Hikayat 2 – Sirkus

May 28, 2012

“Bagaimana pendapat Tuan tentang pelarangan Lady Gaga ke Indonesia?”, tanya Pragmatis Muda saat berjalan menyusuri jalan setapak, menuju mata air bersama Filosof Tua.

“Pemenangnya adalah Singapur. Mereka yang akan mendapatkan penonton dari Indonesia”, jawab Filosof singkat.

“Bukan.. bukan itu maksud saya.. apakah menurut Tuan perlu?”

“Pelarangan Lady Gaga seperti sirkus. Kadang-kadang pemerintah memerlukan sirkus agar perhatian masyarakat tertuju pada sirkus itu. Seperti anakmu yang kamu ajak lihat topeng monyet saat ia meminta jajanan yang kamu nggak suka.”

“Apa yang dialihkan pemerintah?”

“Tidak tahu. Mungkin kasus korupsi. Mungkin kasus ratu narkoba. Yang jelas semua menari mengikuti irama kendang yang ditabuh di sirkus itu. Media. Ulama. LSM. Kamu..”

“Saya nggak tuh..”

“Kalau gitu, kenapa nanya? Tentang pelarangan itu, ingatlah dulu. Celana jins juga pernah dilarang. Musik Koes Plus juga pernah dilarang..”, ujar Filosof Tua singkat.

“Kalau saya lebih menyoroti sikap fasis salah satu lembaga. Seolah merekalah agen kebenaran di dunia ini. Sehingga semuanya harus tunduk kepada mereka.”

“Dalam kasus seperti ini, banyak aspek yang bisa diperdebatkan. Selamanya akan ada perbedaan pendapat. Karena seni dan budaya itu nggak ada definisi yang baku. Anda pragmatis, kalau manfaat, ambillah. Kalau tidak buang saja, jangan dipakai. Tapi jangan memaksa orang untuk membuangnya kalau Anda nggak suka. Saya bilang ini sirkus. Anda jangan terjebak. Ingatlah selalu, saat membaca sesuatu yang tidak masuk akal, pasti ada sesuatu yang lainnya..”

“Itulah tuan.. yang mengganggu saya..”

“Akal sehat dan hati nurani kita banyak gangguan akhir-akhir ini. Saya sudah tua. Memilih akherat saja, dan jadi penonton untuk sirkus dunia ini. Yang penting, jangan kebal.. dan jangan kehilangan kewaspadaan..”.

Pragmatis Muda terdiam. Pikirannya mengembara, sementara langkah kakinya mengikuti Filosof Tua. Menuju mata air.