Kerjakan Satu Hal, dalam Satu Waktu

Kadang Bedul tidak mengerti dirinya sendiri. Antara nafsu kemaruk, ketidak mampuan berkata tidak, atau ketakutan kehilangan pemasukan, membuat Bedul menerima semua tawaran kerjaan yang mampir padanya. Sebagai seseorang yang disebut sebagai (so called – red) ‘pekerja IT’, Bedul dalam satu bulan bertanggung jawab menyelesaikan 4 proyek sekaligus.

Proyek pertama, sebut saja Proyek Cemplon, adalah kontrak tetap untuk membuat aplikasi berbasis web. Karena tetap, Bedul bersedia mengerjakannya dalam waktu jam kerja, alias jam 7 sampai jam 5 sore.

Proyek kedua, sebut saja Proyek Wahyuni, sebuah aplikasi di sebuah perusahaan. Meskipun duitnya tidak seberapa, tapi aplikasinya menantang. Dan Bedul merasa bisa mengerjakannya di malam atau sore hari setelah selesai Proyek Cemplon.

Ketiga Proyek Tubruk, memperbaiki dan memelihara website modin disebuah kampung yang nggak terkenal. Ini juga atas permintaan senior Bedul saat mengembara di arena karambol profesional tingkat kecamatan. Gara-gara senior inilah Bedul menjadi top karambolers dengan bintang 4, kategori professionally addicted.
Keempat, proyek Bedul pribadi, mengembangkan konten di web sambil dipasangin iklan, siapa tahu dapat cek seratus ribu dolar sebulan seperti ShoeMoney.

Dan apa yang terjadi? Alih-alih mengerjakan proyek-proyeknya, Bedul malah main gundu di dekat jalan lubang-lubang yang memang banyak di kampung Bedul ini. Waktu saya tanya, kenapa nggak kamu kerjain pekerjaan kamu Dul?

Bedul merinci jawabannya panjang dan lebar. Ia jelaskan saat mengantongi gundu hasil permainan pagi ini.

Pertama, gua pusing kalau sudah mulai mengerjakan satu proyek. Karena gua dibayangin proyek kedua dan seterusnya, yang PR-nya masih numpuk. Karena itu lebih baik gua main gundu aja. Meskipun pas mau tidur di malam hari sulit sekali merem karena ngerasa bersalah.

Kedua, setelah gua perhitungkan dengan cermat, ternyata gua ini korupsi. Idealnya memang semua dikerjakan pada waktunya. Waktu ngerjain Proyek Wahyuni, tentu saja harus dikerjakan terus dan nggak boleh ngelirik proyek Cemplon. Tapi ternyata saat Wahyuni dan Cemplon ada kebutuhan mendesak, salah satu harus dikorbankan. Juga kadang mengerjakan proyek Cemplon padahal gua lagi dibayar sama proyek Wahyuni.

Keempat, perpindahan otak dari proyek satu dengan proyek lainnya itu membutuhkan kalibrasi yang tidak sebentar. Kadang untuk kalibrasi perlu didoping ponstan atau panadol. Hm padahal Kang Joel udah bilangin ke Jauhari (siapa ya Jauhari, kok tiba-tiba nongol?), kalau pindah-pindah proyek itu membahayakan otak.

Kelima, karena terganggu Cemplon, Wahyuni, Tubruk dan kawan-kawan, saat memegang komputer, Bedul seperti orang impoten. Ndak bisa napa-napa. Ndak bisa nulis apa-apa. Ndak bisa menghasilkan code satu barispun.

“Jadi nak,” ujar Bedul berfilosofi sambil ngantongin kelereng,

“Inaf is inaf (Enough is enough – red). Kerjakan satu hal saja dalam satu waktu dan kerjakan itu dengan baik. Tadinya saya berfikir untuk mengembalikan semua uang Wahyuni, Cemplon atau siapa lah. Tapi berhubung pantang meludah di mukamu.. maksudnya pantang menjilat ludah sendiri.. maka lebih baik gua main gundu aja.”

Aku menatap Bedul dengan pandangan orang nahan pipis. Maksute ki opo?

7 tanggapan pada “Kerjakan Satu Hal, dalam Satu Waktu

  • Februari 22, 2007 pukul 5:30 pm
    Permalink

    Huehuehue…ini mah “gue banged“, nerima banyak proyek dalam waktu yang -ndilalah- bersamaan. Yah gimana ya, butuh tambahan buat hidup je…
    Setuju : Enough is enough ..

  • April 4, 2007 pukul 9:07 pm
    Permalink

    Hooh, klo kita kaum pria mang didesain ma yg diatas buat fokus pada satu hal, beda sama kaum wanita yang multitasking.

  • Juni 21, 2007 pukul 1:34 am
    Permalink

    meski saya megalami yang serupa, tetap masih berharap ada contoh hidup yang berhasil. Sayakah gerangan?
    *
    Iya yaa, mengapa meski sudah mengalami sendiri, teta’ga percoyo. Mosok sih ngga bisa

  • Juni 27, 2007 pukul 6:18 pm
    Permalink

    to: Cok, memang nggak bisa pak. Kalaupun bisa, berdarah-darah tentunya. Ini masalah klasik. Makanya ada ilmu yang bernama manajemen.

  • Juli 13, 2007 pukul 11:56 am
    Permalink

    jangan lupa bikinin gue website yang gratisan tapi cespleng buanget….

    Sugi
    W732ERA

  • September 2, 2007 pukul 8:32 pm
    Permalink

    Tampaknya ini pengalaman pribadi. Namun sangat layak untuk dibagi. Inspiratif dan bisa jadi bahan renungan. Terutama untuk yang “kemaruk” 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *