Capitalism & Microsoft Secret

Bekel buat malem mingguan, mampir ke library. Setelah bagian komputer diacak-acak, dan nggak ada yang menarik lagi..pindah ke bagian popular science.. udah baca beberapa tapi gampang jenuh..pindah lagi ke bagian politik hehehe..mumpung literatur banyak..baca sepuasnya..lagian bentar lagi pulkam

Di bagian politik dan ekonomi dapat dua buku bagus.. sebetulnya ada tiga sih..cuman kebanyakan bisa eneq, soalnya tuwebel2 bukunya. Buku satu, karangan george soros, open society, reforming global capitalism. Yahudi atu ni emang luar biasa kalo masalah keuangan. Mahathir sempet nuduh si Soros ini biang keladi krisis moneter di asia tenggara. Gue pinjem ini buku cuman pengen tahu aja jalan pikirannya. Dari baca rangkumannya, dan juga judulnya, kayaknya soros nuangin konsepnya tentang masyarakat di masa depan, dan juga kritisi terhadap kapitalisme.

Buku ke dua Microsoft Secret. Tahun kemaren pernah baca buku berbahasa Indonesia tentang Microsoft, lupa judulnya tapi, yang ngebahas tentang lingkup perusahaan microsoft. Dan ternyata juauh lebih besar dari yg gue bayangin. Gak cuma software, game, media, peripheral, travel agent, portal dll. Banyak dah. Cendana juga kalah ehhee..Nah buku ini merupakan hasil riset dari MIT sebagai studi banding terhadap manajemen perusahaan komputer. Buku lama tahun 1995, tapi rahasia dapur microsoft selalu kontekstual. Mayan buat bekel karena saat ini gue memposisikan diri sebagai oposan mereka. Duile banget yee..hehehe..

TCP Setengah Koneksi

Baru tahu ternyata TCP bisa diakalin supaya tidak menjalani proses handshake sebelum pengiriman data. Meskipun handshake ini menjamin reliabilitas, namun jika menginginkan throughput yang bagus, ada kalanya cukup kirim saja sekali tembak.

Biasanya untuk pengiriman paket yang connectionless, dalam arti tidak perlu konfirmasi bahwa paket telah diterima, digunakan UDP, yang reliabilitasnya cukup mengandalkan checksum. Namun TCP juga bisa diakalin, dengan memanfaatkan header SYN,ACK dan FIN yang ditempatkan terpisah. Dinamakan Transport TCP(T/TCP). Cuma kabarnya kernel linux lom dukung untuk ini. Jadi, jika biasanya satu FLAG saja yang diset TRUE dalam satu header TCP, maka pada T/TCP ini dua flag di set TRUE, yakni SYN (untuk sinkronisasi dengan alamat tujuan) dan FIN (Untuk menutup koneksi). Emmm.. cuman masih dikepala aja..lom dicoba nih.. pengen nyobain ah..;

Buku Megelin

barusan dapet buku menarik, yang satu .net framework, terbitan o\’reilly. Atunya lagi the nothing that is, a nature history of zero. Gilee..judulnya bikin gue ngiler..hehehe..nanti diceritain

maap pemirsa, halaman baru bisa keupdate karena overload. Beberapa proyek baru (jangan sala, gak ada duitnye hehehe..) bernongolan, memaksa untuk lebih pinter membuat to do list, menskala prioritas, dan manfaatin orang untuk menyelesaikannya. Katanya, itu yang dinamakan manajemen. teuing.

Beberapa buku yang aku kelarin selama jeda waktu tulisan ini adalah tentang Java 2, segala macem perniknya ada beberapa buku terbitan o\’reilly juga. Selain itu XML primer, belajar DTD, dan RDF. Powerful juga yee..hehehe.. Mumpung masih ada ditempat dimana literatur bisa didapet dengan mudah, aku perbanyak baca dulu biar penuh palanya hihi… Sehingga kalo mulai apa yang harus dimulai, sudah cukup bekel. Sok iye hehe dah ahh.. mo balik dah pegel pantat.

Dari Rebel Code hingga Crypto

Akhir-akhir ini gue baca buku kayak orang gile. Abis ngelarin \’rebel code\’ karangan glyn moody, tentang sejarah linux hingga sekarang, lanjut dengan just for fun, otobiografi linus. Bacanya juga tiap nganggur. Nongkrong di toilet juga gue bawa.

