Kekerasan yang Memesona

dari sajaknya rendra,

kekerasan sudah mulai mempesona orang
bajingan dilawan secara bajingan

Kekerasan struktural yang diwariskan pemerintah jaman dulu, mungkin telah tertuai hasilnya (meskipun masih menyisakan banyak benihnya). Tadinya gue berharap di komunitas IT, dimana pelakunya relatif \’elit\’ dan \’pinter\’ akan ada kesejukan, atau hawa perubahan. Geuningan sarua kenehhh.. terpesona dengan kekerasan dan caci maki, ngabulatuk tanpa dipikir dulu, Hehe.. itu yang ada di otak gue setelah hampir setahun setengah ikut beberapa milis \’IT Policy\’ Indonesia.

Gimane yee..caranye selametin generasi adek gue.. atau generasi anak gue kali yahh.. biar tenggelam dalam nilai-nilai kesejukan, egalitarian, akal sehat, dan jadi agen perubahan yang konsisten menggusur yang tua, kaku, mampet.. yah gitu deh.. namanya juga berimajinasi..

Ilmu Cukup

Waktu kemaren diskusi sama Bli Made, kenapa pengembangan perangkat lunak open source di Indonesia jarang ditemukan.

Dari pengamatanku disini, aku menyampaikan pendapat, bahwa developer di luar negeri (dalam hal ini Inggris) relatif memiliki ‘rasa aman‘ yang cukup tinggi. Dalam arti bahwa mereka bisa mengartikulasikan hobi ngopreknya tanpa harus khawatir nggak bisa makan. Pendapatan yang mereka peroleh cukup untuk menunjang ‘rasa aman‘ sehingga dapat ngoprek tanpa beban yang berarti. Kalau di Indonesia hal ini sulit. Sebab setiap orang dituntut untuk cari nafkah supaya bisa survive. Sehingga, ngoprek dilakukan jika punya ekstra waktu setelah mencari ‘nafkah utama‘, dan rata-rata dengan kondisi demikian, relatif tidak memiliki waktu.

Bli Made membantah bahwa dulunya ia juga berfikiran seperti itu. Namun setelah dirasa-rasa, ada tingkat ‘rasa aman‘ yang berbeda. Mahasiswa/Opreker (baca hacker) di luar negeri (dalam hal ini di Jerman), memiliki batas rasa aman yang sangat toleran. Kalau diitung, mereka rata-rata punya pendapatan yang normal (dalam perbandingan dengan nilai barang di lingkungannya). Mereka merasa cukup misalnya dengan 5 stel baju, rumah ngontrak, makan ala kadarnya dan buku berjumlah ratusan :). Dan di Jerman hal ini dianggap biasa, bukan sesuatu yang \’rendahan\’. Masyarakat tidak menuntut bahwa untuk sukses harus bisa ngumpulin duit sebanyak-banyaknya. Bahwa batas \’aman\’ atau batas \’cukup\’ adalah cukup dalam arti yang sebenarnya, dan bisa menyalurkan hobi sepuasnya. Tanpa harus dituntut masyarakat untuk cari duit sebanyak mungkin.

Dan ini dirasakan lain dengan kita (terutama Indonesia di kota-kota besar), setiap orang merasa dituntut untuk cari duit yang sebanyak-banyaknya. Kata-kata \’cukup\’ menjadi standar yang sangat tinggi, dan orang jadi minder (merasa nggak berarti) jika nggak bisa ngumpulin banyak duit. hmm.. kurang lebih begitu dari sisi sosialnya.

Tambahan faktor lain, yang menurutku esensial, adalah keberdaan \’super ego\’. Dari pengamatan Eric S. Raymond, dalam proyek open source yang sukses biasanya ada super ego. Pengembangan kernel tetap konsisten karena masih ada ego-ego seperti Linus Torvald, Alan Cox dll, Emacs dan Gcc masih ada Richard Stallman dll. Hal ini bisa dibilang masuk akal, sebab dalam komunitas open source yang heterogen, dimana masing-masing developer berada di tempat terpisah, dan memiliki keinginan yang bermacam-macam pada saat mengembangkan suatu perangkat lunak, diperlukan leader yang kuat agar tetap terarah dan dinamis.Mungkin itu dulu catatannya, dah pegel nih jari. Oh ya, buat yang belum paham, ngoprek bisa berarti ngotak-atik komputer dengan \’passion\’ hingga memahami/memecahkan/menghasilkan sesuatu. Kerennya disebut \’hacking\’.

Forking dan Partisipasi Penuh

Forking, dalam pengembangan perangkat lunak, terjadi jika terbentuk beberapa cabang proyek baru yang saling berkompetisi, dan masing-masing sulit untuk bertukar kode. Forking lazim terjadi di dalam pengembangan UNIX versi BSD, menjadi FreeBSD, OpenBSD, dan BSDI. Mengapa sampai terjadi forking hingga tiga cabang dalam pengembangan BSD sedangkan di relatif Linux tidak ada?

Percabangan di Linux yang sering terjadi biasanya berupa pseudo forking. Fenomena ini seolah-olah terjadi percabangan dalam pengembangan perangkat lunak padahal tidak. Jika dalam forking, masing-masing fihak tidak dapat saling bertukar kode, maka pada pesudo-forking, masing-masing pihak sebetulnya menggunakan kode-kode dasar yang sama, dan pengembangan masing-masing saling melengkapi. Contoh pseudo-forking ini adalah berkembangnya banyak distribusi Linux.

Lalu, kembali kepada pertanyaan semula, kenapa forking terjadi sangat signifikan pada pengembangan BSD, sementara relatif tidak ada di Linux? Padahal dalam struktur pengembangan perangkat lunak BSD, cenderung terpusat, dan ada otoritas yang mengontrol terjadinya forking. Sedangkan di Linux nyaris tidak ada otoritas (pure Bazaar – meminjam istilah Eric S Raymond).

Harry Spencer, mengemukakan bahwa dalam demokrasi terbuka, revolusionaris yang potensial lebih mudah bekerja di dalam sistem dalam mencapai tujuannya, daripada menyerangnya. Atau jika dianalogikan dengan pasar terbuka, barang yang sampai di konsumen adalah barang yang terbaik. Dan bagi perusahaan besar yang sudah mapan, relatif sulit untuk membuat entri pasar baru. Proses yang terbuka dengan barrier entry yang rendah, akan mendorong partisipasi.

Jadi dalam budaya open source yang bersifat bazaar, semakin sedikit pihak yang memegang otoritas, maka akan semakin dinamis perkembangannya, tanpa ada friksi yang berarti. Perkembangan yang tidak terkontrol telah menemukan bentuknya. Mungkin itu sebabnya mengapa di Linux tidak ada forking yang berarti.

Lifebook

Perasaan mulai penat aja.. bawaan bayi, suka bosen. Alhamdulillah bisa ngumpulin duit buat beli Lifebook kecil yang nemenin begadang tiap malem. Lifebook Fujitsu Siemens ini mang rada istimewa, kerna kecil (10″), enteng pisan. Trus, Prosesornya Transmeta Crusoe 600-an MHz apa yah. Lupa gue. Hardisknya 15 Giga, 3 Giga untuk Windows, bawaan pabrik. Sisanya disikat untuk Slackware 7.0, 5 Giga (sambil nostalgia layar item putih, atau kalau bosen pake fvwm95 yang enteng), sisanya buat ngoprek Rimbalinux cuman lom sampe kompel.

Peripheralnya gak banyak, cuma ada USB dua biji, Output monitor, output sound, slot PCMCIA satu biji, sama klitoris mouse. :). Bulan depan mo beli PCMCIA ethernet, udah ngetekin yang bekas harganya £32-Xircom. Ntar kalau hardware&peripheralnya dah dikenal semua ma slackie.. windowsnya gue gusur juga bakalan.

Lifebook ni, rencana mo dipake buat ngoprek Rimbalinux (terutama buat nyari bug, kalo buat ngompel..ah sayang dong yah..), terus mo dibuat nulis. Makanya pengen buru instal lyx. Dan terakhir tentu buat mrogram. Pengen bikin aplikasi untuk ke depan, proyek ndiri hehe. Sekarang masih bikin SRS-nya. Ehm.. terus waktu buat main kapan yah? *pengen banget pulang, jalan ke semeru sambil ngisep mild*

Mahalnya Konsistensi

KPLI, kelompok pengguna linux Indonesia.. organisasi mandiri terbitan masyarakat komunitas linux di Indonesia. Bentukannya spontan, dan dari bawah, sebuah hal yang jarang di nesia. Namun bentukan komunitas yang mandiri, dan cenderung merupakan simbol pemberontakan terhadap kemapanan, bisa jadi menggejala di komunitas IT. KPLI, dengan tujuan utama mewadahi pengguna Linux di Indonesia, secara nggak sadar juga merupakan manifestasi pemberontakan terhadap kemapanan Micros()ft, perlawanan simbolis terhadap pembajakan. Barusan juga denger tentang IndoWLI – www.indowli.or.id, Indonesian Wirelesslan Community Information Source, bentuk pemberontakan terhadap kesewenangan pengaturan bandwith 2.4G. Eh aduh.. bahasa gue kok jadi provokatif gini yah hehe

Balik ke KPLI, saat ini gue rasa rada melempem (tapi ini tentu subyektif, sebab indikator yang dipakai cuman keberadaan website mereka, dan intensitas posting di milis-milis). Padahal KPLI ini punya potensi penggerakan komunitas yang tinggi mengingat pihak-pihak yang aktif di dalamnya termasuk militan, dan memiliki \’idealisme\’ dalam bentuk perbaikan Informasi dan Teknologi di Indonesia. Cuman mungkin karena sifatnya yang voluntary, jadi rada angin-anginan. Kalau nggak sibuk, ya aktif, cuman kalau banyak proyek, ya dibiarin aja dulu non aktif.

Ehmm.. jadi tambah serius nih.. lebih baik gue tunda dulu heheh.. Nanti bikin lagi tulisan yang agak terstruktur tentang KPLI ini. Tujuan gue nulis ini adalah biar aktvis-aktivis di KPLI bangkit lagi kepeduliannya terhadap organisasi ini. Paling nggak ini sebagai pengantar.

Point yang pengen gue garis bawahi adalah, bahwa di KPLI, sebagaimana kebanyakan organisasi-organisasi di Indonesia lainnya, terlalu banyak ide-ide besar. Rancangan kegiatan yang diusulkan selalu berskala besar, dan sekali tembak langsung selesai. Padahal, yang KPLI butuhkan adalah kegiatan-kegiatan kecil namun konsisten. Kegiatan yang terencana dan nggak sekali jalan. Kegiatan yang mengikat para komporer, suhu, pengguna simpatisan dan semua pihak ke dalam satu komunitas yang kuat dengan komunikasi yang sehat. Udah dulu ah..gaya bahasa gue udah kayak birokrat. *nyruput kopi asem yang mulai dingin*

Sejenak Mister King

Rada OOT, Pengen nulis tentang Stephen King. Tuh orang imajinasinya gile banget. Abdullah harahap juga kalah hehe..Novel-novelnya rata-rata memiliki karakter yang konsisten (sayang terlalu Amerika) meskipun masih kalah konsisten sama Agatha Christie. Juga cara meramu plot ceritanya gak ngebosenin, sering pindah angle (eh jadi inget novel Saman, karangan Ayu utami, tuh novel kaya banget dengan perpindahan angle tokohnya), dan kalau menyajikan sesuatu yang horrible, bener-bener kaga tanggung tanggung tuh Pak King.Banyak novelnya yang dipilemin macam Carrie, IT, FireStarter, SleepWalker, Green Mile, dan favorit gue shawshank redemption dimainin Morgan Freeman sama Tim Robbins. Tuh sr bukan horor, tapi khas pak king-nya berasa banget (mirip green mile, tentang penjara).

Buku King yang pernah dan sedang gue baca; insomnia (terbitan gramedia, bikin gue suka sama Pak King),Rose Madder (tentang istri diteror suami akhirnya lari),dolores clayborne (ini juga mirip),IT, Desperation (ini top bgt dah), Bag of Bones, Heart of Atlantis, Danse McCabre, Cujo (ini juga pernah dipilemin), the girl who love tom gordon. Euh banyak juga yah.. Tar sambung lagi..

Prasasti Internet Indonesia

24 Desember malem, kerna libur, sambil ngabisin malem, gue browse ke beberapa site menarik. Kali ini pengen banget tahu sejarah-sejarah komunitas TI di Indonesia. Dan tempat yang paling cocok ketemu, di http://rms46.vlsm.org/00-0.html.

Banyak yang menarik, catatan-catatan yang disimpan Pak Ibam. Dan sebagaimana yang gue duga, milis PAU-Mikro dulunya berisi posting-posting yang serius, seperti misalnya pembahasan tentang kurikulum Computer Engineering science yang cukup panjang threadnya di tahun 1994 (http://www.parokinet.org/pau-mikro/1994/thrd3.html). Sayang diskusi-diskusi semacam ini jarang ditemui lagi.

Namun diantara posting-posting yang ada, gue menikmati betul posting diskusi antara Andi Tanenbaum dengan Linus tentang microkernel dan monolithic kernel. Thread menarik ini pernah gue baca di buku voice of open source revolution, sebagai lampiran. Membacanya lagi berkali-kali juga enak ajah.(http://www.parokinet.org/pau-mikro/1994/msg00847.html). Buat komunitas linux, thread ini kayaknya seperti tulisan sejarah yang patut dipahat dalam prasasti 😉 (segitunya..)

Katedral Melawan Bazaar

Minggu ini, disela deadline kerjaan yang ketat, dan sambil ngoprek installernya rimbalinux, gue baca buku yang cukup legendaris, the cathedral & the bazaar, musings on linux and open source by an accidental revolutionary. Karangan Eric S. Raymond(ESR), hacker tulen nggak boongan.Kerna bacanya di kereta, jadi putus-putus. Cuman buku ini berkesan banget buat gue. Tar pengen dibikin tulisan, kali bermanfaat buat pengembangan opensource di kita.

Buku ini cukup legendaris, merupakan tulisan yang wajib dibaca siapa saja yang ingin memahami dunia open source. Bahkan klaim ESR, gara-gara buku ini, Netscape merilis source codenya, dan memasuki dunia open source. Meskipun belakangan proyeknya Mozilla kurang sukses kerna banyak faktor (dijelaskan pula disini). ESR menyusun buku ini dengan mengambil contoh uji coba dia dengan fetchmail. Fetchmail ini dikembangkan dengan metode pengembangan yang dia sebut bazaar, dari pengamatannya terhadap Linus yang revolusioner itu. Revolusioner tapi nggak sengaja (sebagaimana ditulis di judulnya).

Pemahaman gue, sementara ini, Linux berkembang pesat, terutama karena metode pengembangannya. Banyak faktor yang dijelaskan dibuku ini, termasuk RMS pendiri FSF, yang mengawali berdirinya suku hacker. Juga pembahasan cukup detail, kenapa di Linux tidak terjadi forking yang cukup berarti, sedangkan di BSD terjadi hingga empat forking (atau tiga, gue lupa). Wah pokoknya seru dah. hehe..

