Hikayat 1 – Makan

April 3, 2012

“Ini tuan, saya bawakan ayam goreng lezat.. sama bumbu rendang”, ujar pragmatis muda sambil menyorongkan bungkusannya.

“Bagiku cukup nasi putih, sambal dan tahu goreng”.

“Tuan, ini makanan lezat.. sekali-kalilah nikmatin hidup”.

“Semua makanan begitu masuk kerongkongan sama saja. Hidupku sudah nikmat untuk akhirat..”

“Tapi tuan, Tuhan menciptakan lidah untuk menikmati kelezatan-kelezatan ini. Ia bisa mengajari kita bersyukur..”

“Lidah hanya untuk membedakan makanan yang berbahaya dan yang bermanfaat bagi tubuh. Nikmatilah kelezatanmu, niscaya dunia memabukkanmu. Kamu akan gentar saat Izrail menjemputmu, karena cintamu pada makanan lezatmu”

“Ah tuan berlebihan. Saya bisa menikmati makanan ini”, pragmatis muda berhenti sejenak, sambil mengunyah ayam goreng lezatnya. Lalu ia melanjutkan.
“Saya bisa bersyukur. Dunia tidak akan melenakan saya”.

“Ia akan menipumu pelan-pelan”, filosof tua menukas dengan cepat.
“Kamu carilah pembenaranmu. Perut kenyang, dan makanan lezat akan menambatkanmu terhadap dunia. Tentu tidak sekejap. Ia akan menghanyutkanmu pelan-pelan. Hingga suatu saat kamu lupa akhiratmu. Jika umurku panjang, mungkin kita ketemu dalam suasana yang berbeda. Aku tetap memilih nasi, tahu dan sambal ini. Agar hatiku tetap berjarak terhadap dunia. Agar aku ingat akhiratku. Agar aku bisa mendekat Tuhanku lebih mudah”.

“Baiklah tuan. Biarlah saya santap sendiri makanan ini. Saya tadinya membawakan untuk tuan, barangkali suka. Mungkin pembenaran, mungkin suatu saat akan menyesatkan. Tapi saya ambil resiko itu. Saya ingin dunia dan akhirat. Saya ingin mendekati Tuhan dengan penuh syukur atas anugrah kelezatan makanan ini..”