Archive for the ‘Persepsionisme’ Category

Kenapa Aku bisa Aku?

Pagi ini sambil bengong nangkring di atas VegaR, lewat hutan karet UI jalan setapak Poltek. Saat berpapasan dengan orang-orang lain yang berangkat kantor, ada pikiran yang mengusik. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku adalah aku? Bagaimana bisa sadar bahwa aku adalah aku? Kenapa aku yang nangkring di atas VegaR ini? yang lagi berangkat ke [...]

Menangkar Mimpi

Perjuangan terbesar yang dilakukan oleh masyarakat kita sekarang ini adalah perjuangan menaklukkan keinginan. Perjuangan mengendalikan mimpi. Di mana-mana mimpi dijual. Di televisi lewat sinetron, iklan. Di koran. Di tetangga-tetangga yang nasibnya lebih baik dan dapat meraih mimpi, dalam bentuk barang-barang, yang lebih banyak. Semakin sedikit barang yang dimiliki, semakin susahlah orang. Pada saat mimpi-mimpi itu [...]

Pram oh Pram

Membaca tulisan Pramudya selalu mencabutku dari kasur tempat aku membaca, ke alam tulisannya. Ceritanya begitu hidup. Semangatnya begitu terasa. Sinikalnya begitu menusuk. Pragmatis. Humanis. Bau anti tuhannya yang mewarna. Lengkap dengan cibirannya tentang agama. Bukunya yang pernah aku baca baru dua bagian dari tetralogi, yakni bumi manusia dan jejak langkah, terus cerita dari blora (kumpulan [...]

Titik Balik Peradaban 2

Melanjutkan buku fritzof capra, setelah descartes, Francis Bacon, Isaac Newton, dibawa kemudian ke Niels Bohr dan Einstein. Jika dalam pandangan newtonian atau cartesian, dunia adalah mesin mekanik raksasa, yang terdiri dari balok-balok mati dan bergerak secara mekanik, maka dalam pandangan fisika baru, alam semesta adalah gerak. Dimana gerak itu tidak bisa digeometrikan dalam hitungan matematis, [...]

Idealisme

Abis ketemu pak py adi prasaja, ngobrol idealisme dan hiruk pikuk. Kesimpulanku sendiri, idealisme itu memang bisa kaku atau fleksibel (pragmatis?). Kalau mau kaku harus keras sekalian dan konsisten.. serperti RMS (duh gue bayangin capek juga kalau hidup seperti dia yaa.. capek dengan idealismenya).. Kalau mau pragmatis dan fleksibel, tokoh yang tepat mungkin Linus. Tetap [...]

Titik Balik Peradaban

Kehancuran peradaban sekarang ternyata bersumber dari dasar pengetahuan yang diletakkan oleh Descartes. Terjadi pemisahan antara rasio dengan wadag. Sementara rasio berada dalam dunianya sendiri, wadag adalah sistem yang berjalan secara mekanik. Paham cartesian ini yang juga mempengaruhi Isaac Newton dengan fisika mekaniknya. Ditambah lagi dengan \’social darwinist\’ yang mengusung survival of the fittest maka muncullah [...]

Berdiri di Atas Kari

konsepsi-konsepsi peradaban ternyata sudah diusung Pak Karno. Barusan dengerin orasi-mp3nya. Tentang Pancasila. Tentang berdikari. Mungkin sekarang sudah usang, atau tetap kontekstual. Entah. Yang pasti, kita harus punya itu agar bisa eksis ditengah desakan eksploitasi kapitalis. Masyarakat madani? mungkin nanti suatu saat pengen baca itu konsepsi kemasyarakatan. Terus ada yang perlu direbut. Teknologi Informasi. Jepang bisa [...]

Baratisme

Setelah hampir setahun di negeri \”barat\” ngeliat sendiri bagaimana masa depan menurut \”barat\” itu. Yang menjadi arus utama, adalah kapitalisme (di sisi ekonomi) dan hedonisme (di sisi budaya). Dari sisi politik, machiavellisme? Ya, itu gambar besar yang aku tangkap. Semuanya tidak berdiri sendiri, tapi membentuk peradaban. Peradaban yang timpang (kebetulan tahu angka-angka, dan TIMPANG bener-bener) [...]