Stres

Stres ternyata dibutuhkan makhluk hidup dalam menghadapi bahaya. Barangkan jaman dulu, saat berjalan kita bertemu harimau. Saat itulah stres muncul. Otot menegang, otak untuk berfikir tidak dapat berfungsi. Aliran darah bergerak cepat, jantung berdetak lebih kencang. Kita menjadi lebih agresif. Keputusannya, lawan atau lari. Dan itu berlangsung sepersekian detik. Manusia sejatinya membutuhkan stres untuk bertahan hidup saat menghadapi bahaya. Hal Itu yang memicu kekuatan besar saat anjing mengejar, atau melompat cepat saat mau kereta akan menyambar.

Masalahnya, stres dapat terpicu tidak hanya pada saat benar-benar ada bahaya. Tapi membayangkan ada bahaya di depan dapat memicu reaksi yang sama. Kekhawatiran akan masa depan dapat memicu stres terus menerus. Efeknya, kita menjadi lebih agresif, imunitas tubuh menurun, dan kemampuan berpikir jernih jadi hilang.

Kata kuncinya adalah ‘bahaya’ dan ‘sinyal adanya bahaya’. Hal yang sepele sekalipun dapat memicu sinyal ini. Misal, tim favoritnya kalah bertanding secara tidak terduga. Menurut studi, kekalahan tim favorit yang sudah diperkirakan (misal ketemu lawan yang lebih kuat) ternyata tidak memberikan efek stres. Yang memicunya adalah saat kita tidak menduga akan kalah. Kekalahan dari musuh bebuyutan, dapat meningkatkan stress lebih besar. Itu baru satu hal.

Stres tidak bisa kita hilangkan. Kita hanya perlu mengaturnya, sehingga keluarsaat benar-benar membutuhkannya. Karena kebanyakan terpicu dari ‘sinyal bahaya’ alias hanya membayangkan sesuatu itu berbahaya. Dan bukan benar-benar bahaya di depan mata. Kita perlu mengurangi sinyal itu. Lebih sedikit membaca berita, mengurangi berselancar di media sosial mungkin langkah awal yang baik. Dan kita hanya perlu berkonsentrasi apa yang ada di depan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.