Benih Kebencian

Hancurkan..hancurkan.. Israel..Israel..” Begitu Attar, anak saya yang berusia empat tahun meneriakkan yel-yelnya dengan semangat. Tentu saja saya kaget. Asli. Memang banyak catatan kejahatan Israel terhadap Palestina. Memang banyak saudara di Palestina, sebagai sesama muslim, yang harus dibantu sebisa mungkin yang kita mampu. Tapi menebarkan kebencian pada anak-anak? Itu bukan hak saya. Bukan juga hak guru-guru anak saya.

Tidak seharusnya kebencian disebarkan, sedendam apapun kesumat kita terhadap suatu kaum ataupun seseorang. Nabi Muhammad saja memaafkan orang yang melempar kotoran saat beliau beribadah. Atau mendoakan orang-orang sekampung yang melemparinya dengan batu. Kalau bisa, sekam kebencian itu, begitu menghampiri saya (mau pake kita, tar disangka pak guru), dia mati, tak ada bekas, dan tak keluar lagi menyebar ke yang lainnya. Biarlah badan ini menjadi tempat pemberhentian terakhir setiap benih kebencian yang ingin menyebar.

Benci dan senang tumbuh dari nilai. Nilai yang subyektif ini memberi bobot terhadap suatu kejadian, meskipun faktanya lepas dari itu. Saya dulu pernah bercerita, yang saya dengar dari Gede Prama, jika seseorang melempar kotoran ke tembok rumah kita, maka kejadian itu adalah kotoran yang mampir ke tembok rumah yang kita tempati dengan kecepatan tertentu, karena diayun oleh tenaga lain, yakni sang pelempar kotoran. Benda ketemu benda. Kecepatan tertentu. Nggak ada yang aneh dengan itu. Tapi karena dari kecil kita diajarkan bahwa kotoran itu berarti kehinaan, maka hal itu menimbulkan persepsi, bahwa orang tersebut menghina kita tiada terkira.

Persepsi tumbuh dari nilai, lepas dari fakta. Dan uniknya, persepsi ini bisa kita ubah sedemikian rupa, sehingga alih-alih negatif, bisa diputar positif. Semua tergantung qalb kita, yang memang sudah dari sononya bisa dibolak balik. Gitu kali yah? Entah..

Tentang Attar, saya tidak rela jika benaknya dijejalkan doktrin semacam itu. Biarlah nanti saat dia dewasa, dia mengambil kesimpulan sendiri siapa Israel itu. Tanpa doktrin dan dogma. Dia adalah anak panah yang meluncur mencari tujuannya sendiri. Saya cuma menyiapkan landasan dan busurnya. Tapi arah kemana dia meluncur, dan kemana dia menuju, biarlah dia yang menentukan. Tentu saya berdoa mudah-mudahan meluncur ke samudra keikhlasan. Tapi sekali lagi, itu hak dia.

Mungkin saya akan pindahkan sekolahnya tahun ini.

4 thoughts on “Benih Kebencian”

  1. Kalau tidak ada setan iblis lalu kita belajar kejahatan keburukan kebejatan akhlak dan moral etc etc dari mana? Klasifikasi Perbuatan baik karena diperbandingkan dengan adanya perbuatan buruk …….
    Moral baik karena ada bandingannya yaitu moral yang bejat ……
    Semuanya adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan …..

  2. Mungkin perlu di klarifikasi ke sekolah, apakah ini bagian kurikulum atau cuma kesalahan oknum gurunya, kalo bisa di ‘clear’-kan, kan enak toh, ga perlu pindah sekolah, karena di sekolah yang baru pun belum tentu terhindar dari hal-hal semacam itu. Saya salah satu anak yang sekolahnya pindah-pindah (bukan pindah karena melanjutkan ke tingkatan berikutnya) mulai dari TK, SD, SMP, karena harus ikut orangtua yg pindah kota. Jadi anak baru di sekolah itu rasanya tidak enak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *