Mochtar Riady – Manusia Ide

mochtar riady
Mochtar Riady baru saja menerbitkan otobiografi (dan biografi) dalam rangka ulang tahunnya yang ke 86. Membaca kisahnya, tidak ada kesan lain, selain kekaguman. Memang tidak sempurna, namun saya paham cukup banyak jalan pikirannya. Lebih mengutamakan sistem yang baik, efisiensi. Pengembangan SDM. Membuat satu hal hingga berjalan. Merintis lain yang baru. Merumuskan standar baru. Menggabungkannya dalam satu sistem. Yang penting, mencari peluang di saat seluruh kondisi sedang sulit.

Lowest Common Denominator

Selain dia, konglomerat lain yang saya pernah baca kisahnya adalah William Soeryadjaya. Dari kedua-nya, persamaan yang saya temukan:

  1. Sangat menjaga kepercayaan
  2. Religius
  3. Menghormati setiap orang, meskipun orangnya berbeda

Kerja

Apa yang harus saya kerjakan? Dan apa yang tidak perlu saya kerjakan? Semua adalah sedekah, tapi sedekah mana yang paling bernilai? Ada empat pilihan:

  1. Saya tidak suka, namun efeknya besar
  2. Saya tidak suka, dan tidak ada efeknya
  3. Saya suka banget, tapi tidak ada efeknya
  4. Saya suka, dan efeknya besar

Dari 4 pilihan tersebut, jelas saya harus memilih yang nomor 4. Masalah berikutnya adalah, saya tidak bisa mendefinisikan apa yang benar-benar saya suka. Masalah berikutnya adalah efek buat siapa? Buat keluarga, atau masyarakat umum? Hari memang penuh dengan pertanyaan yang butuh ketegasan untuk menjawab.

Rahayu

Kita bekerja bukan bertujuan agar kita sejahtera. Kita bekerja karena Dia menyuruh kita memakmurkan bumi. Hamemayu hayuning bawono. Bumi sudah cantik. Tugas kita untuk mempercantik lagi. Sejahtera adalah akibat, bukan tujuan.

Kebaikan

Begitu banyak mereka yang terkena kanker, awalnya karena tidak menerima suatu kondisi. Alih-alih berdamai dengan keadaan, hatinya tidak terima. Batinnya meratap, kenapa nasibnya begitu buruk.

Seandainya dia tahu, bahwa semua adalah kebaikan, mungkin akan lain jadinya. Sakit adalah kebaikan. Musibah adalah kebaikan. Kehilangan adalah kebaikan. Keburukan adalah kebaikan.

Semua adalah cara pandang. Caranya memandang dirinya. Jika dia memandang dirinya keliru, maka dunia juga dipandangnya keliru.