Kenapa Aku bisa Aku?

Pagi ini sambil bengong nangkring di atas VegaR, lewat hutan karet UI jalan setapak Poltek. Saat berpapasan dengan orang-orang lain yang berangkat kantor, ada pikiran yang mengusik. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku adalah aku? Bagaimana bisa sadar bahwa aku adalah aku? Kenapa aku yang nangkring di atas VegaR ini? yang lagi berangkat ke tempat kerja? Kenapa aku bukan seorang wanita yang misalnya, sudah bukaan 5 dan sedang nahan mules x1000 saat bayi sudah di ujung perut? Kenapa aku bukan bayi yang menunggu mati karena sakit diare dan nangis putus asa terhadap datangnya pertolongan dari aparat yang terhormat?

Kesadaran diri ini membedakan aku dengan kebo betina berkulit bule. Si kebo nggak akan pernah sadar bahwa dirinya ada. Dia nggak akan bilang, “ini lho, aku si kebo bule, makanku rumput. Aku lahir dilepehin sama emak… “. Sebab si kebo nggak sadar keakuannya.

Keakuan ini mengantarkan pada satu kata. Consciousness. Berasal dari bahasa jawa kuno, Constientia, yang kurang lebih artinya suara hati, diperkenalkan oleh Mpu Cicero, kemudian mbah Thomas Aquinas, dan mpu favorit, Mpu Rene Descartes. Wah agak mumet mengurut Trah Consciusness ini.

Intinya Cogito Ergo Sum. Aku punya dengkul maka aku ada. Wah ini topiknya dleweran kemana-mana.. ndledek..(mohon maaf buat polisi EYD kalau bahasa saya bercampur dengan bahasa dewa yang hampir punah..)

Kembali ke lektop, saya kadang heran dengan seleksi aku menjadi aku. Konon jaman waktu mau masuk indung telur saja, aku dulu berenang dan memenangkan pertandingan dari jutaan calon aku yang lain. Jadi aku adalah terbaik dari jutaan sper.. em maaf.. nggak jadi. Ntar disemprit.. Coba kalau waktu itu yang masuk indung telur bukan aku? Maka aku nggak akan dipalak di metro mini (apa coba?), maksudnya aku nggak akan ada. Dan nggak tahu, gimana aku bisa milih sper.. em maaf.. nggak jadi.. maksudnya bisa menjadi aku yang lain? Mungkin terlahir sebagai anak Angelina Jolie dan Brad Pitt? Ask to the dancing grass

3 tanggapan pada “Kenapa Aku bisa Aku?

  • Mei 8, 2007 pukul 7:05 am
    Permalink

    mas, njenengan punya tulisan2 yang menarik (dan kocak). I like it.

  • Juni 27, 2007 pukul 7:33 am
    Permalink

    hmm…
    tadi malam,
    di atas vespa kesayanganku
    disepinya malam jakarta-depok

    aku juga meng aku …

    ” .. betapa bersyukurnya aku
    sudah menjadi orang baik,…
    karena itu memberi ku rasa tenang …

    orang jahat, mana mau bersyukur …
    kan dia jahat …

    lho? kalo orang jahat bersyukur
    mensyukuri kejahatannya ..
    bukannya itu tanda dia tidak bersyukur
    alias dia jahat banget …
    lho ..? ”

    dan vespa pun terus melaju …
    sambil sesekali terbatuk-batuk …

    🙂

  • Juli 31, 2008 pukul 11:49 pm
    Permalink

    He..he..,

    Cuman manusia yang memiliki eksistensi diri….. Tapi Aku bukanlah Pribadi, karena Pribadi itu sejatinya Aku.

    Salam,
    Affandhi Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *