Berdiri di Atas Kari

konsepsi-konsepsi peradaban ternyata sudah diusung Pak Karno. Barusan dengerin orasi-mp3nya. Tentang Pancasila. Tentang berdikari. Mungkin sekarang sudah usang, atau tetap kontekstual. Entah. Yang pasti, kita harus punya itu agar bisa eksis ditengah desakan eksploitasi kapitalis.

Masyarakat madani? mungkin nanti suatu saat pengen baca itu konsepsi kemasyarakatan. Terus ada yang perlu direbut. Teknologi Informasi. Jepang bisa melakukannya dulu di awal kebangkitan industrinya. Bagaimana Ibuka, salah satu pendiri sony, pergi ke amerika dan pulang dengan membawa dokumen transistor technology dari bell laboratory, yang saat itu berada paling depan. Dikembangkannya sendiri.

Dan sekarang saat gegapnya teknologi informasi dengan tulang punggung Internet, kesempatan terbuka luas. Ada beberapa isu yang mencuat. Digital divide. Literasi. Semua gerak kita harus merendahkan barrier entry, memperkecil digital divide. Duh capek juga ya mikir di dunia awang-awang. Setelah gue baca lagi, tulisan gue bebusa busa hehehe..waktunya ngoprek kembali. Sebentar lagi pulang ke tanah air. Insya Allah siap secara mental untuk menuangkan semuaa isi kepala ke dalam rencana. Dan melaksanakannya.

Jangan Bicara

jangan bicara soal idealisme
mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
atau berapa dahsyatnya
ancaman yang membuat kita terpaksa onani
jangan bicara soal nasionalisme
mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
atau tentang kita yang buat
bisul tumbuh subur
di ujung hidung yang memang tak mancung

jangan perdebatkan soal keadilan
sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
jangan cerita soal kemakmuran
sebab kemakmuran hanya untuk anjing si Tuan Polan

lihat di sana… di Urip meratap
di teras marmer direktur Mutat
lihat di sana… si Icih sedih
di ranjang empuk waktu majikannya menindih
lihat di sana…. parade penganggur
yang tampak murung di tepi kubur
lihat di sana……. antrian pencuri
yang timbul sebab nasinya dicuri

jangan bicara soal runtuhnya moral
mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
atau tentang tanggung jawab
yang kini dianggap sepi
(ciptaan Iwan Fals)

Baratisme

Setelah hampir setahun di negeri \”barat\” ngeliat sendiri bagaimana masa depan menurut \”barat\” itu. Yang menjadi arus utama, adalah kapitalisme (di sisi ekonomi) dan hedonisme (di sisi budaya). Dari sisi politik, machiavellisme? Ya, itu gambar besar yang aku tangkap. Semuanya tidak berdiri sendiri, tapi membentuk peradaban. Peradaban yang timpang (kebetulan tahu angka-angka, dan TIMPANG bener-bener) serta menuju ketidak pastian. Titik nadir yang buram.

Sialnya, banyak masyarakat kita (Indonesia, timur) menganggap bahwa inilah masa depan. Semuanya bergerak menuju ke sana. Di hormat itu Kapitalisme, hedonisme, machiavellisme. Padahal, menurutku pribadi, negara kita kaya akan konsepsi peradaban. Kaya budaya. Kaya raya. Punya potensi untuk menjadi trendsetter. Bergerak menuju ke arah yang dimiliki sendiri, dan kontekstual. Tidak harus membarat. Tidak harus kapitalis. Tidak harus hedonis. Tidak harus machiavellis. Sekali lagi bertanya pada diri, lalu apa bentuknya? Sosialis? Komunis?. Ideologi tanpa ideologi? belum tahu. yang jelas, arah pemikiran kesitu harus dikondisikan. Satu-satunya cara adalah pencerdasan masal. Pendidikan harus murah. Buku-buku harus tersebar. Empowering. Lalu dialog memunculkan pertanyaan baru. Apakah pemerintah ingin rakyatnya berdaya? pintar? ataukah ingin rakyatnya bodoh sehingga gampang disetir, bisa diperintah. Kekuasaan langeng. Liat aja ye?

