Tanpa Motivasi

Seringkali motivasi dinilai terlalu tinggi. Anda harus punya motivasi yang tinggi untuk bisa meraih sesuatu. Apapun itu. Padahal motivasi itu naik turun. Jarang ada orang berkemauan keras, punya motivasi seperti mesin, memicu bergerak setiap hari secara konstan. Yang umum terjadi adalah kita sering malas. Tidak ingin melakukan sesuatu. Rebahan nggak jelas. Jadi apakah bisa meraih sesuatu tanpa motivasi?

Saya berhenti merokok pada saat anak kedua saya lahir, dan dimulai sejak kelas 1 SMA. Kalau dihitung rentangnya sekitar 17 tahun. Berbagai rokok pernah saya hisap. Berganti-ganti sampai dibilang kaya asbak karena terima rokok apa saja. Tapi yang paling lama tentu saja Samsu. Paling berat, tanpa penyaring (rokok kretek), dan habisnya lama. Rokok ini bertahan hingga saya berhenti.

Saat itu di kantor, tiba-tiba saya ingin berhenti merokok. Saya tidak ingin anak saya ikut menghirup asap rokok kalau saya merokok di rumah. Saat itu masih beberapa batang jisamsu di tangan saya. Rokok saya matikan dan saya berhenti hingga sekarang. Memang kadang jika bertemu teman-teman tertentu, saya mencoba. Tapi tidak pernah terus-terusan, dan tidak pernah ingin kembali.

Movivasi vs Lingkungan

Apakah motivasi saya kuat? Perubahannya cukup ekstrim. Dulu saya berfikir begitu.  Bahwa semua tergantung niat. Kalau niatnya kuat, maka semua akan selesai dengan sendirinya. Tapi sebagaimana paragraf pertama, niat itu naik turun. Normalnya semua manusia begitu. Jadi motivasi itu cuma pemicu. Ternyata, lingkunganlah yang memberi peran besar.

Tanpa saya sadari, setelah saya berniat berhenti merokok, saya relatif bekerja sendiri. Dan topik yang saya hadapi sangat menarik, sehingga saya melupakan keinginan lainnya, apapun itu. Tidak pernah lagi ketemu teman-teman yang merokok. Jarang naik gunung yang memicu keinginan untuk merokok. Intinya, lingkungan tidak terlihat sebagai pemicu untuk merokok kembali.

Jadi motivasi tidak semata pemicu pergerakan atau perubahan. Lingkungan sangat berpengaruh besar. Anda mungkin ingat pedagang asongan yang sangat sulit hilang dari KRL. Juga penumpang gelap. Mereka tidak perlu dikejar-kejar atau diperintah untuk pergi. Tapi perbaikan mulai dari pintu masuk. Penggunaan tiket elektronik. Dan mengganti fisik kereta, hingga penambahan armada.

Perubahan perilaku lewat perubahan lingkungan memang sulit. Jika Anda ingin mengubah diri Anda tapi tidak punya niat terlalu kuat, cobalah untuk mengubah lingkungan Anda. Jika ingin lebih banyak minum air putih, letakkan botol penuh air putih di titik-titik yang Anda lewati. Meja makan. Meja kerja. Tas. Isilah dengan botol-botol air putih. Anda tidak perlu menghabiskannya, tapi paling tidak Anda bisa melihatnya. Lalu lihat apa yang terjadi kemudian.

Jadi, jangan berkecil hati jika niat Anda naik turun. Kita semua begitu. Coba lihat sekitar, apa sudah mendukung niat Anda? Jika belum, apakah bisa ditata ulang agar Anda bisa melakukan apa yang Anda inginkan tanpa harus berfikir? Apakah sudah terlihat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.