Dibagian akhir dimuat juga hacker-howto dan FAQ-nya, seperti apakah saya harus membenci microsoft untuk menjadi hacker? :-). Oh ya, buku ini bisa dibaca online, cari aja di google. Juga hacker-howto sudah diterjemahkan ke indonesia. Google aja lagi hehe.. brb minum dulu..

PHP Developer Cookbok

Barusan abis ngelarin baca kilasan-kilasan buku PHP Developer’s CookBook, karangan Sterling Hughes terbitan Sams. Rasmus Lerdorf juga ngasi kata pengantar. Komentar gue, buku itu baguss..guss. Struktur bukunya memang model resep masakan. Dalam mengambil analogi, banyak programmer yang mengandaikan membuat program sama dengan membuat resep masakan. Mulai bahan-bahan yang dibutuhkan (variabel,konstanta, array) hingga pengolahan (fungsi, class) dan akhirnya menjadi resep masakan siap saji, siap untuk digunakan masak.

Kembali ke bukunya, struktur bukunya agak unik, namun praktis. Misalnya sub bab yang agak enteng tentang string, nomor,tanggal, array, regex dan seterusnya. Lalu yang agak menengah tentang class, session,database, interfacing dengan program lain, seperti mengakses Java Method dan class,SNMP, hingga API dari ZEND. Pokoknya padet. Buku ni cocok buat yang udah agak familiar dengan php, atau buat programmer bahasa lain yang mau belajar php. Kalau buat yang baru mulai, mungkin rada puyeng.

Dan sekarang, bukunya ada disamping gue, kalo mau cari trik-trik, langsung dah kesitu. Soalnya banyak fungsi aneh, yang mungkin kelewatan kalau baca manual php. Misalnya membuat fungsi yang fungsinya untuk meng-generate fungsi secara dinamis. nah loh. Atau fungsi yang bisa insialisasi semua fungsi session. Atau diajak jalan jalan pake PEAR (PHP Extension and Application Repository) mirip CPAN di Perl. Yah gitu deh..tiga hari kemaren kemana-mana gue bawa hehe.. Abis ini pengen baca yang agak berat (besi kali), tar diceritain lagi dah..

Catatan Demo Anti Perang

Catatan demo anti perang, minggu kemaren. Gue dateng jam 12.. janji ketemu arya, delil sama firson di hyde park. Sampe disana ternyata udah banyak yang orasi. Massanya lebih banyak dari yang gue kira. Dari orasi yang gue denger, ada satu cewe bule yang begitu berasa empatinya. Sampai serak menahan nangis saat menceritakan kondisi anak-anak di afghanistan, pembantaian di sabra sattila, dan jerussalem.

Selesai orasi, gerak ke Trafalgar square. Bottleneck di pintu keluar, kerna massanya terlalu banyak. Kita berempat bareng dengan rombongan ‘black alliance‘ dari birmingham. Bukannya apa-apa, mereka ada kendang dan gitar.. jadi biar gak penat.Di sepanjang jalan, banyak atribut aneh-aneh. Ada yang jalan pake egrang, bawa sepeda dengan bendera \’no war\’.Banyak juga ibu-ibu dengan kereta dorong membawa anaknya.

Sampai di Trafalgar ternyata bejibun banget. Sampe penuh tuh lapangan kecil. Disana juga ada orasi-orasi, cuman gak ada yang menarik. Kite buru-buru balik kerna pengen buka puasa bareng.

Yang dicatat dari demo ini, sosialis masih mengumpulkan sisa-sisa dayanya untuk memerangi kapitalis. Semua pihak dijadiin temen, termasuk islam. Lalu, ternyata banyak juga \’silence sound\’ yang gak setuju perang, terutama bulenya sini. Btw, mereka lebih rasional, ketimbang yang laennya yang dipenuhi pikiran untuk balas dendam atas tragedi penghancuran simbol kapitalis yang mengenaskan di 11 September. Whatever.