Kembali tentang kapitalisme dan hedonisme, inget buku lama terbitan mizan, karangan Yasraf Amir Pilliang. Judulnya Sebuah Dunia yang Dilipat. Itu buku bagus menurut gue. Menyoroti tentang dromologi, semua harus bergerak, dan cepat. Diam berarti mati. Juga dasar peradaban yang dibangun sekarang. Ekonomi hawa nafsu. Arah ekonomi adalah pemuasan nafsu sebanyak-banyaknya. Nafsu apa saja.

Tidur dulu. Di temani Iwan Fals..

oh matahari..masih setia..menyinari rumah kita..
tak kan berhenti2x menghangatkan hati kita
Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai luka ini mampu merobek robek hati
Tenang..tenanglah kawan..tenang2x seperti karang..
zz.zz.zzz..z

Arus Utama

Kebisaan Microsoft dalam menyetir perkembangan komputasi memang tidak diragukan. Dari sisi framework, dalam menghadapi j2ee, .net framework yang dikeluarkan tidak tanggung-tanggung. Bytecode JVM, diimbangi dengan CLR. Bahkan hampir semua bahasa pemrograman yang dikeluarkan sebelumnya, dibuatkan versi .net-nya ini sehingga bisa saling berbagi komponen lewat CLR.

Konsep web service, dimana komponen dalam software tidak berada di satu mesin, terdistribusi, dan ditukarkan satu sama lain, juga menjadi salah satu feature built in yang dikeluarkan .net. Java tidak kesulitan menyesuaikannya, sebab j2ee yang melayani enterprise, sudah menyediakan featurenya. Yang perlu dilakukan adalah membuat fungsi yang menyambungkannya.

Dalam hal ini, Sun membeli konsep microsoft. Ya begitu, keduanya saling jual beli. Konsep virtual machine, juga dibeli microsoft, meskipun tentu masih diatas platformnya sendiri.

Di luar dua mainstream yang disetir oleh perusahaan itu, tentu ada komunitas alternatif yang relatif tidak bergantung pada perusahaan. Favorit gue. C dan C++ bisa bertukar komponen lewat Corba (Java dan .net juga sudah bikin class API-nya). Web Service dengan SOAP, UDDI, WSDL (logikanya) bisa ditangani oleh python, perl atau bahkan php? Tentu dengan dukungan Apache.

Jika komunitas alternatif ini mengikuti mainstream yang ada, mungkin empot-empotan. Kenapa tidak bikin mainstream sendiri? Komunitas ini perlu visionaris seperti Om Bill dalam hal arah pengembangan teknologi. Kita sudah punya Stallman. Cuma integritasnya, masih belum cukup untuk membentuk mainstream sendiri. Kita buat? Orang Indonesia? mimpi? bukan.. ambisi.. ya bisa jadi..

Capitalism & Microsoft Secret

Bekel buat malem mingguan, mampir ke library. Setelah bagian komputer diacak-acak, dan nggak ada yang menarik lagi..pindah ke bagian popular science.. udah baca beberapa tapi gampang jenuh..pindah lagi ke bagian politik hehehe..mumpung literatur banyak..baca sepuasnya..lagian bentar lagi pulkam

Di bagian politik dan ekonomi dapat dua buku bagus.. sebetulnya ada tiga sih..cuman kebanyakan bisa eneq, soalnya tuwebel2 bukunya. Buku satu, karangan george soros, open society, reforming global capitalism. Yahudi atu ni emang luar biasa kalo masalah keuangan. Mahathir sempet nuduh si Soros ini biang keladi krisis moneter di asia tenggara. Gue pinjem ini buku cuman pengen tahu aja jalan pikirannya. Dari baca rangkumannya, dan juga judulnya, kayaknya soros nuangin konsepnya tentang masyarakat di masa depan, dan juga kritisi terhadap kapitalisme.

Buku ke dua Microsoft Secret. Tahun kemaren pernah baca buku berbahasa Indonesia tentang Microsoft, lupa judulnya tapi, yang ngebahas tentang lingkup perusahaan microsoft. Dan ternyata juauh lebih besar dari yg gue bayangin. Gak cuma software, game, media, peripheral, travel agent, portal dll. Banyak dah. Cendana juga kalah ehhee..Nah buku ini merupakan hasil riset dari MIT sebagai studi banding terhadap manajemen perusahaan komputer. Buku lama tahun 1995, tapi rahasia dapur microsoft selalu kontekstual. Mayan buat bekel karena saat ini gue memposisikan diri sebagai oposan mereka. Duile banget yee..hehehe..

TCP Setengah Koneksi

Baru tahu ternyata TCP bisa diakalin supaya tidak menjalani proses handshake sebelum pengiriman data. Meskipun handshake ini menjamin reliabilitas, namun jika menginginkan throughput yang bagus, ada kalanya cukup kirim saja sekali tembak.

Biasanya untuk pengiriman paket yang connectionless, dalam arti tidak perlu konfirmasi bahwa paket telah diterima, digunakan UDP, yang reliabilitasnya cukup mengandalkan checksum. Namun TCP juga bisa diakalin, dengan memanfaatkan header SYN,ACK dan FIN yang ditempatkan terpisah. Dinamakan Transport TCP(T/TCP). Cuma kabarnya kernel linux lom dukung untuk ini. Jadi, jika biasanya satu FLAG saja yang diset TRUE dalam satu header TCP, maka pada T/TCP ini dua flag di set TRUE, yakni SYN (untuk sinkronisasi dengan alamat tujuan) dan FIN (Untuk menutup koneksi). Emmm.. cuman masih dikepala aja..lom dicoba nih.. pengen nyobain ah..;

Buku Megelin

barusan dapet buku menarik, yang satu .net framework, terbitan o\’reilly. Atunya lagi the nothing that is, a nature history of zero. Gilee..judulnya bikin gue ngiler..hehehe..nanti diceritain

maap pemirsa, halaman baru bisa keupdate karena overload. Beberapa proyek baru (jangan sala, gak ada duitnye hehehe..) bernongolan, memaksa untuk lebih pinter membuat to do list, menskala prioritas, dan manfaatin orang untuk menyelesaikannya. Katanya, itu yang dinamakan manajemen. teuing.

Beberapa buku yang aku kelarin selama jeda waktu tulisan ini adalah tentang Java 2, segala macem perniknya ada beberapa buku terbitan o\’reilly juga. Selain itu XML primer, belajar DTD, dan RDF. Powerful juga yee..hehehe.. Mumpung masih ada ditempat dimana literatur bisa didapet dengan mudah, aku perbanyak baca dulu biar penuh palanya hihi… Sehingga kalo mulai apa yang harus dimulai, sudah cukup bekel. Sok iye hehe dah ahh.. mo balik dah pegel pantat.

Dari Rebel Code hingga Crypto

Akhir-akhir ini gue baca buku kayak orang gile. Abis ngelarin \’rebel code\’ karangan glyn moody, tentang sejarah linux hingga sekarang, lanjut dengan just for fun, otobiografi linus. Bacanya juga tiap nganggur. Nongkrong di toilet juga gue bawa.

Abis itu empat buku langsung aku baca bolak balik dalam satu waktu. Buku satu, baca beberapa halaman, bosen, buka buku dua. Atau buku empat. Jadi di kamar, gue buka langsung empat buku hehehe.. keder. Tapi gue puas, karena saling melengkapi. Cross reference dah..

Buku pertama \’Computer science, a preview\’ dapet di brighton waktu itu di buku bekas. Bukunya buagus..terbitan adisson wesley, karangan brookshears. Buku ke dua, C Programming, karangan Kernighan dan Denis Ritchie. Buku klasik gue pinjem dari library. Buku ke 3, linux programming by example, karangan knut wall or something. Ini gue pinjem juga di library deket kantor. Buku terakhir, linux socket programming. Lupa pengarangnya. Kalo ini gue beli di pasar komputer. Itu kalau di rumah hehe..

