Menghindari Kebodohan

Nasib seseorang tergantung dengan keputusan-keputusan yang dia buat setiap hari. Entah konsekuensi besar, kecil, setiap saat kita membuat keputusan dan untaian keputusan itu membentuk nasib kita, dan diri kita saat ini.

Mungkin sulit bagi sebagian besar orang untuk membuat keputusan pintar. Lebih mudah untuk menghindari keputusan-keputusan bodoh. Kebodohan dapat dikenali, dan dihindari. Berikut daftar kondisi yang membuat kita membuat keputusan bodoh. Hindari sebisa mungkin.

  1. Di luar lingkungan biasanya atau ada perubahan kondisi
  2. Berada dalam kelompok
  3. Berada di antara para ahli, meskipun Anda sendiri ahli
  4. Mengerjakan tugas yang membutuhkan fokus intensif
  5. Kebanyakan informasi
  6. Stres atau kelelahan fisik
  7. Buru-buru atau dikejar hal yang mendesak

Daftar di atas adalah kondisi di luar pemikiran kita. Namun ada juga hal-hal yang menyangkut kekeliruan cara berfikir kita, membuat kita membuat keputusan bodoh. Kekeliruan cara fikir di sini lebih ke bias cara fikir (ada hal-hal tertentu yang membuat kita berpikir B meskipun logika seharusnya kita berpikir A). Bias ini sering tidak disadari.

Beberapa bias yang membuat kita mengambil keputusan bodoh:

  1. Takut kehilangan (Loss Aversion)
    Kita mungkin sedih kehilangan kesempatan proyek senilai 100 juta. Tapi jauh lebih sedih kehilangan uang 100 juta yang sudah di tangan. Sama-sama kehilangan, tapi bobotnya lebih besar jika sudah ditangan.
  2. Bias berdasarkan ingatan segar (Recall Bias)
    Membaca berita kecelakaan pesawat, menganggap semua pesawat tidak aman. Padahal kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi, dan prosedur penerbangan sangat ketat.
  3. Bias keberhasilan penyintas (survivor bias)
    Membaca keberhasilan Atta Halilintar mencapai 500 juta sebulan dengan menjadi vlogger, menganggap semua vlogger bisa seperti itu. Padahal secara rasio, mungkin 1:10000 (tebakan kasar :-)).
  4. Bias patokan awal (anchor bias)
    Beli mobil seharga 500 juta, lebih enteng menambah aksesoris tambahan seharga 15 juta. Padahal kalau dinilai terpisah, angka itu bisa dapat motor, tapi dibanding pembelian 500 juta, 15 juta itu enteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *