Mengakali Waktu

Dua hari terakhir saya berjalan kaki dari rumah menuju kantor. Entah angin apa yang menghembuskan keinginan itu. Dan ternyata memang ada banyak sekali yang bisa dilihat jika kita melewatinya lebih pelan. Apa yang saya lewati setiap hari, tidak akan tertangkap jika saya naik motor atau mobil. Karena semuanya berlalu secara cepat.

Jika difikirkan ulang, percepatan atau instanisasi  proses yang ada di dunia ini membuat orang kehilangan sesuatu. Yakni nilai yang diperoleh saat menjalani proses itu. Bayangkan jika di suatu masa, Anda ingin kopi, tiba-tiba kopi ada di depan meja. Anda ingin tempe goreng dan sambal terasi masih hangat, tiba-tiba muncul dan siap disantap. Mungkin dalam seminggu Anda akan mati kebosanan.

Konon diam berarti mati. Tapi semua serba instan juga mematikan. Beberapa efek yang muncul saat semua berjalan cepat, salah satunya mungkin waktu berlalu terasa begitu cepat. Tahu-tahu muncul uban. Tahu-tahu anak sudah sekolah. Tidak terasa. Saya selalu menikmati pulang ke Salatiga, karena di sana waktu berjalan lebih lambat. Sudah mandi pagi. Sudah jalan-jalan. Sudah sarapan bubur sambel tumpang koyor. Eh kok masih jam setengah delapan. Kalau di Depok, bangun tidur beres-beres ke kantor, tahu-tahu sudah jam 8. Belum lagi di Jakarta. Mungkin putaran jamnya lebih cepat. Kata Einstein, waktu tidak sama bagi setiap orang.

Efek lain dari percepatan adalah hilangnya kedalaman, dan merajalelanya kedangkalan. Semua serba instan. Menjadi kaya dalam 24 jam. Mahir korupsi dalam 15 menit. Cara cepat dapat utangan dalam 10 detik. Semua serba pragmatis dan nilai menjadi hilang. Orang malas membaca buku yang berat-berat. Nonton tivi juga maunya ganti-ganti. Apalagi ada remote. Mie instan rasa soto ayam tapi esensinya adalah mie (gandum) lebih disukai daripada soto ayam betulan. Repot bikinnya. Kelamaan.

Efek berikutnya, menipisnya empati. Orang yang menjalani proses betulan untuk mendapatkan SIM akan lebih menghargai peraturan lalu lintas daripada orang yang dapat SIM-nya nembak. Atau masih ingat Laskar Pelangi? Untuk menuju sekolahnya ia harus menyeberang rawa yang banyak buayanya. Dia saraf empatinya lebih dalam dibandingkan orang lain jika berbicara tentang sulitnya pendidikan dan bersekolah.

Saya pernah dengar ada gerakan memperlambat segala sesuatu. Jika makan dikunyah pelan-pelan. Berjalan juga pelan-pelan. Mungkin pencetus gerakan ini memang merasa ada sesuatu yang hilang dari adanya percepatan terhadap segala sesuatu. Dan yang hilang adalah kenikmatan terhadap waktu, dan kenikmatan menjalani sebuah proses.

Sebetulnya dari percepatan itu apa yang dikejar? Bisa melakukan lebih banyak hal? Atau memperoleh banyak hal? Pernah dengar cerita tentang lembah lolipop? Ada sebuah lembah yang berisi permen lolipop beraneka warna. Dan dua orang berjalan melintasi lembah itu. Satu orang berjalan cepat, mengumpulkan permen lolipop beraneka warna. Begitu sampai di ujung lembah dan kecapean karena mengantongi banyak permen lolipop, dia ditanya oleh penduduk di situ.

‘Wah baru datang ya.. Gimana permen lolipopnya, enak nggak?’

‘Emm.. saya belum ngerasain pak. Tapi semuanya sudah saya kumpulkan di kantong saya beraneka rasa’

Sementara temannya belum sampai. Saat sampai, temannya tampak riang menyapanya

‘Wah kemana aja kamu tadi? Ngapain sih buru-buru? Saya tadi sudah nyobain berbagai permen aneka rasa. Eh di jalan juga ketemu pak tua. Kami ngobrol sambil makan lolipop. Enak deh..’

Banyak orang berambisi mengumpulkan banyak permen lolipop tapi lupa menikmatinya.

Lalu, apa yang didapat dari jalan kaki dari rumah ke kantor setiap hari selama 45 menit itu? Nanti saya ceritain di posting yang lain.

5 thoughts on “Mengakali Waktu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *