masa titik nadir seperti saat ini, perlu dirumuskan peradaban baru yang idealistik (atau tepatnya holistik). Spiritualisme dan metode ilmiah bersandingan. Dengan kata lain, pada titik tertentu kita mengandalkan metode ilmiah, namun sebagai motivasi utama adalah nilai-nilai spiritual yang didapat secara pribadi bagi orang-per orang. Pemegang kekuasaan harus menjamin bahwa kehidupan spiritual adalah hak bagi tiap orang dan tidak diganggu, bahkan didorong agar berkembang sejalan dengan pengetahuan ilmiah. Spiritualisme didorong untuk masuk ke ruang-ruang sosial. Bukan pada simbol, tapi pada esensi. Ini yang berat, dimana kaum spiritualis dan cendekiawan sama-sama berusaha mencari titik temu yang seimbang. Yang adil. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sebab yang muncul adalah penyelewengan, yakni simbol spiritual dimanfaatkan untuk kepentingan inderawi.

Begitulah, renungan orang ngelamun 🙂 Kesepian diantara hingar-bingar kejadian sekitar. Di saat yang lain memuja kekerasan, di mana kelembutan? Di saat yang lain berorientasi pada saat sekarang, di mana visi masa depan? Di saat semua orang merasa paling benar, mana jiwa-jiwa yang sabar lagi mengalah? Sebagai penutup posting ini, saya ingin tuliskan riwayat yang ingin saya bagi kepada siapa saja. Begini…

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapat seorang pengemis Yahudi buta, yang tiap hari apabila ada orang yang mendekatinya , ia selalu berkata

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Tetapi setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya,

“anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”,

Aisyah r.ha menjawab,
“Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnahpun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.

“Apakah itu?”, tanya Abubakar r.a.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak,

“Siapakah kamu ?”

Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa menyuapimu”.

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku!”, jawab si pengemis buta itu.

“Apabila orang yang sering menyuapiku datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu ia menghaluskan makanannya sehingga aku tidak susah mengunyahnya”, kata pengemis buta itu.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a., ia begitu terharu hingga meneteskan air mata, kemudian berkata,

“Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, sungguh ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta itu pun akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.