Benih Kebencian

Hancurkan..hancurkan.. Israel..Israel..” Begitu Attar, anak saya yang berusia empat tahun meneriakkan yel-yelnya dengan semangat. Tentu saja saya kaget. Asli. Memang banyak catatan kejahatan Israel terhadap Palestina. Memang banyak saudara di Palestina, sebagai sesama muslim, yang harus dibantu sebisa mungkin yang kita mampu. Tapi menebarkan kebencian pada anak-anak? Itu bukan hak saya. Bukan juga hak guru-guru anak saya.

Tidak seharusnya kebencian disebarkan, sedendam apapun kesumat kita terhadap suatu kaum ataupun seseorang. Read the rest of this entry »

Mereka yang terlupakan

anakjalananTuan, malam ini saya lihat di tivi. Katanya seorang anak tanggung, SD kelas tiga mungkin. Ia meninggal terseret truk. Mayatnya tidak dikenal hingga keesokan harinya. Ternyata dia adalah salah seorang anak jalanan, yang dikenali oleh bapak singgahnya. Anak yang semasa hidupnya menabung untuk beli tivi buat emaknya. Emak yang entah karena kesulitan ekonomi, atau kesengajaan membiarkannya terdidik di jalanan. Dan menjemput maut di jalanan.

Saya ingat narasi panjangnya Pramoedya. Orang-orang yang dipenjara. Terlupakan lalu mati. Tak sempat dicatat oleh sejarah. Tak sempat ditangisi oleh sanak saudara. Mereka mati begitu saja. Padahal ibunya sudah mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Padahal dia adalah benih pilihan, setelah berjuang melawan jutaan sperma lain yang mati sebelum hidup.

There is no accident, ujar Mr Oogway.  Tidak ada kesia-siaan. Every existence has its own purpose, begitu kata Morpheus (kalau nggak salah). Apa tugas mereka? Apakah hanya menjadi kisah yang tertulis di blog nggak mutu ini? Ataukah tamparan bagi muka-muka cengeng yang selalu mengeluh?

Selamat jalan kawan-kawan yang tak pernah aku kenal. Tak pernah muncul di satu buku sejarahpun. Tak ada seorangpun yang menangisi kematian kalian. Duniapun tidak kehilangan kalian. Aku sampaikan salammu buat siapa saja yang merasa mengalami hari yang buruk.

Open Social Networking

community_icon.gifMencari platform open social networking yang mau dipakai untuk produk di Ocentrum, saya mencoba beberapa platform:

  1. Elgg, kelihatannya ini platform yang paling ideal. Dibuat menggunakan PHP5, dengan fungsi-fungsi yang sederhana. Memang ditujukan untuk itu. Agar bisa dikembangkan. Sebagai platform dasar, elgg menjalankan tugasnya dengan baik. Bisa override fungsi seperti Drupal, sehingga tidak perlu otak-atik core-nya untuk mengganti sesuatu. Ini agar bisa diupgrade tanpa mengganggu situs produksi. Banyak fungsinya yang spesifik PHP5 membuat saya harus buka kebetan lagi. Kelemahannya satu, dokumentasinya masih sedikit, dan plugin komunitasnya belum terlalu banyak (halah, sudah gratis minta slamet). Lisensinya juga GPL
  2. PHPIzabi, ini sudah lama dicoba. Kelemahannya ada di lisensinya, yang sangat terbatas. Dan source codenya tidak terlalu rapi.
  3. iSocial – belum sempat coba. Tapi kelihatannya cukup menjanjikan. Lisensinya GPL.
  4. Spree – lebih ke sharing knowledge. Mungkin cocok untuk helpdesk Linux.

Baru itu cobanya. Ada juga yang berplatform RoR, Insoshi. Kelihatan simpel dan mirip aplikasi bikinan 37signals. Tapi sekarang belum waktunya belajar bahasa baru.

Sebelumnya sudah oprek Drupal. Tapi terlalu banyak effortnya, dan terlalu kompleks modul yang dilibatkan. Akhirnya, menggunakan Elgg. Saat ini masih coba modifikasi hingga sesuai dengan yang diinginkan.

Utamakan Kenyang.. eh Lapar

eatingMenjaga rasa lapar memiliki banyak keutamaan. Dalam islam, Tuhan telah memerintahkan puasa sebagai salah satu pilar agama untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi juga menegaskan bahwa cukuplah makanan bagi umat Muhammad untuk menjaga tegaknya tulang sulbi. Asal masih kuat beraktivitas, itu sudah cukup. Ali, salah seorang sahabat nabi, menyampaikan bahwa ‘menjaga perut tetap dalam kondisi lapar/tidak kenyang’ adalah salah satu cara menjaga hati. Tips ini dikenal lewat lagi ‘tombo ati’ atau obat hati.

Berikut beberapa keutamaan lapar (dari Al Ghazali, tapi saya lupa redaksi/point pasnya. Hanya mengandalkan daya ingat):

  1. Tidak malas. Perut kenyang biasanya diikuti oleh mata ngantuk. Kalau lapar, selalu waspada, giat dan lebih produktif.
  2. Menajamkan empati. Kalau ada orang kesulitan, kita bisa lebih berempati jika perut kita lapar.
  3. Menjaga jarak dari dunia. Biar tidak terlalu larut dalam permainan. Larut? Gula kali..
  4. Mendekatkan diri kepada Tuhan (wah kalau ini tergantung niat. Kalau untuk diet mah, lain lagi).

Semua jenis makanan kalau sudah melewati tenggorokan, rasanya sama saja. Begitu menurut seorang penggali kubur. Benar juga ya.. Tapi kelezatan makanan, meskipun hanya di lidah dan direspons ke otak, bagaimanapun juga adalah anugrah ketuhanan yang patut dinikmati, betul?

Emas

Cerita ini saya adopsi dari komik Karung Mutiara Al Ghazali.

Seorang lelaki berteman dengan Nabi Isa bin Maryam.

“Aku bersamamu dan menemanimu,” sabda Nabi Isa. Lalu mereka berjalan hingga tiba di sebuah sungai. Merekapun duduk untuk sarapan.

Mereka mempunyai tiga roti, tapi hanya ada dua yang dimakan, sementara roti ketiga masih utuh. Nabi Isa menuju sungai untuk minum. Sekembalinya dari sungai, beliau tidak menemukan roti ketiga.

“Siapa yang mengambil roti?”, tanya nabi Isa.

“Aku tak tahu,” jawab temannya sambil menggeleng.

Mereka lalu berjalan lagi. Di tengah hutan, tampak seekor kijang betina dan dua ekor anaknya. Nabi Isa membawa satu anak kijang dan menyembelihnya. Mereka memanggang dan memakannya bersama. Setelah selesai makan, bersabdalah Nabi Isa. Read the rest of this entry »

Masalah dengan Google Apps (Terutama Email)

Lagi pengen ngomong sedikit teknis. Google telah lama menyediakan Google Apps, di mana salah satu fitur favoritnya adalah email (aka Gmail). Intinya kita bisa punya alamat email domain kita sendiri, dan menggunakan enginenya Gmail. Rimbalinux, Ocentrum, dan Indobizweb adalah salah tiga penggunanya yang saya daftarin. Cool apps. Reliabel dan gratis.

Masalahnya adalah jika hosting kita menggunakan postfix dan kita ingin mengirimkan email ke domain yang masih dalam satu hosting. Misalnya saya langganan hosting Indobizweb, lalu  di dalam hostingnya ada domain:

  1. rimbalinux.com
  2. ocentrum.com
  3. dan indobizweb.com.

Misal saya kirim dari asofyan [at] ocentrum.com ke support [at] indobizweb.com, lewat SMTP-nya Ocentrum yang berada di server indobizweb.  Maka postfix pada saat mengirimkan email, dia akan menganggap bahwa indobizweb.com adalah domain local. Sehingga postfix tidak akan mencari ke MX, tapi otomatis akan dikirim ke local mailbox domain indobizweb. Dengan kata lain meskipun kita sudah membuat alamat email via Google Apps, namun karena postfix mengirimnya ke local, maka mailbox kita dianggap tidak ada.

Gimana cara mengatasinya? Ini sedikit teori:

  1. Buat satu account place holder di Gmail (karena filternya cukup mudah dibuat), yang menampung semua email tumpahan. Misal: ocentrum[at]gmail.com
  2. Mailbox yang sudah dibuat di Google Apps, dibuat juga di local mailbox. Misal: support[at]ocentrum.com
  3. Support[at]ocentrum.com di local mailbox ini diforward ke ocentrum[at]gmail.com
  4. Di akun ocentrum[at]gmail.com dibuat satu filter, di mana email yang datang yang ditujukan ke support[at]ocentrum.com akan diforward kembali ke support[at]ocentrum.com (dalam hal ini akan lari ke mailbox yang ada di Google Apps).

Kira-kira begitu. Bingung nggak sih? Abstrak banget ya.. mungkin kalau ada yang berkenan membuatkan diagram akan sangat membantu hehehe.. *taichi*

Sudut Pandang

Pada saat kita memandang dunia, pasti kita berdiri di suatu tempat. Dari tempat kita berdiri, kita bisa mendeskripsikan sesuatu. Misalnya saat di ragunan, disamping kandang gajah, saya bisa detail menggambarkan gajah. Berekor kecil, kakinya besar ada dua, mengingat kebetulan saya berdiri di belakang gajah. Keponakan yang berdiri di depannya, dapat mengambarkan gajah yang punya telinga panjang dengan belalai yang panjang. Keduanya tidak keliru. Namun keduanya tidak dapat menggambarkan secara utuh, karena harus berdiri di suatu tempat dalam menggambarkannya.

Begitu juga saat kita memandang sesuatu yang lebih abstrak. Masalah misalnya. Atau tantangan. Atau apapun. Tempat kita berdiri dan cara kita memandangnya sangat menentukan gambaran yang tertanam dalam kepala kita. Misalnya saya seorang programmer, saya memandang Linux sebagai kumpulan program. Saya seorang aktivis, saya memandang Linux sebagai gerakan sosial. Saya seorang pengusaha, saya memandang Linux sebagai sebuah peluang usaha.

Dibutuhkan latihan dan pengalaman yang banyak untuk dapat mengubah kacamata kita terhadap sesuatu. Tapi semakin lengkap kacamata yang kita pakai, semakin lengkap kita memperoleh gambaran tentang sesuatu, kita akan tahu cara merespons yang paling tepat. Bayangkan jika Anda bisa memandang Linux misalnya, dari kacamata programmer, kacamata aktivis maupun kacamata pengusaha. Kemampuan membayangkan dan menghayati bayangannya, akan mungkin jika kita pernah berdiri di beberapa tempat dalam melihat sesuatu.

Itu saja yang mau saya tulis. Beberapa minggu terakhir, Tuhan telah menganugerahkan saya untuk dapat beberapa kali berpindah tempat berpijak sehingga semuanya terlihat berbeda. Paling tidak, jadi paham apa maksudnya, ‘aku adalah apa yang aku pikirkan’. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana Muhammad SAW memandang dunia? Dimana beliau berpijak?

You C1000

Karena badan kurang fit, saya coba cari multivitamin buat doping. Pengennya you C1000. Maaf kalau bau iklan. Pergilah ke warung kecil sebelah warteg.

‘Bu ada You C?’

‘Wah yusi pulang kampung mas.. lagi aplus’.

*ngakak sambil jalan pulang..*

Sekali Lagi Laskar Pelangi

Baru sabtu kemarin berkesempatan nonton Laskar Pelangi, sepulang dari kondangan Hasbi. Hari gini masih penuh juga. Tentang filmnya, cukup menggugah dan lucu. Dua paduan yang jarang ditemukan di film-film Indonesia. Kelucuan (dan keharuan) itu pula yang membuat film ini tidak terasa lambat atau monoton (sebagaimana film serius lainnya, seperti film-film Garin misalnya).

Bukunya sendiri saya baca cuma separo, sebab penggambaran karakter di buku, terutama Lintang dan Mahar, terlalu exaggerated atau diperbuas. Dibilang fiksi, tapi nanggung. Dibilang memoar,   tapi banyak hal yang terlalu diperbuas dengan kombinasi yang kurang pas. Mungkin memang lebih tepat disebut memoar yang beberapa bagian fiktif. Atau novel fiksi yang diangkat dari kejadian nyata. Di beberapa film barat biasanya ada disklaimer, beberapa bagian dari film ini diangkat dari kisah nyata. Namun untuk kepentingan hiburan, beberapa adegan di’modifikasi’.  Begitu kira-kira. Maaf buat penggemar Laskar Pelangi, tapi interes saya hilang setelah baca sebagian.

Filmnya sendiri lebih baik dari bukunya, begitu kata banyak orang. Toh pengarangnya sendiri mengakui hal yang sama. Di film lebih manusiawi, meskipun tidak sedeskriptif novelnya (ya iya lahh.. cuma 2 jam gitu). Dan filmnya telah berhasil mengangkat nuansa nostalgik, pendidikan di kampung yang memang seperti itulah yang terjadi di daerah-daerah peolok. Saya sendiri sempat di SD Muhammadiyah, di Suruh, sebuah kampung di jawa tengah. Suasana main di pantai, mengingatkan saya main-main di sawah, atau mandi berenang di kali.  Saya ingat waktu mau sholat jumat, bukannya sholat malah mandi di kali rame-rame. Pas datang ke masjid, imam baru selesai salam. Jadilah saya sholat dua rakaat dalam <1 menit, dan pulang berbaur dengan jamaah lainnya. Hehehe.. menyamar. Mungkin karena melakukan kecurangan, hal itu teringat sampai sekarang.

Hampir semua tokoh di laskar pelangi dapat menginspirasi banyak orang. Terutama tentang semangat memperoleh pendidikan, pelajaran akhlak di usia dini, dan keceriaan dalam setiap kesulitan. Film-film seperti ini mengingatkan saya pada film-film Syumanjaya. Menceritakan ketabahan dan keceriaan dalam setiap kesulitan. Dapat dikatakan, film yang berbiaya hampir 8 milyar ini berhasil menyelesaikan misinya. Untuk ukuran Indonesia, ini adalah langkah yang baik. Mungkin film-film hantu, percintaan sudah mencapai titik bubble dan diledakkan oleh film ini.

Pas nontonnya sendiri cukup berkesan, karena ini pertama kali saya mengajak anak kami yang berusia 3 dan 4 tahun nonton bioskop. Pada saat semuanya ketawa, anak saya bingung. ‘Emang kenapa bunda? Kok pada ketawa?‘. ‘Kok bunda sedih?‘ begitu kira-kira. Bagusnya, mereka nggak ngajak pulang sebelum film selesai. Paling cuma sedikit ngomong. ‘Kok nggak selesai-selesai sih filmnya?‘. Mereka sempat tidur-tiduran di tangga karpet jalan orang lewat. Heh.. namanya juga anak-anak.

Beberapa Cukilan Model Usaha

Saat ingin memulai usaha sendiri, terutama yang baru mulai dengan modal uang pas-pasang dan segunung nekad, ada beberapa hal yang mungkin bisa direnungkan.

  1. Menciptakan sistem atau menceburkan diri ke dalam sistem?
    Buat pengagum Kiyosaki tentu masih ingat kisah tentang proyek pengadaan air bersih di sebuah desa. Ada dua kontraktor. Yang satu menyanggupi saat itu juga, dengan harga relatif mahal. Sementara satu lagi memberikan jangka waktu lama tapi lebih murah. Kontraktor satu langsung membeli ember dan mengangkut air dari lembah yang memang air berlimpah. Saat kebutuhan naik, si kontraktor menambah ember-embernya. Lalu kontraktor satu lagi pergi ke kota dan membeli pipa. Lalu dicarinya sumber air di perbukitan dan disalurkan lewat pipa-pipa ke desa.

    Keduanya sama-sama berusaha memberikan air bersih kepada masyarakat, tapi ada yang beda. Kontraktor 1 menceburkan diri ke dalam sistem. Jika dia sakit, air tidak akan terangkut dan dia kehilangan pendapatan. Jika kebutuhan meningkat, dia harus menyewa pembantu, dan dia harus mengatur pembantu-pembantunya agar air terangkat dengan baik. Pada satu titik, dia terjebak di bidang usahanya. Sedangkan kontraktor dua, begitu air mengalir lewat pipa, mengalirlah terus. Kalau dia sakit, air tetap mengalir. Pendapatan tetap berjalan. Memang di satu titik, kontraktor satu dapat saja menciptakan sistem dengan merekrut orang-orang pengangkut air, serta merekrut seorang mandor untuk mengawasinya. Tapi untuk sampai ke tahap itu, prosesnya lama dan jarang orang bisa keluar dari sistem sehingga usaha dapat berjalan tanpa adanya dirinya. Lagipula, semakin besar mengejar profit, semakin besar pula skala usahanya, yang berarti semakin kompleks. Sedangkan pada kontraktor 1 lagi, penambahan request cukup dengan penambahan pipa.

    Saya sering curhat kepada teman tentang hal ini. Pertanyaannya mudah saja, jika saya memutuskan untuk ekspedisi ke everest selama 3 bulan, apakah usaha saya masih dapat berjalan?

  2. Uang kecil seminggu sekali atau uang besar tapi setahun sekali?
    Dalam memilih bentuk usaha, juga harus dikenali bagaimana menghasilkan uang. Biasanya semakin mahal barang yang dijual, lakunya semakin jarang. Tapi sekali laku bisa dipakai untuk hidup setahun.

    Sebagai pemula, dan dengan modal relatif kecil, bentuk uang kecil seminggu sekali lebih baik daripada uang besar tapi setahun sekali. Dalam perusahaan, kelancaran uang keluar dan masuk seperti lalu lintas darah di tubuh. Sekali tersendat, bisa semaput. Kecuali kalau punya stok darah yang cukup kuat. Kebanyakan usaha kecil tidak punya.

Itu menurut saya dua elemen yang sangat penting untuk ditanyakan kembali dan kembali pada saat akan memulai usaha, apapun bentuknya. Atau pada saat usaha itu berjalan. hmm serius pisan ei..