Penerjemahan Frasa Teknologi

Menerjemahkan frasa teknologi, terutama yang bersifat teknis, membutuhkan seni tersendiri. Lebih khusus lagi penerjemahan frasa-frasa dalam bahasa pemrograman. Berikut beberapa contoh frasa:

class dan object

Saat menemukan istilah class dan object, apakah kita akan membiarkan sebagaimana aslinya, ataukah diterjemahkan menjadi kelas dan obyek? Misal dalam contoh kalimat berikut:

Kita membuat kelas baru dengan statemen `class` yang diikuti nama kelasnya. Kemudian, kita membuat obyek/wujud dari kelas ini dengan nama kelas yang diikuti oleh kurung kurawal. Ini disebut sebagai perwujudan.

Lihat perbedaannya jika beberapa frasa tidak diterjemahkan:

Kita membuat class baru dengan statemen `class` yang diikuti nama class-nya. Kemudian, kita membuat object dari kelas ini dengan nama class yang diikuti oleh kurung kurawal. Ini disebut sebagai instantiation.

Menurut saya pribadi, frasa-frasa tersebut harus diterjemahkan. Buat sebagian programmer, kata instance atau instantiate sudah punya bentuk sendiri dalam otaknya. Namun saat kita sebut dengan ‘mewujud‘, mungkin bayangan itu berbeda lagi. Dan menurut saya lebih jelas dalam penggambarannya di otak.

Kerja

Apa yang harus saya kerjakan? Dan apa yang tidak perlu saya kerjakan? Semua adalah sedekah, tapi sedekah mana yang paling bernilai? Ada empat pilihan:

  1. Saya tidak suka, namun efeknya besar
  2. Saya tidak suka, dan tidak ada efeknya
  3. Saya suka banget, tapi tidak ada efeknya
  4. Saya suka, dan efeknya besar

Dari 4 pilihan tersebut, jelas saya harus memilih yang nomor 4. Masalah berikutnya adalah, saya tidak bisa mendefinisikan apa yang benar-benar saya suka. Masalah berikutnya adalah efek buat siapa? Buat keluarga, atau masyarakat umum? Hari memang penuh dengan pertanyaan yang butuh ketegasan untuk menjawab.

Rahayu

Kita bekerja bukan bertujuan agar kita sejahtera. Kita bekerja karena Dia menyuruh kita memakmurkan bumi. Hamemayu hayuning bawono. Bumi sudah cantik. Tugas kita untuk mempercantik lagi. Sejahtera adalah akibat, bukan tujuan.

Kebaikan

Begitu banyak mereka yang terkena kanker, awalnya karena tidak menerima suatu kondisi. Alih-alih berdamai dengan keadaan, hatinya tidak terima. Batinnya meratap, kenapa nasibnya begitu buruk.

Seandainya dia tahu, bahwa semua adalah kebaikan, mungkin akan lain jadinya. Sakit adalah kebaikan. Musibah adalah kebaikan. Kehilangan adalah kebaikan. Keburukan adalah kebaikan.

Semua adalah cara pandang. Caranya memandang dirinya. Jika dia memandang dirinya keliru, maka dunia juga dipandangnya keliru.