Abis itu empat buku langsung aku baca bolak balik dalam satu waktu. Buku satu, baca beberapa halaman, bosen, buka buku dua. Atau buku empat. Jadi di kamar, gue buka langsung empat buku hehehe.. keder. Tapi gue puas, karena saling melengkapi. Cross reference dah..

Buku pertama \’Computer science, a preview\’ dapet di brighton waktu itu di buku bekas. Bukunya buagus..terbitan adisson wesley, karangan brookshears. Buku ke dua, C Programming, karangan Kernighan dan Denis Ritchie. Buku klasik gue pinjem dari library. Buku ke 3, linux programming by example, karangan knut wall or something. Ini gue pinjem juga di library deket kantor. Buku terakhir, linux socket programming. Lupa pengarangnya. Kalo ini gue beli di pasar komputer. Itu kalau di rumah hehe..

Kalau jalan, di tas gue ada dua buku. Satu Crypto, karangan Steven Levi. Satu lagi \’hacker ethic\’ karangan pekka himanen. Gue baca ngacak juga di kereta.

Dan tahu hasilnya? Pala pening..dan kalau diri kunang-kunang… heheh.

Fuzzy Logic

Lagi sibuk nyiapin installer..bikin bete..pan kapan bikin ndiri hehehe..

Selain itu baca buku fuzzy logic, lumayan bagus. Semakin fuzzy, semakin smart. Fuzzy berarti multivalen, tidak hanya hitam putih, 0 atau 1, yang ada cuma degree. Dicontohkan bagaimana jepang menerapkan fuzzy logic ini untuk alatnya, seperti mesin cuci yang gak cuma pencuci dan pengering, tapi ada fuzziness, dimana pengguna bisa milih jenis pakaian, waktu, dan sebagainya. Grey area. Buku ini banyak mengutip relativitasnya einstein dan pikiran2 Bertrand Russel yang menggunakan istilah \’vague\’ untuk fuzziness.

Selain itu gue capek.. Capek dengan idealisme gue sendiri.. dengan visi-visi yang seterang kabut. Keep it real. ah kebanyakan begadang kali..

Cukupnya Richard Stallman

Masih tentang kata-kata cukup, tahukah Anda riwayat hidup Richard Stallman? Dia masuk Lab Artificial Intelegence MIT tahun 1971. Kerjanya ngoprek Digital PDP-10, hingga menelorkan Emacs tahun 1975. Tahun 80-an ada perpecahan antar hacker di AI Labs, karena masing-masing pengen bikin usaha sendiri. Yang satu didirikan oleh Richard Greenblatt, desainer LISP, dengan nama LMI (Lisp Machine Incorporated), a hacker company. Sementara yang lain mendirikan Symbollics. Stallman merasa terkucil karena nggak ikutan. Karena pusing porting aplikasi yang cocok untuk keduanya, dia putuskan untuk bikin OS sendiri yang bebas.

GNU terbentuk secara formal di Januari 1984, dengan program pertama bison. Daripada memulai dengan Operating System, Stallman memilih untuk membangun aplikasi-aplikasi pelengkapnya dulu. Meskipun berhenti dari MIT dan fokus di GNU, Stallman tetap diperbolehkan memakai komputer dan tidur di kamarnya yang lama di lab AI MIT 545 Tech Square.

Di tahun 1990, dia memperoleh uang dari McArthur Foundation fellowship, $230,000. Ia investasikan uang itu di sebuah mutual fund, sehingga dia dapat hidup selamanya tanpa harus pusing dengan pendapatan. Dia tidak punya mobil. Dia bilang;\”Saya nggak ingin punya rumah. Saya nggak ingin menghabiskan banyak uang. Jika Anda menghabiskan banyak uang, maka Anda akan diperbudak untuk memperoleh banyak uang. Dan uang akan mengontrol hidup Anda\”.

Begitulah. Dia menggambarkan dirinya sebagai orang suci – Saint IGNUcius, dengan jubah dan laptop Toshiba kemana-mana (terutama saat memberikan ceramah). Eric Raymond ngatain Stallman mengidap penyakit Jesus Complex hehehe.. Stallman cuma ketawa. Bahkan Jeremmy Allison, komandannya Samba, pernah mengirim patch gcc kepada Stallman, dan ditolak. Apa Jeremmy bilang? \”Wah rasanya seperti mendapat penolakan dari Tuhan\” hehehe.. Aneh-aneh aja yee.

Moral dari cerita ini adalah… bahwa cukup itu adalah cukup. hehehe.. Cak Nun bilang, manusia yang paling bijaksana adalah manusia yang mengerti apa arti cukup. Atau inget buku Kuliah Tauhid yang aku dapet di pasar senen jaman dulu, kita harus memerdekakan diri dari Tuhan-tuhan temporer. Tuhan ego. Tuhan duit. Tuhan kekuasaan. maap ngelantur.. sengaja hehehe :). Tutup dulu yah.. ngoprek lagi nyoookkk..’

Kekerasan yang Memesona

dari sajaknya rendra,

kekerasan sudah mulai mempesona orang
bajingan dilawan secara bajingan

Kekerasan struktural yang diwariskan pemerintah jaman dulu, mungkin telah tertuai hasilnya (meskipun masih menyisakan banyak benihnya). Tadinya gue berharap di komunitas IT, dimana pelakunya relatif \’elit\’ dan \’pinter\’ akan ada kesejukan, atau hawa perubahan. Geuningan sarua kenehhh.. terpesona dengan kekerasan dan caci maki, ngabulatuk tanpa dipikir dulu, Hehe.. itu yang ada di otak gue setelah hampir setahun setengah ikut beberapa milis \’IT Policy\’ Indonesia.

Gimane yee..caranye selametin generasi adek gue.. atau generasi anak gue kali yahh.. biar tenggelam dalam nilai-nilai kesejukan, egalitarian, akal sehat, dan jadi agen perubahan yang konsisten menggusur yang tua, kaku, mampet.. yah gitu deh.. namanya juga berimajinasi..

Ilmu Cukup

Waktu kemaren diskusi sama Bli Made, kenapa pengembangan perangkat lunak open source di Indonesia jarang ditemukan.

Dari pengamatanku disini, aku menyampaikan pendapat, bahwa developer di luar negeri (dalam hal ini Inggris) relatif memiliki ‘rasa aman‘ yang cukup tinggi. Dalam arti bahwa mereka bisa mengartikulasikan hobi ngopreknya tanpa harus khawatir nggak bisa makan. Pendapatan yang mereka peroleh cukup untuk menunjang ‘rasa aman‘ sehingga dapat ngoprek tanpa beban yang berarti. Kalau di Indonesia hal ini sulit. Sebab setiap orang dituntut untuk cari nafkah supaya bisa survive. Sehingga, ngoprek dilakukan jika punya ekstra waktu setelah mencari ‘nafkah utama‘, dan rata-rata dengan kondisi demikian, relatif tidak memiliki waktu.

Bli Made membantah bahwa dulunya ia juga berfikiran seperti itu. Namun setelah dirasa-rasa, ada tingkat ‘rasa aman‘ yang berbeda. Mahasiswa/Opreker (baca hacker) di luar negeri (dalam hal ini di Jerman), memiliki batas rasa aman yang sangat toleran. Kalau diitung, mereka rata-rata punya pendapatan yang normal (dalam perbandingan dengan nilai barang di lingkungannya). Mereka merasa cukup misalnya dengan 5 stel baju, rumah ngontrak, makan ala kadarnya dan buku berjumlah ratusan :). Dan di Jerman hal ini dianggap biasa, bukan sesuatu yang \’rendahan\’. Masyarakat tidak menuntut bahwa untuk sukses harus bisa ngumpulin duit sebanyak-banyaknya. Bahwa batas \’aman\’ atau batas \’cukup\’ adalah cukup dalam arti yang sebenarnya, dan bisa menyalurkan hobi sepuasnya. Tanpa harus dituntut masyarakat untuk cari duit sebanyak mungkin.

Dan ini dirasakan lain dengan kita (terutama Indonesia di kota-kota besar), setiap orang merasa dituntut untuk cari duit yang sebanyak-banyaknya. Kata-kata \’cukup\’ menjadi standar yang sangat tinggi, dan orang jadi minder (merasa nggak berarti) jika nggak bisa ngumpulin banyak duit. hmm.. kurang lebih begitu dari sisi sosialnya.

Tambahan faktor lain, yang menurutku esensial, adalah keberdaan \’super ego\’. Dari pengamatan Eric S. Raymond, dalam proyek open source yang sukses biasanya ada super ego. Pengembangan kernel tetap konsisten karena masih ada ego-ego seperti Linus Torvald, Alan Cox dll, Emacs dan Gcc masih ada Richard Stallman dll. Hal ini bisa dibilang masuk akal, sebab dalam komunitas open source yang heterogen, dimana masing-masing developer berada di tempat terpisah, dan memiliki keinginan yang bermacam-macam pada saat mengembangkan suatu perangkat lunak, diperlukan leader yang kuat agar tetap terarah dan dinamis.Mungkin itu dulu catatannya, dah pegel nih jari. Oh ya, buat yang belum paham, ngoprek bisa berarti ngotak-atik komputer dengan \’passion\’ hingga memahami/memecahkan/menghasilkan sesuatu. Kerennya disebut \’hacking\’.

Forking dan Partisipasi Penuh

Forking, dalam pengembangan perangkat lunak, terjadi jika terbentuk beberapa cabang proyek baru yang saling berkompetisi, dan masing-masing sulit untuk bertukar kode. Forking lazim terjadi di dalam pengembangan UNIX versi BSD, menjadi FreeBSD, OpenBSD, dan BSDI. Mengapa sampai terjadi forking hingga tiga cabang dalam pengembangan BSD sedangkan di relatif Linux tidak ada?

Percabangan di Linux yang sering terjadi biasanya berupa pseudo forking. Fenomena ini seolah-olah terjadi percabangan dalam pengembangan perangkat lunak padahal tidak. Jika dalam forking, masing-masing fihak tidak dapat saling bertukar kode, maka pada pesudo-forking, masing-masing pihak sebetulnya menggunakan kode-kode dasar yang sama, dan pengembangan masing-masing saling melengkapi. Contoh pseudo-forking ini adalah berkembangnya banyak distribusi Linux.

Lalu, kembali kepada pertanyaan semula, kenapa forking terjadi sangat signifikan pada pengembangan BSD, sementara relatif tidak ada di Linux? Padahal dalam struktur pengembangan perangkat lunak BSD, cenderung terpusat, dan ada otoritas yang mengontrol terjadinya forking. Sedangkan di Linux nyaris tidak ada otoritas (pure Bazaar – meminjam istilah Eric S Raymond).

Harry Spencer, mengemukakan bahwa dalam demokrasi terbuka, revolusionaris yang potensial lebih mudah bekerja di dalam sistem dalam mencapai tujuannya, daripada menyerangnya. Atau jika dianalogikan dengan pasar terbuka, barang yang sampai di konsumen adalah barang yang terbaik. Dan bagi perusahaan besar yang sudah mapan, relatif sulit untuk membuat entri pasar baru. Proses yang terbuka dengan barrier entry yang rendah, akan mendorong partisipasi.

Jadi dalam budaya open source yang bersifat bazaar, semakin sedikit pihak yang memegang otoritas, maka akan semakin dinamis perkembangannya, tanpa ada friksi yang berarti. Perkembangan yang tidak terkontrol telah menemukan bentuknya. Mungkin itu sebabnya mengapa di Linux tidak ada forking yang berarti.

Lifebook

Perasaan mulai penat aja.. bawaan bayi, suka bosen. Alhamdulillah bisa ngumpulin duit buat beli Lifebook kecil yang nemenin begadang tiap malem. Lifebook Fujitsu Siemens ini mang rada istimewa, kerna kecil (10″), enteng pisan. Trus, Prosesornya Transmeta Crusoe 600-an MHz apa yah. Lupa gue. Hardisknya 15 Giga, 3 Giga untuk Windows, bawaan pabrik. Sisanya disikat untuk Slackware 7.0, 5 Giga (sambil nostalgia layar item putih, atau kalau bosen pake fvwm95 yang enteng), sisanya buat ngoprek Rimbalinux cuman lom sampe kompel.

Peripheralnya gak banyak, cuma ada USB dua biji, Output monitor, output sound, slot PCMCIA satu biji, sama klitoris mouse. :). Bulan depan mo beli PCMCIA ethernet, udah ngetekin yang bekas harganya £32-Xircom. Ntar kalau hardware&peripheralnya dah dikenal semua ma slackie.. windowsnya gue gusur juga bakalan.

Lifebook ni, rencana mo dipake buat ngoprek Rimbalinux (terutama buat nyari bug, kalo buat ngompel..ah sayang dong yah..), terus mo dibuat nulis. Makanya pengen buru instal lyx. Dan terakhir tentu buat mrogram. Pengen bikin aplikasi untuk ke depan, proyek ndiri hehe. Sekarang masih bikin SRS-nya. Ehm.. terus waktu buat main kapan yah? *pengen banget pulang, jalan ke semeru sambil ngisep mild*