Kalau jalan, di tas gue ada dua buku. Satu Crypto, karangan Steven Levi. Satu lagi \’hacker ethic\’ karangan pekka himanen. Gue baca ngacak juga di kereta.

Dan tahu hasilnya? Pala pening..dan kalau diri kunang-kunang… heheh.

Fuzzy Logic

Lagi sibuk nyiapin installer..bikin bete..pan kapan bikin ndiri hehehe..

Selain itu baca buku fuzzy logic, lumayan bagus. Semakin fuzzy, semakin smart. Fuzzy berarti multivalen, tidak hanya hitam putih, 0 atau 1, yang ada cuma degree. Dicontohkan bagaimana jepang menerapkan fuzzy logic ini untuk alatnya, seperti mesin cuci yang gak cuma pencuci dan pengering, tapi ada fuzziness, dimana pengguna bisa milih jenis pakaian, waktu, dan sebagainya. Grey area. Buku ini banyak mengutip relativitasnya einstein dan pikiran2 Bertrand Russel yang menggunakan istilah \’vague\’ untuk fuzziness.

Selain itu gue capek.. Capek dengan idealisme gue sendiri.. dengan visi-visi yang seterang kabut. Keep it real. ah kebanyakan begadang kali..

Cukupnya Richard Stallman

Masih tentang kata-kata cukup, tahukah Anda riwayat hidup Richard Stallman? Dia masuk Lab Artificial Intelegence MIT tahun 1971. Kerjanya ngoprek Digital PDP-10, hingga menelorkan Emacs tahun 1975. Tahun 80-an ada perpecahan antar hacker di AI Labs, karena masing-masing pengen bikin usaha sendiri. Yang satu didirikan oleh Richard Greenblatt, desainer LISP, dengan nama LMI (Lisp Machine Incorporated), a hacker company. Sementara yang lain mendirikan Symbollics. Stallman merasa terkucil karena nggak ikutan. Karena pusing porting aplikasi yang cocok untuk keduanya, dia putuskan untuk bikin OS sendiri yang bebas.

GNU terbentuk secara formal di Januari 1984, dengan program pertama bison. Daripada memulai dengan Operating System, Stallman memilih untuk membangun aplikasi-aplikasi pelengkapnya dulu. Meskipun berhenti dari MIT dan fokus di GNU, Stallman tetap diperbolehkan memakai komputer dan tidur di kamarnya yang lama di lab AI MIT 545 Tech Square.

Di tahun 1990, dia memperoleh uang dari McArthur Foundation fellowship, $230,000. Ia investasikan uang itu di sebuah mutual fund, sehingga dia dapat hidup selamanya tanpa harus pusing dengan pendapatan. Dia tidak punya mobil. Dia bilang;\”Saya nggak ingin punya rumah. Saya nggak ingin menghabiskan banyak uang. Jika Anda menghabiskan banyak uang, maka Anda akan diperbudak untuk memperoleh banyak uang. Dan uang akan mengontrol hidup Anda\”.

Begitulah. Dia menggambarkan dirinya sebagai orang suci – Saint IGNUcius, dengan jubah dan laptop Toshiba kemana-mana (terutama saat memberikan ceramah). Eric Raymond ngatain Stallman mengidap penyakit Jesus Complex hehehe.. Stallman cuma ketawa. Bahkan Jeremmy Allison, komandannya Samba, pernah mengirim patch gcc kepada Stallman, dan ditolak. Apa Jeremmy bilang? \”Wah rasanya seperti mendapat penolakan dari Tuhan\” hehehe.. Aneh-aneh aja yee.

Moral dari cerita ini adalah… bahwa cukup itu adalah cukup. hehehe.. Cak Nun bilang, manusia yang paling bijaksana adalah manusia yang mengerti apa arti cukup. Atau inget buku Kuliah Tauhid yang aku dapet di pasar senen jaman dulu, kita harus memerdekakan diri dari Tuhan-tuhan temporer. Tuhan ego. Tuhan duit. Tuhan kekuasaan. maap ngelantur.. sengaja hehehe :). Tutup dulu yah.. ngoprek lagi nyoookkk..’